SURIAH – Pusat Rekonsiliasi Rusia di Suriah mengatakan militan yang bersembunyi di pinggiran timur Ghouta, Damaskus, menembaki ratusan warga sipil yang mencoba melarikan diri dari daerah tersebut melalui sebuah koridor kemanusiaan.
“Hari ini, militan Jaysh al-Islam telah membubarkan lebih dari 300 warga sipil yang ingin melewati [keluar dari Ghouta timur] melalui koridor kemanusiaan di pinggiran utara-timur kota Douma,” kepala Pusat Rekonsiliasi, Mayor Jenderal Yury Yevtushenko, mengatakan pada hari Rabu (28/2/2018), dikutip RT.
“Orang-orang diserang,” katanya, menambahkan bahwa belum ada informasi mengenai jumlah korban di kalangan warga sipil sejauh ini. Menurut Pusat Rekonsiliasi, militan menyangkal orang-orang keluar dari zona tempur untuk hari kedua berturut-turut, mengancam siapa saja yang mencoba melarikan diri dari kematian.
Jaysh al-Islam, yang merupakan kelompok terbesar yang beroperasi di Ghouta timur dan Douma, telah menggunakan narapidana dari seorang tahanan lokal dan warga sipil untuk mendirikan posisi penembakan di luar koridor kemanusiaan.
Menurut militer Rusia, para teroris melepaskan 13 peluru mortir di daerah pemukiman Damaskus pada hari Rabu, menyebabkan luka-luka dan kerusakan. “Sembilan orang, termasuk tiga anak-anak, terluka di ibukota Suriah,” kata Yevtushenko.
Dia menambahkan jika tindakan para teroris yang beroperasi di Ghouta timur, yang merupakan titik panas saat ini dalam konflik di Suriah, menunjukkan keengganan mereka untuk mengikuti resolusi dan keinginan mereka untuk melanjutkan peperangan.
Pada hari Sabtu, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengadopsi sebuah resolusi dalam gencatan senjata 30 hari di Suriah. Namun, hal itu diabaikan oleh Jaysh al-Islam dan kelompok lainnya di Ghouta timur, yang terus menembaki Damaskus.
Sementara itu diberitakan sebelumnya AS juga telah menuduh pemerintah Suriah dan Rusia melanggar gencatan senjata karena masih terus menggempur wilayah yang terkepung tersebut.





