Rusia Sewot, Ukraina Membelot

RUSIA tidak menghendaki lagi-lagi negara sempalan eks-Uni Soviet “membelot”, bergabung dengan Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO), karena jika itu terjadi, negara “beruang merah” itu bakal “kesepian” dan terkepung dari berbagai penjuru.

Itu sebabnya, Rusia menempatkan sekitar 100-ribu anggota pasukan didukung tank-tank dan persenjataan berat di perbatasan Ukraina sejak beberapa hari terakhir ini, siap setiap saat menyerbu, didukung unsur-unsur Ukraina pro-Moskow.

Rusia dan Ukraina yang dulu bernaung di bawah kejayaan Uni Soviet,  saat ini di ambang perang terbuka pasca konflik bersenjata yang menewaskan sampai 15.000 orang akibat aneksasi sepihak Rusia terhadap wilayah Krimea di Ukraina, pada 2014.

Reuters melaporkan, konsentrasi unit-unit pasukan Rusia didukung kelompok proksinya atau separatis Ukraina tampak dalam beberapa hari ini di dekat sekitar wilayah Donbass sehingga dicemaskan memicu  konflik terbuka.

Sejauh ini sudah ada tiga negara eks-Soviet di Kawasan Laut Baltik (Estonia,Latvia dan Lithuania) yang bergabung ke dalam NATO dan ada dua lagi yakni Georgia dan Ukraina yang diajak, sehingga jika terjadi, tentu menjadi ancaman serius bagi Rusia.

Wamenlu AS Wendy Sherman dan Wamenlu Rusia bertemu di Wina, Austria (10/1) lalu guna membahas penempatan 100-ribu pasukan Rusia di dekat  wilayah Ukraina yang dicemaskan bakal memicu perang terbuka di daratan Eropa.

Tidak diketahui progres hasil pertemuan itu, namun Menlu AS Anthoni Blinken kepada CNN sebelumnya pesimistis pertemuan akan menghasilkan kesepakatan karena perbedaan tajam kepentingan AS dan Rusia .

AS merasa tidak melakukan pelanggaran apa pun jika ada negara yang ingin bergabung ke NATO, sebaliknya Presiden Rusia Vladimir Putin bersikeras meminta jaminan AS agar Ukraina tidak melakukannya, karena jika itu terjadi, negerinya praktis dikitari  oleh musuh (NATO-red).

Tidak Seimbang

Tanpa bantuan AS dan NATO, Ukraina yang sebelumnya mengandalkan pasokan persenjataan Uni Soviet bakal kewalahan menghadapi Rusia, mantan sekutunya seatap di bawah Uni Soviet di era Perang Dingin lalu.

Dari sisi anggaran pertahanan saja, Ukraina kalah jauh, berada di urutan ke-26 dengan nilai sekitar 5,4 milyar dollar AS (atau sekitar Rp 75,6 triliun), sebaliknya Rusia di ranking ke-2 setelah AS yakni 69,3 milyar dollar AS (sekitar Rp970 triliun).

AB Rusia berkekuatan dua juta personil tetap, sementara kekuatan konvensional matra daratnya a.l.  memiliki 12.000 tank tempur utama, 9.000-an pucuk artileri da 27.000 kendaraan lapis baja.

AL Rusia memiliki sekitar 400 kapal perang a.l. satu kapal induk, 12 destroyer, 11 fregat dan 80-an korvet serta 70 kapal selam termasuk bertenaga nuklir dan AU-nya dengan lebih 1.500 pesawat  seperti Sukhoi SU-57, SU-35, MiG-29, pembom seri Tupolev dan 359 helikopter.

Sementara AB Ukraina berkekuatan sekitar 875.000 personil,matra daratnya didukung 1.150 tank tempur (MBT) lawas peninggalan Uni Soviet seperti T-84, T-80, T-72 dan T-62.

Sedangkan matra udara Ukraina mengandalkan sekitar 231 pesawat, Sebagian besar peninggalan Soviet seperti pesawat tempur Sukhoi SU-27, SU-25 dan SU-24, MiG-29 dan 139 helikopter.

AL Ukraina hanya memiliki satu korvet dan belasan kapal patroli. Matra Laut Ukraina nyaris lumpuh setelah armada Rusia yang berada di pangkalan Svestovol ditarik pulang ke negaranya.

Walau jauh di atas angin, Rusia tentu harus berfikir beberapa kali untuk menyerang Ukraina, karena di belakangnya ada kekuatan NATO dipimpin AS.

Jika perang pecah, Rusia juga harus berhadapan dengan  30 negara anggota NATO pimpinan AS termasuk Estonia, Latvia dan Lithuania (sempalan Soviet) dan sejumlah negara bekas Pakta Warsawa yang juga membelot ke NATO.   (sumber kantor-kantor berita transnasional/ns)

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement