Saat Desa Tak Lagi Mampu Menghidupi Warganya

Banyak penduduk desa apalagi anak-anak muda yang berpendidikan, malah meninggalkan desanya dan memilih hidup di kota. Bahkan insinyur pertanian sekalipun juga enggan memajukan pertanian di desanya.

“Ini karena desa tidak lagi mampu memberikan kehidupan pada warganya,” kata Ekonom dari Universitas Airlangga, Surabaya, Dr. Tjuk K. Sukiadi kepada Swara Cinta, sesuai Focus Group Discussion (FGD) yang diadakan Kantor Berita Kemanusiaan (KBK) di Gedung Phylantropi Dompet Dhuafa, Pejaten, Selasa (26/1/2016) lalu.

Mantan Komisaris Semen Gresik dan PTPN ini menegaskan, permasalahan desa sangat kompleks, oleh karenanya penanganannya juga harus komprehensif. Berikut petikan wawancara dengannya.

Menurut Anda, apa masalah utama dari desa saat ini?

Kondisi desa saat ini, penduduknya masih hidup dengan cara-cara tradisional dan desa itu sendiri sudah tidak mampu memberi makan penduduknya. Apalagi kalau kita berbicara mengenai meningkatkan kesejahteraan, memberantas kemiskinan dan membuat bangsa ini lebih cerdas, maka sudah seharusnya desa digarap dengan benar. Pembangunan desa dan SDM-nya harus menjadi garapan utama.

Kalau demikian, bagaimana strategi pembangunan desa itu, apakah perlakukan pembangunannya sama dengan kota?

Tentu tidak demikian, persoalan desa itu tidak hanya masalah infrastruktur saja. Karena kita belum tahu potensi apa yang ada di desa itu. Seperti masalah pemerataan pembangunan misalnya, bicara pemerataan itu gampang, tapi bagaimana meratakannya? Itu tidak mudah.  Persoalan desa tidak di pemerataan pembangunan saja.

Dalam konsep ekonomi, orang yang bisa memiliki pendapatan adalah orang yang mempunyai kegiatan ekonomi. Nah untuk itu, kita harus tahu kegiatan ekonomi apa yang cocok bagi penduduk desa kita saat ini. Kalau pelatihan, pelatihan apa yang diperlukan mereka. Belum lagi kita membicarakan masalah pasar dari produk-produk desa.

Saat ini, desa tidak lagi menjadi tempat primadona untuk menjalankan aktivitas hidup sehari-hari. Kebanyakan penduduk desa banyak pindah ke kota, terutama anak-anak muda. Bahkan sarjana pertanian sekalipun juga enggan untuk memajukan pertanian di desanya.

Nah, untuk membangun desa ke depan, menurut Anda, apa perlu gerakan kembali ke desa?

Ini seperti gula dan semut.  Kalau desa itu didesain ada kegiatan ekonomi yang memberikan imbalan yang lumayan, maka dengan sendirinya mereka akan kembali ke desa. Apalagi dengan moda transportasi yang mudah saat ini, mereka tidak lagi khawatir untuk tinggal di desa jika mereka memiliki pendapatan.

Kenapa anak muda sekarang tidak mau tinggal di desa? Karena di desa tidak bisa memberikan mereka pendapatan yang layak, inilah kuncinya. Tinggal di desa itu menyenangkan, tapi karena tidak ada pendapatan jadi tidak ada yang mau. Bahkan di suatu desa, untuk mendapatkan upah kerja Rp35.000 per setengah hari saja juga susah.

 

Sudah triliyunan rupiah lebih, dana masuk ke desa, tapi desa juga tidak berkembang secara signifikan. Menurut Anda?

Puluhan bahkan ratusan triliunan dana dikucurkan ke desa sejak zaman dahulu, tapi tidak berkesan apa-apa. Itu makanya saya ajukan ke Dompet Dhuafa agar melakukan studi yang serius dan konfrehensif, kita buat studi yang melihat desa dari 5 tipologi. Dikategorikan pada desa yang maju, menengah dan tertinggal.

Dengan hasil studi tersebut, baru dilakukan intervensi yang tepat sasaran. Dengan adanya hasil studi itu, maka pembangunan di desa akan berjalan efektif. Selama ini pemerintah memang sudah banyak mengucurkan dana, tapi tidak efektif, makanya tidak ada perubahan.

Studi itu juga mengkaji bangaimana menghilangkan persepsi yang ada di masyarakat, bahwa selama ini kalau pemerintah yang mengucurkan dana ke desa dianggap hanya sekedar menghabiskan duit. Karena masyarakat desa berpikir, aparat pemerintahnya main-main, kenapa kami harus serius. Pendapat ini masih massif di desa.

Jadi jika Dompet Dhuafa masuk ke desa, atau yang masuk membangun desa bukan orang pemerintah, mungkin masyarakat desa akan lebih serius. Jadi kita datang ke sana benar-benar untuk mengembangkan desa, mereka juga serius menjalankan proyek pembangunan desa itu karena memang kita serius, tidak sekedar project oriented.

Menurut Anda, apa perlu pemerintah melepas proyek-proyek pembangunan desa ke swasta?

Iya, betul. Biarlah proyek-proyek pembangunan desa itu dilaksanakan oleh masyarakat atau LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) namun modalnya tetap dari pemerintah.  Jadi biarlah LSM yang benar, yang menangani proyek-proyek itu. Hal ini lebih efektif dari pada dilaksanakan oleh lembaga pemerintah yang disalahpersepsikan oleh masyarakat.

Pemerintah Jokowi sudah menganggarkan 1 milyar per desa, menurut Anda?

Saya sudah cek di salahsatu desa di Jawa Timur, sampai saat ini mereka baru terima sekitar Rp270 juta, mungkin akan menyusul. Masalahnya, tidak semua desa siap dengan ada dana juga.

Nah kita harus menyiapkan desa untuk merancang pembangunan desanya, ya ada duit tapi tidak tahu mau digunakan untuk apa, hal ini juga menjadi tidak efektif.

Saya banyak mendengar, banyak kepala desa yang ketakutan menerima duit 1 milyar itu. Mereka takut dipenjara dan diusut KPK. Jadi duit yang banyak itu penyerapannya jadi sedikit. Untuk itu perguruan tinggi, pemerintah dan swasta perlu membantu mempersiapkan SDM desa.

Benarkah dana desa tersebut sangat rentan dikorupsi?

Tetap ada 2 kemungkinan. Pertama, aparat desa yang cerdas ia menyiapkan bukti-bukti legal yang mendukung pengeluaran meskipun di lapangan berbeda tapi di sisi hukum ia selamat. Dan yang kedua, aparat desanya tidak berani sama sekali, sehingga mereka takut menerima duit untuk desa itu dan akhirnya penyerapan untuk pembangunan desa menjadi kurang.*

 

Advertisement