ATHENA—Jika Mustafa sudah tahu bagaimana kondisi di kamp pengungsian, ia tidak akan pernah meninggalkan rumahnya di Suriah. Empat bulan sudah ia tinggal di tenda pengungsian di dekat pelabuhan Pireaus. Ia menempati tenda yang rusak. Sangat tidak nyaman untuk ditinggali.
Mustafa pun menyesali keputusannya meninggalkan tanah kelahirannya di Aleppo, Suriah. Kini ia terlunta-lunta, menunggu begitu lama proses pemberian suaka. “Bagaimana pun (Aleppo) lebih baik daripada di sini,” ujarnya seraya meneteskan mata.
Mustafa (38) nampak lebih tua dari usia sebenarnya. Ia menolak memberi tahu nama lengkapnya kepada media. Hal serupa dilakukan pengungsi lainnya. Bersama istrinya, Nadia (37) Mustafa mendiami tenda kecil. Di wajahnya mengalir peluh. Suhu hari itu memang cukup panas dengan 35 derajat celcius.
Pasangan itu meninggalkan sebagian besar keluarga mereka di Suriah. Namun, Mustafa mendapat kabar, orang tuanya berhasil sampai di sebuah kamp pengungsi di Turki. “Kami tidak berpikir akan berada di sini dalam waktu lama. Namun hingga kini kami sama sekali belum diwawancari (untuk proses suaka),” ujarnya kepada tim Thomson Reuters Foundation, yang dikutip Kamis (4/8/2016).
Mustafa nampak putus asa dan depresi. Ia tak bisa membayangkan jika harus tinggal di tempat itu selama bertahun-tahun ke depan. “Kadang-kadang, aku (terpikir) ingin menggandeng tangan istriku dan melompat ke laut,” tuturnya.
Sejak tahun 2015, Yunani telah menjadi pintuk masuk utama ke Eropa bagi pengungsi dan imigran yang melarikan diri konflik dan kemiskinan di Timur Tengah dan sekitarnya. Kesepakatan antara Uni Eropa (EU) dengan Turki Maret lalu sebenarnya berhasil membendung arus migrasi di perairan Yunani. Namun demikian, masih saja ada yang lolos.
Selama 7 bulan terakhir, lebih dari 160 ribu orang tiba di Yunani dengan menyeberangi Mediterania. Setengah dari mereka berasal dari Suriah. Untuk menerima suaka di Eropa, imigran di Yunani harus melalui proses ketat dari EASO (Kantor Urusan Suaka Eropa). Sedikitnya dibutuhkan dua kali wawancara saat mereka di Yunani, serta satu kali wawancara tambahan di negara tujuan.
Waktu yang dibutuhkan untuk melalui tahapan ini sangat relatif. Tergantung pada kondisi tim verifikasi dan pewawancara. “Ada yang cepat, ada juga yang lambat. Sangat relatif,” ujar Iota Peristeri, salah satu pekerja EASO di Yunani.





