Sabar Menerima Takdir

Ilustrasi Masjid (Foto: AI)

JAKARTA, KBKNews.id – Iman kepada takdir yang mencakup qada dan qadar, merupakan salah satu dari enam rukun iman yang wajib diyakini setiap muslim. Kesempurnaan iman seseorang tidak akan terwujud tanpa keyakinan ini, sebagaimana sabda Nabi ketika ditanya Malaikat Jibril tentang iman, bahwa iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ » [أخرجه مسلم]

“Engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk“. (HR Muslim no: 8)

Para ulama kemudian menjelaskan bahwa iman kepada takdir ini mencakup empat perkara fundamental. Pertama, keyakinan bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu, baik yang telah, sedang, maupun akan terjadi. Kedua, keyakinan bahwa semua kejadian telah ditulis oleh Allah di Lauhul Mahfuzh jauh sebelum langit dan bumi diciptakan.

Ketiga, keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi semata-mata atas kehendak Allah, tidak ada satu pun yang luput dari kehendak-Nya. Keempat, keyakinan bahwa Allah-lah sang pencipta segala sesuatu, termasuk seluruh perbuatan hamba-Nya. Apabila keempat landasan ini tertanam kokoh dalam hati, maka sempurnalah iman seseorang terhadap takdir.

Buah Mengimani Takdir

Keyakinan yang mendalam kepada takdir ini melahirkan buah-buah keimanan yang indah dalam kehidupan seorang hamba. Yang pertama dan paling utama adalah hati menjadi tenang dan tentram. Orang yang beriman kepada takdir akan lebih mudah menerima setiap musibah yang menimpanya. Ketika kehilangan harta, lisannya spontan mengucap istirja’, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”, karena ia sadar bahwa itu semua adalah ketetapan Allah.

Sebaliknya, ketika mendapat nikmat, ia tidak pernah merasa sombong karena memahami bahwa semua itu hanyalah titipan dari-Nya. Inilah rahasia mengapa Al-Qur’an menjanjikan rahmat dan petunjuk bagi mereka yang mampu berkata demikian saat tertimpa musibah.

Iman kepada takdir menjadikan hati tidak mudah gelisah, tidak berlarut dalam kesedihan, dan tidak melampaui batas dalam kegembiraan. Buah kedua adalah tertanamnya sikap tidak pernah putus asa. Seorang mukmin meyakini bahwa musibah adalah ujian, bukan tanda kebencian Allah.

Bisa jadi melalui rasa sakit, kehilangan, atau kesempitan rezeki, Allah sedang menggugurkan dosa-dosa hamba-Nya. Dengan kesabaran, ia akan terus mencari hikmah di balik setiap ujian. Buah ketiga adalah terhindar dari sifat sombong saat meraih kesuksesan. Ketika kaya raya atau berprestasi, ia sadar sepenuhnya bahwa semua itu terjadi karena kehendak Allah semata.

Ia tetap bersemangat dalam berusaha, tetapi hatinya tidak pernah merasa paling hebat, sebagaimana firman Allah yang mengingatkan agar kita tidak bersedih atas apa yang luput dan tidak terlalu bergembira atas apa yang diberikan.

Keempat, iman kepada takdir justru memotivasi untuk tetap berusaha dan tidak pasrah tanpa ikhtiar. Memahami takdir tidak pernah berarti bermalas-malasan. Nabi justru memerintahkan kita untuk bersemangat dalam meraih hal-hal yang bermanfaat, memohon pertolongan Allah, dan pantang lemah.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here