SALAMAN itu kebajikan, kata budayawan Ahmad Sobari. Tapi jika salaman itu ada embel-embel atau tempel-tempel di dalamnya, justru berubah makna menjadi sebuah –maaf– kebajingan. Sebab negara selama ini menjadi rusak karena para pemangku kekuasaan doyan “salam tempel”, salaman yang bermuatan uang. Uang untuk membeli sebuah kebijakan atau aturan.
Menyikapi kunjungan raja Salman ke Indonesia, yang kemudian sang raja salaman dengan Gubernur Ahok, budayawan Kang Sobari menilai bahwa salaman adalah kebajikan, panggilan duniawi. Meski salaman raja Salman – Ahok itu hanya berlangsung beberapa detik, tapi mengandung makna bahwa raja Arab meridhoi Ahok yang non muslim menjadi Gubernur DKI Jakarta. Beliau ingin menunjukkan bahwa Arab juga negara yang plularisme, menentang intoleransi.
Terlepas dari pesan politik salaman antara raja Salman dan Ahok, salaman di Indonesia sejak era Orde Baru sesungguhnya sudah mulai tergradasi oleh nilai-nilai baru. Salaman tidak sekedar kebajikan duniawi, tapi juga bisa mengubah kebijakan, ketika……dari salaman itu ada tempel-tempel di balik tangan kanan tersebut. Dan inilah budaya yang sudah berkembang sejak era Orde Baru: salam tempel!
Salaman atau berjabatan tangan, awalnya adalah simbol persahabatan. Sedari balita, orangtua kita selalu mengajari “salim” pada setiap orang yang baru dijumpai. Dan sebagaimana kata Kang Sobari, salaman memang sebuah kebajikan yang merupakan panggilan duniawi. Lewat bersalaman, dua sosok manusia menunjukkan sikap saling menerima, bersahabat. Ini sudah menjadi simbol masyarakat dunia seluruhnya.
Jangankan manusia, semut pun mengenal juga budaya “salaman” itu. Setiap ketemu iring-iringan semut lain, mereka akan saling “salaman” dengan adu muka. Jika dilihat pakai mikroskop, mungkin juga kaki depan mereka saling berjabatan, menunjukkan keakraban antara bangsa semut. Mereka tetap bersahabat, ada Pilkada maupun tidak.
Salaman bangsa semut selalu tulus. Beda dengan manusia, banyak juga salaman politik, salaman penuh basa-basi. Yang tampak di muka, tidak berbanding lurus dengan sikap di hati. Lebih-lebih salaman kalangan politisi, bisa bermakna macam-macam, sebab dalam salaman itu selalu ada pertanyaan: saya beri kamu, tapi aku dapat apa?
Salaman orang kondangan, di era gombalisasi ini juga tak menjadi tulus 100 persen. Banyak yang punya target “salam tempel” di dalamnya. Bahkan kadang, tak kenal pun diundang karena butuh salam tempelnya tersebut. Karena tak lagi tulus itulah, banyak orang punya gawe yang kemudian mencatat satu persatu nama penyumbang termasuk berapa nominal sumbangannya, untuk dikembalikan dengan jumlah yang sama pada saatnya nanti. Bahkan paling tidak beretika, dalam undangan tega menulis kata-kata: kami lebih berterima kasih menerima sumbangan bentuk uang ketimbang kado.
Tetapi paling celaka sekaligus biadab, adalah “salam tempel” yang banyak terjadi antara penguasa dan pengusaha. Ini salaman yang jauh dari kebajikan, tapi justru tersesat menjadi –sekali lagi maaf– kebajingan. Ini salaman yang bermakna korupsi. Ini salaman yang semula kebajikan, justru berubah untuk membeli kebijakan. Sebab dengan “salam tempel” tersebut bakal lahir kebijakan-kebijakan yang menguntungkan sang penguasa (pejabat).
Sejak era Orde Baru salaman yang mereduksi kebajikan jadi kebajingan itu terjadi. Kontraktor agar dimenangkan dalam proyek, harus ada “salam tempel”-nya. Wartawan pun, karena salam tempel alias amplop bisa mengubah kebijakan redaksi. Para penegak hukum –biasanya disebut oknum– dari polisi, hakim, jaksa, pengacara; banyak yang melakukannya. Akibatnya urusan negara tak kunjung beres. Meski KPK terus sibuk nangkepi orang, tapi korupsi juga tetap ada selama ada KPK. (Cantrik Metaram)





