Saling Bunuh Gara-Gara Mis-Komunikasi Budaya

Ilustrasi: Saling Bunuh

 

Raden Ayu Cakraningrat, istri Pangeran Cakraningrat, adipati Madura, berhubung belum tahu adat istiadat orang Belanda  begitu dipegang tangannya yang kemudian dikecup oleh Kapten (kapal) Kartas  menjerit, badannya gemetar, minta tolong kepada suaminya.

Begitu mendengar jeritan istrinya, Cakraningrat sangat terkejut , matanya melotot, sangat marah, segera  menghunus keris, Kapten Kartas ditusuk lambungnya, mati seketika . Kompeni seluruh kapal geger, mengerubut sang pangeran dan puteranya yang sedang mengamuk.

Kisah itu tertulis dalam buku Babad Tanah Jawi (Sejarah  Tanah Jawa),  karya penulis Belanda W.L. Olthof, di Leiden, Belanda pada tahun 1941.

Alkisah, setelah itu terjadi perang tanding seru, baku bunuh  antara pasukan Madura dan kompeni. Pangeran dikerubut, dipistol, dipedang, tetapi lecet pun tidak, tulis buku itu,  justru kompeni banyak yang mati. Para pembesar Belanda datang menolong, mengerubut Pangeran. Cakraningrat dilempar kursi, jatuh terduduk, lalu dipukul dengan popor senjata, digebuk dengan tongkat. Remuk redam seluruh badannya dan meninggal beserta seluruh puteranya.

Jenazah sang Pangeran lalu dipotong lehernya. Badannya dibuang ke laut, kepalanya dibawa kompeni ke Surabaya beserta   istri dan anaknya yang masih kecil-kecil.

Ada ungkapan Jawa yang berbunyi  “sadumuk bathuk, sanyari bumi dilabuhi tekaning pati”. Artinya, jangan sentuh istri orang lain dan ambil dan kuasai lahan (bumi) milik orang lain walau selebar jari tangan, akan dibela sampai  mati. Sementara itu, dalam adat istiadat Barat,  termasuk Belanda, memegang tangan istri tamu dan mengecupnya sebagai tanda penghormatan yang tinggi dari tuan rumah kepada tamunya.

Aksi “carok”, membunuh dengan menggunakan celurit  yang banyak terjadi di Madura dulu, konon penyebab utamanya karena gangguan terhadap kehormatan istri. Untuk menghindari peristiwa yang tidak diinginkan, Islam mengajarkan jangan bersentuhan antara, lain jenis dewasa, kecuali dengan muhrimnya.

Pemicu terjadinya peristiwa tragis yang menimpa Sang Pangeran itu juga  soal wanita.  Awalnya, Cakraningrat  berperang  melawan menantunya, Arya Dikara , yang berkuasa di Pamekasan. Penyebab perang  adalah  Arya Dikara berselisih dengan istrinya, anak Cakraningrat. Sang istri pulang ke rumah orang tuanya dan dipertahankan oleh Cakraningrat. Meletus perang setiap hari dan banyak yang mati, sesama orang Madura.

Cakraningrat bingung, lalu mengutus adiknya,  Suradiningrat,  untuk memaklukkan  Pamekasan.  Tapi, di tengah jalan Suradingrat berubah pikiran, berniat kudeta, ingin menundukkan kakaknya.  Ia minta bantuan Ki Patih Cakra Jaya dari kerajaan Kartasura (Mataram) dan Kumendur (komandan Kumpeni) Amral Brikman. Ia menfitnah kakaknya, Cakraningrat, akan makar kepada Raja Kartasura.

Ki  Patih memerintahkan Suradiningrat untuk menangkap kakaknya, sementara Tuan Kumendur perintahkan Kapten Kartas bersama serdadu dengan kapalnya. Cakraningrat terdsesak dalam kesulitan karena dikeroyok pasukan gabungan Kartasura dan Belanda. Ia berniat untuk takluk kepada Kapten Kartas yang ada di kapal dengan mengirim utusan dan akan segera sowan kepada Patih Cakra Jaya.

Kartas menyambut gembira penyerahan Cakraningrat dan minta agar ia segera menuju kapal. Pangeran naik kapal terlebih dulu, disambut penuh hormat oleh Kartas dengan dentuman meriam , dipersilahkan  duduk di ruang pribadi. Istri dan anak-anak  sang Pangeran menyusul naik kapal, disambut Kartas di luar ruang pribadi dengan memegang dan mengecup tangan Raden Ayu sebagai tanda  penghormatan dan sekaligus penyulut malapetaka itu.

Lebih pluralis, multi-kultural

Mungkin,  masih ada perang lain yang memakan korban banyak jiwa dan harta akibat miskomunikasi budaya?

Bangsa Indonesia  28 Oktober 2016 memperingati hari Sumpah Pemuda ke 88. Sumpah Pemuda  menabalkan seluruh anak bangsa  yang mendiami kepulauan Nusantara berbangsa, bertanah air dan menjunjung tinggi bahasa persatuan: Indonesia. Sumpah itu mengakomodasi multi-perbedaan: ras, suku, budaya dan agama, menjadi satu Indonesia.

Karena sumpah itu,  manusia Indonesia seharusnya berjiwa pluralis dan multi-kultural.  Berkat sumpah itu pula, para Pendiri Bangsa (Bapak-bapak dan Ibu-ibu) memilih semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan dasar negara Pancasila. Sistem demokrasi berdasar Pancasila mencoba  mencegah dominasi mayoritas dan tirani minoritas. Kuncinya adalah toleransi, saling memahami, saling menghormati, demi kelangsungan persatuan Indonesia.

Peranan pemimpin agama, budaya,  partai politik dan organisasi massa di negara pluralis dan serba multi ini sangat penting untuk mempertahankan soliditas anak bangsa. Yang pertama dan utama, para pemimpin harus pandai menjaga mulut (omongan) nya yang bisa menyulut kerusuhan berbasis perbedaan SARA (suku, agama, ras dan antar golongan), istilah paling top di jaman Orba.

“Mulutmu  adalah harimaumu”, kata almarhum Muchtar Lubis, wartawan senior saya, mengingatkan. Dalam bahasa gaul  di media sosial kini, peringatan itu mungkin berbunyi: “Jangan bermulut ember!”  Pak Harto lebih senang memakai ungkapan bahasa Jawa: “jangan asal njeplak” (buka mulut).

Kini Indonesia telah berada di tengah pusaran era golobalisasi. Artinya, anak bangsa ini dituntut bersikap lebih pluralis dan multi-kultural untuk menghindari  terjadinya malapetaka akibat mis-komuikasi budaya seperti yang menimpa Raden Ayu Cakraningrat dan keluarganya itu.

Advertisement