BERGEMING dari kecaman komunitas internasional, Korea Utara tetap melakukan ujicoba rudal KN-15 Pukguksong-2 (Bintang Utara) , sedangkan seterunya, Korea Selatan memayungi diri dengan sistem rudal anti rudal THAAD buatan Amerika Serikat.
Pukguksong, jenis rudal jarak menengah berbahan bakar padat yang baru dikembangkan oleh Korut, dalam ujicoba tersebut kabarnya dilakukan dari pusat peluncuran di Sinpo, Pyongyang (5/4) dan berhasil mencapai ketinggian 60 Km.
Dalam ujicoba sebelumnya pada Ferbruari lalu, Pukguksong yang dirancang untuk menjangkau sasaran sejauh 2.000 Km dan berkemampuan memuat hulu ledak nuklir, berhasil melayang sebelum jatuh di Laut Jepang, sekitar 500 km dari titik peluncuran .
Tidak hanya Korsel, seteru, tetangga dan juga bangsa serumpun dengan Korut, Jepang juga merasa cemas atas ulah Korut yang terus melakukan provokasi ancaman perang di kawasan Laut Timur itu.
Pemerintah Korsel mengecam ujicoba rudal Korut yang dinilai melanggar resolusi DK PBB dan bersumpah akan melakukan meresponsnya dengan keras, sedangkan Jepang mengajukan protes karena menganggap aksi Korut, profokatif dan ancaman serius terhadap negaranya.
Tidak hanya sebatas saling gertak, AS selain mengirim sistem pertahanan rudal anti rudal di Ufuk Tinggi (Terminal High Altitude Area Deffence – THAAD) dan juga menggelar latihan besar-besaran bersama Korsel khusus untuk menguji keandalan satuan-satuan artileri.
Berbeda dengan sistem anti rudal seperti Patriot yang sudah digelar AS di Korsel dan Jepang sebelumnya, THAAD tidak memuat hulu ledak, namun bekerja dengan sistem kinetik dengan menabrak rudal lawan.
Sistem THAAD yang terdiri dari kendaraan peluncur (berisi enam tabung rudal), mobil komando dan sistem radar buatan Lokheed Martin Space Sistems mampu menjatuhkan rudal di ketinggian 150 km dan berjarak 200 km. Satu unit lengkap system THAAD dibandrol dengan harga 11 juta dolar AS (sekitar Rp146 milyar).
China cemas
Yang merasa cemas digelarnya sistem anti rudal THAAD di Korsel bukan hanya Korut, tetapi juga China, mengingat radar yang digunakan untuk memandu sasaran dalam sistem THAAD mampu mengendus gerakan lawan di sarangnya.
Dengan radar yang mampu melacak obyek dalam radius 2.000 km, menurut pakar keamanan Universitas Tsinghua, Beijing Li Bin, lokasi rudal-rudal yang digelar China di wilayahnya akan terdeteksi, sedangkan bagi Korut, persiapan yang dilakukan untuk peluncuran rudalnya, juga bisa ketahuan.
China diam-diam terus mengembangkan kekuatan militernya termasuk rudal-rudal balistik yang mampu memuat hulu ledak nuklir, misalnya seri rudal Dong Feng a.l DF-26 berjangkauan 500 Km yang mampu memuat 1,2 sampai 1,8 ton nuklir atau DF-21 yang didisain khusus untuk menenggelamkan kapal induk.
Digelarnya sistem rudal anti rudal THAAD di wilayah Korsel yang radarnya mampu mengendus posisi-posisi rudal milik China yang digelar di dalam wilayahnya, jelas membuat perimbangan kekuatan militer di kawasan ini terganggu dan kerugian ada di pihak China.
Perlombaan senjata tentu saja akan menguras anggaran negara yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, terutama warga Korut yang sebagian mengalami malnutrisi atau kurang gizi.
PBB dan masyarakat internasional pun ragu untuk mengulurkan bantuan kemanusiaan pada rakyat Korut, karena khawatir pemerintah negara itu akan menggunakan anggaran yang mereka miliki untuk membiayai ujicoba rudal.
Pilihan terbaik sebenarnya ialah jika pemimpin kedua Korea mengedepankan kepentingan rakyatnya, melakukan proses rujuk untuk hidup berdampingan secara damai.
(AP/AFP/Reuters/NS)





