DAYA TARIK wisata ternyata tidak hanya ditentukan oleh keunikan atau keindahan obyek wisata yang ditawarkan, serta prasarana dan sarana penunjangnya,tetapi juga kebersihan toilet-toilet di tempat umum.
Itu agaknya yang disadari benar oleh pemerintah China dengan menyediakan toilet umum yang bersih dan nyaman melalui inovasi teknologi, tetapi tetap efisien dari sisi biaya.
Gerakan “revolusi toilet” dilancarkan pemerintah negara tirai bambu itu dalam upaya merespons permintaan publik terhadap layanan fasilitas umum yang lebih baik, termasuk toilet umum.
Pasalnya, dari pengalaman yang sudah-sudah, penggunaan tisu di toilet-toilet umum selama ini dianggap boros, karena gratis, sebagian pengguna memakai tisu sebanyak mungkin, malah kerap dimasukkan ke dalam tas, untuk sekedar berjaga-jaga jika di tempat lain kertas pembilas itu tidak tersedia atau habis.
Solusinya, dengan teknologi scanning atau pemindai wajah, pengguna toilet hanya dapat menarik tisu secukupnya dari mesin otomatis yang tersedia yakni sepanjang 60 sentimeter . Pengguna tidak bisa menarik gulungan toilet lagi kecuali ia menanti sembilan menit kemudian dengan mengulangi scanning.
Pemerintah setempat kabarnya mengalokasikan dana 25 milyar RMB atau sekitar Rp49 triliun untuk program “revolusi toilet” termasuk untuk membangun 34.000 unit toilet umum baru dan merenovasi 23.000 toilet lama yang tersebar di berbagai tempat-tempat keramaian publik di kawasan kota Beijing.
“Wisawatan ingin santai atau bersenang senang datang kemari, tetapi kalau toiletnya menjijikkan, bagaimana mereka bisa menikmatinya, “ kata pengelola pimpinan taman hiburan Happy Valley di Beijing yang banyak dikunjungi wisatawan, Li Xiangyang.
Joroknya kondisi toilet terutama di tempat-tempat umum, memang tidak bisa dianggap sepele, selain raibnya potensi meraup devisa dari kunjungan wisata, bahkan lebih parah lagi, bisa menjadi stigma buruk terhadap citra bangsa.
Di Indonesia, memprihatinkan
Selain jumlahnya tidak cukup, kondisi kebersihan toilet-toilet umum di Jakarta maupun kota-kota lainnya di Indonesia sangat memprihatinkan. Buktikan saja misalnya di terminal-terminal bus, di kantor-kantor instansi pemerintah di daerah, kedai-kedai makan dan lokasi keramaian lainnya.
Hanya di stasiun-stasiun KA, ada perbaikan cukup signifikan dalam kebersihan, walaupun ketersediannya sering tidak mencukupi, terutama di stasiun-stasiun kecil KA Commuter di wilayah Jabodetabek.
Buruknya kebersihan dan sanitasi di Indonesia termasuk toilet di kawasan wisata pantai dan pegunungan tercermin dalam Indeks Daya Saing dan Perjalanan Wisata (TTCI) yang menempati peringkat 109 dari 141 negara yang disurvei.
Khusus di kawasan Jabodetabek, menurut survei harian Kompas, masyarakat lebih banyak memanfaatkan toilet-toilet umum yang tersedia di mall-mall, pusat perbelanjaan dan stasiun pompa bahan bakar umum (SBPU) yang relatif cukup bersih dan cukup jumlahnya.
Yang cukup memprihatinkan, kondisi kebersihan toilet di sebagian masjid-masjid terutama di daerah-daerah, padahal jelas-jelas disebutkan di ayat suci al-Qur’an, kebersihan setengah dari iman. Ada baiknya jika Majelis Umat Islam (MUI) memelopori gerakan kebersihan di masjid-masjid dan mushola-mushola.
Menteri Pariwisata Arief Yahya mengakui dan menyebutkan, kondisi toilet-toilet di kawasan pariwisata di Indonesia umumnya pada tingkat yang memalukan.
Sementara Presiden Jokowi saat berbincang-bincang dengan wartawan seperti dimuat di Kompas (13/12) memimpikan kebersihan toilet-toilet di kawasan tujuan wisata Indonesia suatu saat nanti setara dengan fasilitas di hotel-hotel berbintang lima.
Emoh datang
Presiden Suharto konon pernah bertanya pada Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi saat itu, Joop Ave mengenai anjloknya jumlah kunjungan wisata ke Sumatera Utara.
Setelah diteliti, ternyata penyebabnya karena para pelancong mengeluhkan kondisi toilet-toilet di wilayah itu. Sekitar satu setengah dekade setelah Suharto lengser, kondisi toilet di tempat-tempat umum, kawasan wisata dan di instansi-intstansi pemerintah di Sumut saat ini juga belum banyak berubah.
Contoh saja Malaysia. Dengan sumberdaya wisata yang terbatas, negara jiran itu mampu mendatangkan sekitar 30 juta wisatan asing setahun, sebaliknya Indonesia dengan sumberdaya wisata melimpah ruah, “ngos-ngosan” untuk menargetkan 15 juta wisatawan atau separuh dari yang bisa diraih Malaysia.
Lebih banyak devisa kemungkinan bisa diraup dari sektor pariwisata jika prasarana, sarana, keterjangkauan, keamanan dan kenyamanan termasuk kebersihan toilet umum dibenahi.
Lebih dari itu, kebersihan toilet, juga bisa menginspirasi bangsa ini untuk melakukan “bersih-bersih” lain. “Bersih-bersih spiritual” untuk bersikap toleran dan “fair” dalam memaknai perbedaan dan untuk tidak berperilaku korup atau melakukan aksi-aksi “kotor” lainnya.
Mari kita mulai dari kebersihan toilet!





