SAMBA NGAYAWARA

Raden Samba dicuci otaknya oleh Begawan Durna, rektor Unlima (Universitas Sokalima)

DALAM dunia perwayangan, ada aturan tak tertulis, maksimal raja hanya boleh beristri tiga. Patuh pada UU Perkawinan gaya wayang, maka bini Prabu Kresna hanyalah: Jembawati, Rukmini dan Setyaboma. Tapi lantaran hasrat syahwatnya memang masih tinggi, diam-diam beliaunya punya WIL (Wayang Idaman Lain) Dewi Pertiwi. Hasil perkawinan siri dengan putri Hyang Gedawanganala tersebut, lahirlah Setija yang telah mandiri menjadi adipati Trajutrisna dengan gelar Prabu Boma Narakasura.

Anak kedua Prabu Kresna bernama Samba Wisnubrata. Meski sudah berusia 25 tahun dia belum mau tinggal di luar Istana Dwarawati, dia masih bersama sang ibu Dewi Jembawati. Hebatnya dia, dia punya naluri bisnis yang kuat. Tanpa merasa jaim (jaga image) dan jagsi (jaga gengsi), dia buka usaha katering “Andrawina” yang laku keras. Setiap Sabtu-Minggu di mana banyak wayang mantu, order membanjir. Tapi uniknya, ketika Istana Dwarawati hendak menggelar pesta HUT negeri Dwarawati ke-74, dia menolak order langsung dari Patih Udawa.

“Kenapa angger Samba tak mau terima pesanan Istana Dwarawati. Lima ribu porsi kan lumayan, bisa menambah margin Anda. Saya mah, diberi komisi berapa saja terserah angger Samba sajalah….” Kata Patih Udawa, tapi pada ujung kalimat itu tekanan suara diperkecil, bisik-bisik saja.

“Bukan begitu, paman Udawa. Saya tidak mau terjebak konflik kepentingan, dituduh KKN, mentang-mentang putra raja Dwarawati. Jadi maaf paman Udawa, silakan pesan ke katering lain saja.” Jawab Raden Samba tegas.

Wah, rakyat Dwarawati pun semakin terkagum-kagum atas sikap Raden Samba, sosok wayang yang ogah manfaatkan jabatan raja sang ayah. Padahal wayang lain, ketika ayahnya menjadi penguasa, rata-rata minta fasilitas. Usaha perkebunan cengkih minta monopoli pasokan ke pabrik rokok, tender proyek Telkom minta dimenangkan. Berani menghambat bisnis putra raja, jangan tanya resikonya.

Tiba-tiba Unlima (Universitas Sokalima) milik Begawan Durna, menggelar survey pemilihan adipati Parang Garuda. Ada dua  tokoh yang dipersandingkan, yakni Tumenggung Jaya Antaka dengan Raden Samba Wisnubrata. Ternyata, baik elektabilitas maupun popularitas, putra Prabu Kresna ini sangat diunggulkan. Dengan peserta jajak pendapat 1.000 wayang, margin eror sekitar 10 persen, survey menempatkan elektabilitas dan popularitas Samba mencapai 70-75 persen, sementara Tumenggung Jaya Antaka hanya 45-50 persen.

“Begitu tinggi harapan rakyat Parang Garuda, maukah Raden Samba maju dalam pemilihan adipati Parang Garuda tahun depan?” tanya pers sambil mengatung-atungkan mikropon ke mulut Raden Samba.

“Kan masih lama, nanti saja kalau sudah dekat pendaftarannya, saya diberi tahu ya.” Jawab Samba, terkesan hanya basa-basi, karena tak mau keceweakan media massa.

Publik di Parang Garuda dan Dwarawati mengacungi jempol, ternyata Samba tak tergoda oleh iming-iming kekuasaan. Jawaban dia kepada pers bisa ditarik kesimpulan bahwa sesungguhnya dia tak tertarik pada politik, mau fokus mengurus bisnis kateringnya.

Begawan Durna sebagai rektor Unlima, dengan alasan mau pesan katering untuk acara wisuda di kampusnya, menemui langsung pemilik katering “Andrawina” tersebut. Setelah harga deal, Begawan Durna mulai ngompori Raden Samba, untuk serius menyikapi pilihan Adipati di Parang Garuda. Mumpung elektabilitas sedang tinggi-tingginya, peluang itu jangan dilepaskan. Jika Betara Kresna sudah tak menjabat raja Dwarawati, bisa saja elektabilitas dan popularitas Samba meredup.

“Nggak lah Mbah, saya pengin fokus bisnis katering saja, tak mau terjun ke politik,” jawab Raden Samba lugas dan jelas.

“Pantesan, Rocky Gerung menyebutmu dungu! Jadi adipati, masih ada peluang bisnis katering. Tapi sekedar pebisnis katering, peluangnya kecil ikut Pildip (pilihan adipati) jika bapakmu sudah tak jadi raja Dwarawati. Ingat kata Mario Teguh, peluang itu takkan datang dua kali.” Ujar Begawan Durna memberi samangat.

Begawan Durna punya argumentasi, ketika Perang Baratayuda Jayabinangun semakin dekat, dia sebagai botoh Pendawa harus resign dari jabatan Raja Dwarawati. Plt-nya nanti bisa Patih Udawa, bisa Haryo Setyaki. Seiring dengan lengsernya Prabu Kresna, otomatis popularitas Samba juga terkerek turun.

Di kala Begawan Durna tengah memprovokator Raden Samba, sukma jin Jaramaya dari Pasetran Gandamayit tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam sanubari Samba. Akhirnya dia mau menelan mentah-mentah saran Begawan Durna itu. Boleh juga jadi adipati Parang Garuda. Mengelola kadipaten yang APBD-nya sampai Rp 5 triliun, itu lumayan besar. Apalagi PAD (Pendapatan Asli Daerah) juga cukup tinggi.  Jika jadi adipati nanti, dana operasional adipati kan bisa dibawa pulang. Jumlahnya pasti lebih gede ketimbang keuntungannya bisnis katering.

“Oke Mbah Durna, kalau begitu saya pengin juga ikut Pildip 2020.”

“Nah, begitu dong! Anak muda, selalu semangat menggapai masa depan. Unlima siap jadi buzzer kamu, yang jauh lebih militant dari kecebong dan kampret.”

Demikianlah, Raden Samba memantapkan diri ikut Pildip 2020, memperebutkan jabatan  Adipati Parang Garuda. Agar bisa fokus pada ambisinya, bisnis katering “Andrawina” diserahkan pada Setyaka, adik kandung dari perkawinan Kresna – Dewi Setyaboma. Dan hari itu juga dia pesan spanduk banyak-banyak di toko print digital, lalu dipasang di jalan raya Slamet Riyadi di wilayah Parang Garuda, dari ujung Nggladag sampai Purwosari.

Dengan penuh percaya diri Raden Samba mendaftar ke KPUD Parang Garuda. Tapi sayang seribu sayang, pendaftaran sudah ditutup dengan calon Tumenggung Jaya Antoko dan Tumenggung Jagal Kelasa. Bahkan nama mereka sudah diundi, dapat nomer 01 atau 02.

“Wah, kenapa Mas Samba tak kemarin-kemarin mendaftar. Ini sudah tutup je Mas, bagaimana kalau 5 tahun mendatang saja. Kalau sudah pengalaman berpolitik dan tentu nantinya lebih joss…..” kata Ketua KPU Rangga Dibyo Pangarso.

“Apa nggak bisa diseselin, saya putra raja Dwarawati masak nggak dapat dispensasi.”

“Nggak bisa Mas Samba. KPU tak boleh diskriminatif, bisa bahaya saya.”

Raden Samba keluar dari KPUD Parang Garuda sambil banting pintu. Dia kecewa berat karena ambisinya jadi adipati terganjal aturan yang sudah harga mati. Tapi bukan Samba Wisnubrata namanya, bila langsung menyerah pada nasib. Diapun segera terbang ke kahyangan Jonggring Salaka sowan Betara SBG (Sanghyang Betara Guru). Tujuannya minta keputusan KPUD Parang Garuda bisa dianulir.

“Kamu mimpi apa, kok tiba-tiba kepengin jadi adipati? Memangnya kateringmu “Andrawina” sedang kolaps dimakan internet?” SBG bertanya penuh selidik.

“Samba mohon bantuan Pukulun, pendaftar Pildep 2020 supaya dibuka kembali di Parang Garuda, untuk membuka peluang anak muda mengubah zaman.” Jata Samba sombong sekali.

“Ya ndak bisalah, aturan itu universal, berlaku atas siapa saja, nggak peduli dewa nggak peduli umat ngercapada.”

Raden Samba berusaha merayu-rayu SBG. Kalau wayang biasa diamplopi uang segepok juga lumer. Tapi SBG, dewa kahyangan masak mau disogok juga? Walhasil kunjungan ke Jonggring Salaka gagal total tak membawa hasil. Sebelum pulang malah diberi nasihat, agar belajar politik dulu. Diberinya buku-buku tebal karya Sanghyang Wenang, misalnya “Dibawah Bendera Kahyangan” dua jilid yang semuanya setebal bantal, juga buku “Kahyangan Menggugat” dan “Tujuh Bahan Pokok Induktrinasi Politisi”.

“Belajar politik dulu, baru nanti boleh jadi adipati. Kencing saja belum lempeng kok mau jadi Kepala Daerah.” Sindir SBG.

“Buku-buku tebal begini buat apa? Baru lihat wujudnya saja, capek deh….” Batin Raden Samba.

Foto Raden Samba terima buku-buku setebal bantal dari Jonggring Salaka, viral di medsos. Rakyat kecewa dengan sikap Samba. Dulu simpati sikapnya yang berdikari, pantang manfaatkan jabatan sang ayah. Tapi sekarang, publik atau netizen mengomentari dengan jempol nungging. Gara-gara ini, Prabu Kresna langsung telpon ke putra nan sombong itu. “Batalkan niatmu itu. Bikin malu bapak saja. Itu namanya ngayawara (mustakhil). Sabar dikit kenapa, tunggu bapak selesai jadi raja Dwarawati.” (Ki Guna Watoncarita).

Advertisement