Sambut Musim Hujan, Warga Langganan Banjir di Bandung Mulai Khawatir

Ilustrasi banjir di Pagarsih tahun 2017

BANDUNG – Musim hujan sudah di depan mata, dan menjadi bayang-bayang warga Bandung yang pernah mengalami masa sulit dikepung banjir di tahun-tahun sebelumnya.

Sebut saja, banjir bandang yang datang pada 21 April 2018 lalu menjadi ­pengalaman paling buruk ­sepanjang tahun ini bagi warga ­Kelurahan Pagarsih, Kecamatan ­Astanaanyar, Kota ­Bandung.

Tokoh warga Pagarsih, Bahtiar Rachmat Effendi (78), menutur­kan bahwa yang dikhawatirkan sejak awal adalah kondisi sungai dangkal dan lebar sungai menyempit di hilir, sehingga ketinggian muka air banjir semakin menenggelamkan permukiman mereka.

Kecamatan Astanaanyar menjadi wilayah terdampak banjir ­paling buruk saat hujan deras mengguyur Kota Bandung. Sekurang­nya 200 keluarga menderita karena ratusan rumah yang mereka huni diterjang derasnya banjir.

Wilayah RT 2, RW 7, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Astana­anyar, menjadi zona langganan banjir sejak dahulu. Permukiman mereka berada di sekitar Sungai Citepus. Permukim­an mereka ber­ada di dataran paling rendah di kawasan seputaran Pagarsih, ­dengan radius 200 meter dari Sungai Citepus.

Sementara di timur Bandung, warga yang bersiap menghadapi banjir adalah penghuni perumahan Adipura, Gedebage.

Ketua RW 8 Kelurahan Rancabolang, Kecamatan Gedebage, Oping Arifin (56) menuturkan, dalam menghadapi banjir warga sudah terbiasa menyiapkan karung, perahu, serta tenaga untuk gotong royong. Cluster Pinus yang ia huni selama 11 tahun menjadi lokasi paling rendah di antara cluster lainnya.

Ada 400 rumah di cluster itu. Jika musim hujan tiba, air mulai masuk dari saluran air di belakang tembok perumahan. Diduga air yang seharusnya tersalur ke Sungai Cinambo, sekitar 700 meter dari lokasi hunian itu, tertahan akibat derasnya arus air di Sungai Cinambo.

”Dari 400 rumah, sekitar 70% yang terkena dampak banjir. Kami juga menduga lingkungan sekitar perumahan yang dulu menjadi daerah resapan air, sekarang sudah menjadi bangunan-bangunan dan jalan,” ujarnya, dikutip Pikiran Rakyat, Selasa (30/10/2018).

Menurutnya warga setempat masih bersiap melalui grup aplikasi percakapan. Setiap warga melaporkan kondisi cuaca di sekitar perumahan, atau berbagi informasi jika di daerah lain mulai hujan deras.

”Warga selalu menyiapkan karung sampai lilin untuk menyumbat celah rumah jika banjir sewaktu-waktu datang. Perahu punya Dinas Kesehatan juga disiapkan. Alhamdulillah setiap meng­hu­bungi tim cepat tanggap Pemkot Bandung langsung sigap,” tutur Oping.

 

Advertisement