Seperti ada yang menggerakkan, dengan reflek, kakinya berayun ratusan langkah ketika tiba-tiba dinding rumah begetar diiringi bunyi gemuruh. Hari itu, matahari masih belum sempurna terlihat, sautan kokok ayam pun masih nyaring terdengar, tapi semuanya berubah dengan teriakan dan tangisan.
“Ndang metu, ono lindu,” terdengar suara lantang ayahnya, yang diingat Subadar.
Semua menjadi kacau, semua berlari tak beraturan, dan semua mencoba menyelamatkan diri, mencari tempat perlindungan yang paling tinggi. Tayangan berita tentang Aceh dua tahun sebelumnya begitu membekas di benak warga. Olehnya, tak perlu lagi memverivikasi berita
itu, semua tunggang lenggang menyelamatkan diri.
Kejadian gempa tektonik berkekuatan 5,9 SR yang mengguncang Yogyakarta dan Bantul sepuluh tahun lalu masih melekat di ingatan Subadar. Meski keluarganya tak ada yang menjadi korban, namun kesedihan tetap merasuki. Karena rumah yang selama ini menaungi hancur berkeping. Demikian pula rumah-rumah yang berada di sekitarnya. Diketahui 80 persen rumah dan infrastruktur desa rusak, 12 orang tetangganya diketahui wafat akibat bencana itu.
Bencana Gempa Jogja 2006 juga membawa kesan tersendiri bagi Badar, demikian ia akrab disapa. Dari peristiwa inilah Badar kemudian mengenal dunia kerelawanan. Saat desanya porak poranda, banyak lembaga kemanusiaan yang datang untuk membantu, salah satunya Dompet Dhuafa. Tidak sekedar menyalurkan bantuan, Dompet Dhuafa juga mengajak warga, utamanya pemuda untuk bangkit dan bergerak membangun kembali kehidupan.
“Pemuda desa dikumpulkan. Kami dijadikan relawan Dompet Dhuafa, yang hingga kini masih solid,” tuturnya mengenang.
Saat itu ia dan teman-teman di desanya dilibatkan dalam program Jogja Guyub. Program penataan lingkungan yang terkena dampak gempa. Mulai dari membersihkan lingkungan, penyediaan makanan siap saji untuk pengungsi, hingga mendirikan pasar darurat agar kegiatan ekonomi bisa kembali berjalan.
Keterlibatan aktif Badar untuk membantu sesama tidak berhenti setelah desanya pulih. Ia pun memutuskan bergabung secara penuh menjadi relawan kebencanaan Dompet Dhuafa.
“Jaringan relawan kami terlibat dalam berbagai aksi kemanusiaan Dompet Dhuafa di Jogja dan Jawa Tengah, mulai dari longsor di Karanganyar, banjir di Boyolali, Magelang, hingga letusan gunung Merapi 2010 lalu,” jelasnya.
Badar selalu hadir di setiap bencana, apa pun peran dan tugas yang diberikan kepadanya. Mulai dari mengevakuasi warga, melayani pengungsi, hingga hanya sekedar angkat-angkat logistik. Semua itu dilakukan dengan senang hati.
Bahkan, Badar juga sempat “ditarik” ke Jakarta dan bergabung bersama tim Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa. “Saya tak lagi mendapat tugas di Jogja dan sekitarnya, tapi beberapa wilayah lainnya di Indonesia. Mulai dari Aceh, Ambon, dan yang lainnya,” tukasnya.
Badar beralasan, dengan menjadi relawan kebencanaan, ia bisa terus menabar manfaat, menolong orang yang tertimpa musibah. “Seperti ketika lembaga ini menolong kami sepuluh tahun lalu,” pungkasnya.
***
Kisah Badar di atas adalah salah satu potret kerelawanan yang sebenarnya dimiliki oleh banyak orang di negeri ini. Kita tentu tidak lupa bagaimana tingginya animo masyarakat yang ingin menjadi relawan ketika Tsunami menerjang Aceh 2004 lalu. Ramai orang antri mendaftar di berbagai instansi dan lembaga kemanusiaan. Mereka siap diterbangkan ke Aceh untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah.
Tak hanya itu, empati dan kepedulian masyarakat juga tercermin dari banyaknya pos-pos penggalang bantuan yang didirikan. Baik oleh lembaga profesional, Karang Taruna, hingga majelis taklim dan pengajian. Orang pun berduyun-duyun memberi bantuan, mulai dari uang tunai, hingga pakaian bekas. Apa saja yang penting bisa membantu.
Sebenarnya siapa kah yang disebut relawan itu?
Relawan—dalam kaidah resmi Bahasa Indonesia disebut sukarelawan—memiliki makna orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela, tanpa paksaan atau karena kewajiban. Dalam bahasa lain kita kerap menggunakan kata “volunteer”, yang memiliki makna kurang lebih sama, yaitu kegiatan altruistik tanpa pamrih. Kata “volunteer” sendiri mengadopsi dari bahasa Perancis abad pertengahan, “voluntaire”. Kata ini dipakai bagi orang yang menawarkan dirinya dalam dinas militer (militay service).
Dalam perkembangannya, kata volunteer lebih melekat pada aktivis sosial yang bekerja tanpa pamrih, baik itu berafiliasi dengan organisasi/lembaga/komunitas tertentu, maupun bergerak secara individu. Mereka yang mendukung aktivitas-aktivitas sosial kemanusiaan bisa disebut relawan, apa pun peran dan dukungannya.
Tidak ada data akurat berapa jumlah relawan di dunia? Karena memang, hampir sebagian besar relawan adalah orang bebas yang bekerja tanpa pamrih dan ikatan. Namun sekedar gambaran, State of the World’s Volunteerism Report 2011 merilis, ada 13,1 juta relawan yang aktif di Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional (IFRC). Donasi yang mereka sumbangkan mancapai US$ 6 miliar, dengan penerima manfaat hingga 30 juta orang di tahun 2009.
Selain itu, laporan Biro Statistik Departemen Tenaga Kerja AS tahun 2004 lebih menyebutkan, sebanyak 62,8 juta orang lebih telah mengajukan diri sebagai tenaga sukarela dalam 12 bulan. Sementara di Australia pada tahun 2007 diketahui ada 5,2 juta orang bekerja untuk layanan sosial dengan nilai 713 juta jam. Nilai pekerjaan mereka, jika dikonversi dengan upah, bisa mencapai AU$ 14,6 miliar.
Johns Hopkins Comparative Nonprofit Sector Project (CNP) pernah menghitung, jumlah volunteer seluruh dunia mencapai 140 juta. Jika relawan itu berhimpun menjadi satu negara, maka populasinya menempati urutan ke-9 negara dengan jumlah penduduk terbanyak, setelah Pakistan, Bangladesh, dan Rusia.
Salah seorang aktivis kemanusiaan senior, Bambang Suherman menegaskan, seorang relawan tidak lagi identik kepada mereka yang turun ke lapangan dalam menjalankan aktivitas sosial kemanusiaan. “Orang yang memberikan donasi untuk lembaga kemanusiaan, membantu menyebarkan informasi kemanusiaan via media sosial juga bisa dikategorikan sebagai relawan,” ujarnya.
Perkembangan teknologi mutakhir memang memungkinkan setiap orang ambil bagian dalam kegiatan sosial-kemanusiaan. Orang yang suka dan pandai menulis bisa membantu melalui tulisannya. Tak sedikit contoh tentang gerakan sosial yang berangkat dari sebuah tulisan. Orang yang hobi fotografi juga bisa membidik foto-foto humanis, yang memancing empati dan peduli masyarakat. “Apa pun profesi dan latar belakang kita, kita bisa membawa kebaikan bagi sesama,” tambah Bambang.
Ketua Ikatan Relawan Sosial Indonesia (IRSI), Parni Hadi mengibaratkan seorang relawan seperti pohon kelapa yang memiliki banyak manfaat. Lidinya dapat menjadi sapu, daunnya bisa dipakai sebagai bungkus ketupat. “Batangnya bisa menopang bangunan, buah dan santannya pun menjadi nutrisi yang menyehatkan,” ujarnya.
Apa yang melatari sehingga mau terlibat dalam aktivitas kerelawanan? Ada nilai yang diperjuangkan para relawan. Ada tujuan-tujuan besar yang melandasi aktivitas kerelawanan, baik itu kemanusiaan maupun keadilan sosial. Seseorang yang memegang teguh nilai-nilai yang diperjuangkan, akan memunculkan sikap kerelawanan dalam tindakan-tindakan sosialnya.





