BEGAWAN Bratadarsono dari Pertapaan Candi Atar, usahanya sekarang sedang bangkrut. Toko klontong miliknya ditinggal pembeli gara-gara pada berpindah ke toko online. Ini berdampak pada kesejahteraan keluarga sehari-hari. Selulus SMA mestinya Endang Trirasa putrinya melanjutkan kuliah di perguruan tinggi, kini terpaksa di rumah saja.
Resiko yang harus dihadapi Endang Trirasa kini adalah, siap menjadi penganggur atau tunggu saja wayang lelaki untuk melamar dirinya sebagai istri. Namun untuk urusan beginian ternyata juga tak berjalan mulus. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba saja ada harimau loreng yang selalu menghalangi setiap lelaki yang ingin apel malam Minggu di rumah Bagawan Bratadarsono.
Macan loreng itu selalu nongkrong di taman keputren Endang Trirasa, menjadikan cowok-cowok lari terbirit-birit sebelum apel. Mereka menduga, jangan-jangan itu macan Bonita dari Indragiri Hilir (Riau) yang telah menerkam Jumiati dan Yusri. Setelah dikejar-kejar petugas BBKSDA apakah lalu lari ke sini?
“Hai macan loreng, kenapa kau nongkrong di sini, apakah kau si Bonita yang kabur dari Jambi?” tanya Begawan Bratadarsono.
” Saya bukan Bonita. Setelah nggak jadi sponsor pabrik balsem, gue memang ditunjuk dewa untuk menjadi baking sukarela putrimu. Siapa saja yang bisa membunuhku, dialah colon suaminya Endang Trirasa, dan di sinilah hari akhir kehidupanku di dunia… ” jelas harimau Sardula Budakresna sambil mbrakoti (makan) ayam kampung yang mati kelindas mobil.
Lantaran macan Sardula bawa-bawa nama dewa segala, Bagawan Bratadarsono tak berkutik. Menurut sajalah, sebab kalau berani macam-macam terhadap dewa, bisa panjang nih urusan! Kalau tidak golongan diturunkan, pasti akan terjadi kriminalisasi terhadap begawan.
Belum juga selesai mereka berdialog secara empat mata, tiba-tiba datang rombongan prajurit Ngastina dengan tetindih (pimpinan) Adipati Karno. Kehadiran mereka bukan untuk demo puisi Sukmawati, melainkan untuk melamar Endang Trirasa yang akan dikawinkan dengan Dursosono sentana dalem (keluarga raja) Prabu Duryudana di Ngastina.
“Bermenantukan Dursosono sampeyan nggak nyesel deh. Selain kaya dan punya tanah di mana-maha, dia sangat sayang pada istri. Jadi nggak mungkin Endang Trirasa dimadu,” kata Adipati Karno memberikan garansi.
“Tapi ngomong-ngomong, tolong dilepas itu helmnya. Ini di ruang kapanditan, bukan di jalan raya.” Tegur Begawan Bratadarsono.
“Ngawur saja, ini bukan helm, tapi makutha dari dewa, tahu!” sergah Adipati Karno.
Sebetulnya, mendengar nama Dursosono, Bagawan Bratadarsono mau muntah rasanya. Punya nilai tambah apa dia? Selain pernah terlibat penculikan aktivis, Dursosono ini gemar melecehkan wanita. Sang bagawan ingat betul, kesatria Banjarjungut ini pernah dihukum percobaan gara-gara menelanjangi Dewi Drupadi istri Puntadewa dalam sebuah pesta judi Kasino yang non Warkop DKI. Karenanya, Bagawan Bratadarsono sangat berkeberatan mengambil Dursosono sebagai menantu.
Namun untuk menolak secara terus terang tidak berani-sebab berselisih paham dengan adiknya orang yang punya negara, bisa berabe. Salah-salah dana hibah untuk kalangan begawan dihambat!
“Wah, semuanya terserah saja pada Endang Trirasa. Den…!” jawab Bagawan Bratadarsono hati-hati.
“Nah, gitu dong. Pokoknya kalau nurut pasti aman.” Kata Adipati Karno sambil tersenyum.
Meskipun tanpa dipersilakan, macan Sardula Budakresna maju ke depan menemui Adipati Karno. Keruan saja konglomerat dari Ngawangga ini terkejut melihat harimau loreng nyelonong di depannya. Disangkanya macan Taman Safari nyasar ke Candi Atar.
“Adipati Karno, mendingan lu pulang aja deh, Endang Trirasa dijamin tidak mau kawin dengan laki-laki macam preman begitu. Tapi kalau ngotot, bunuh aku dulu baru bisa kawin,” tantang Sardula Budakresna.
Karena dikira si Bonita macan sakti, sehingga mereka ragu-ragu ketika dikomando Adipati Karno untuk menyerangnya. Baru setelah diancam akan dipotong gaji bulan depan, wayang-wayang prajurit Ngastina tersebut mengeroyok Sardula Budakresna. Tapi tak ada yang menang. Termasuk Adipati Karno, anak buah Prabu Duryudana ini segera kabur pulang ke negerinya.
Sementara rombongan wayang Ngastina pulang, di kaki Gunung Tundabima Setyaki dari Garboruci tampak sedang bertapa. Dia berlaku prihatin bukan untuk Nyapres 2019, tapi mohon petunjuk Dewa agar dipertemukan dengan colon istrinya. Rupanya Setyaki sudah tidak betah terlalu lama membujang.
Setelah 40 hari 40 malam di saat Setyaki sudah kehausan dan kelaparan, kalangan dewa di Kahyangan rupanya memperhatikan unjuk rasa model wayang itu. Terbukti di ikat pinggang Setyaki kemudian terdengar suara tit… tit… tit! Dengan sigap dia mengambil HP-nya, untuk mengetahui ada pesan apa untuknya.
“Calon binimu ada noh di Candi Atar, dia bernama Endang Trirasa dan merupakan putri Bagawan Bratadarsono. Buruan ke sana deh, sebelum disabet wayang lain…!” begitu pesan dewa itu, yang rupanya dari Batara Narada.
Setyaki melonjak-lonjak kegirangan. Dengan mencarter Gojek berangkatlah ke Candi Atar. Waktu melihat perwujudan Endang Trirasa, Setyaki sedut-sedut perasaannya. Gadis itu memang cantik, sintal dan geboy! Maka meskipun harus berkelahi melawan macan. Sardula Budakresna, ditempuh juga.
Sayang, karena dari pagi baru kemasukan mie pangsit seporsi, hanya dalam beberapa gebrakan Setyaki sudah terkelahkan dengan luka baret-baret di seluruh tubuh akibat kena cakar macan Sardula. Daripada tetanus nantinya, buru-buru Setyaki kabur sambil memaki-maki dewa yang dianggapnya bikin berita hoax.
“Kalah juga sampeyan melawan Sardula? Mendingan sunat lagi sampai habis….!” sindir Bagawan Bratadarsono menyaksikan Setyaki lari terbirit-birit.
Rasa frustasi dan stress bertumpuk menjadi satu di kalbu Setyaki. Sambil terus menggerutu dan ngomelin dewa-dewa di Kahyangan, dia menyusup ke tengah pasar cari selamat. Dasar nasib bagus, di sana dia bertemu dengan Harjuna yang sedang ngopi di warung. Ditraktir makan sudah pasti. Tapi lebih dari itu wayang lelaki dari Madukara tersebut juga menanyakan segala kesulitan yang dihadapi Setyaki.
“Ada kesulitan apa Dimas, bisa saya bantu? Ngomong aja terus terang asalkan bukan kesulitan keuangan…!” tanya Harjuna pelan.
“Celaka Kangmas, gue kena cakar macan. Kalau yang mencakar Endang Trirasa sih lumayan…!” jawab Setyaki sambil sibuk mengoleskan obat merah.
Mendengar kesulitan dan penderitaan Setyaki, Harjuna kasihan juga. Solider sebagai wayang keluarga Pendawa, dia bermaksud menolong ipar Prabu Kresna tersebut, meskipun tanpa honor.
Keduanya segera, berangkat ke pertapaan Candi Atar dengan naik busway. Tiba di tempat tujuan Setyaki segera menunjukkan kepada Harjuna di mana Sardula Budakresna selalu nongkrong jadi beking Endang Trirasa.
“Ngapain lu balik lagi, sudah punya modal ya?” ledek Sardula melihat Setyaki tak berani masuk arena kecuali mendorong-dorong tubuh Harjuna.
“Ayo buruan lawan. Jangan cemen,” kata Setyaki memberi semangat.
Harjuna yang dibon Setyaki segera masuk arena, berkelahi melawan macan loreng itu. Kesatria Madukara ini memang peng- pengan (hebat), segala kemampuan si macan dilayani dengan baik. Setelah Sardula Budakresna kecapaian, Harjuna segera melepaskan panah Pasopati miliknya dan menghajar kepala macan tersebut. Aneh bin ajaib, bersamaan dengan terkaparnya Sardula Budha Kresna, tiba-tiba harimau itu lenyap dan berganti menjadi Prabu Kresna dari Dwarawati.
“Sip! jadi juga kau kawin, Setyaki…,” ujar Kresna sambil mengacungkan jempol.
Tahu bahwa yang menjadi harimau adalah kakak iparnya, Setyaki tersipu-sipu. Meskipun macan itu telah dikalahkan, menurut aturan permainan mestinya yang berhak menjadi suami Endang Trirasa seharusnya Harjuna, sebab memang dialah yang mengalahkan. Harjuna yang cepat membaca perasaan Setyaki segera menghampirinya.
“Tenang sajalah, Endang Trirasa tetap milikmu. Gue mau kawin lagi takut terkena PP-10,” bisik Harjuna.
Dengan diantar Prabu Kresna, Setyaki dan Harjuna menghadap Bagawan Bratadarsono. Paranormal dari Candi Atar ini sangat bersyukur bahwa putrinya akhirnya bisa dipersunting Setyaki. Meskipun dia cuma wayang golongan Il-a, tapi obyekannya di luar banyak. Jadi pasti hidup jibar-jibur (makmur)lah kelak Endang Trirasa. Hari itu juga perkawinan Setyaki dengan putrinya dilangsungkan dengan sederhana. (Ki Guna Watoncarita)



