Sarjokesuma Gandrung

Gatutkaca tersinggung. kenapa Sarjokesuma memalsukan dirinya, kayak salep 88 saja.

SEBAGAI “satria lananging jagad” yang banyak bini, Harjuna memang tak bisa tinggal serumah dengan semua istrinya. Untuk mencegah mereka punya PIL, dia hanya pasang CCTV di setiap rumah bininya tersebut. Saat “melayani” mereka –kecuali Sumbadra dan Srikandi– para istri itu hanya “dicas” massal jarak jauh.  Di Madukara Harjuna mengelus-elus keris Pulanggeni, tapi para istri di pelbagai penjuru telah orgasme dan merem melek sendiri-sendiri.

Salah satu bini korban cas-casan masal itu adalah Dewi Sumendang putri Begawan Sidikwacana dari padepokan Andongcinawi. Jarang sekali Harjuna hadir pisik ke pertapan, tapi hasilnya woo…….., kedua putrinya, masing-masing Pregiwa – Pregiwati cantiknya luar biasa. Penyanyi Raisa saja kalah. Cuma bedanya adalah, pelantun lagu “Serba Salah” ini dapat hadiah sepeda dari Presiden Jokowi, Pregiwa-Pregiwati” cukup beli sepeda sendiri di Jatinegara!

“Cucuku Pregiwa – Pregiwati, apakah ayah kalian sudah kirim duit buat bayar SPP?” kata Begawan Sidikwacana.

“Belum, Eyang. Tadi saya cek di ATM belum masuk.”

Begawan Sidikwacana manggut-manggut. Mantu yang satu ini memang keterlaluan. Kayak bayar listrik saja, kalau belum tanggal 20 nggak mau kirim uang. Padahal SPP kan harus dibayar tanggal muda. Terpaksalah Begawan Sidikwacana nalangi dulu, dengan jual ayam apa ngundhuh (metik) kelapa. Paling celaka, begitu transveran masuk, tak kebagian juga karena sudah dibelanjakan Pregiwa-Pregiwati untuk kebutuhan kawula muda termasuk smartphone buat main WA-nan.

Di Andongcinawi Pregiwa-Pregiwati tinggal di padepokan Tipe 45/70 seharga Rp 350 juta dengan DP nol rupiah. Mereka kini berusia 19-17 tahun. Pregiwa sudah punya pacar devinitip Gatutkaca dari Pringgodani, dekat Pringgokesuman, Jogyakarta sana. Namanya juga cewek cantik, dengan bodi yang sekel nan cemekel; meski sudah punya cem-ceman, masih ada juga yang naksir. Dia adalah Sarjokesuma, calon pewaris-tahta negeri Ngastina. Sebagai politisi dia kini duduk sebagai anggota DPD, kerjanya ribut melulu, karena ingin masa jabatan Ketua cukup 2,5 tahun saja bukan 5 tahunan.

“Kalau saya naksir Pregiwa, kira-kira dia mau nggak ya sama saya?” ujar Sarjokesuma kepada punakawan Togog.

“O, jelas mau sama mau boss. Sampeyan mau beneran, sononya mau muntah…..!” jawab Togog sekenanya.

Memang, meski putra mahkota dan jadi senator  pula, Sarjokesuma lumayan minder mendekati Pregiwa. Soalnya, rivalnya kan Gatutkaca yang terkenal sakti, otot kawat balung wesi, kringet wedang kopi. Tapi sebagai lelaki normal, Sarjokesuma sangat bernafsu untuk bisa memiliki dan menggauli putri Andongcinawi itu. Maka tekadnya kemudian, gagal memiliki Pregiwa mending gantung diri di pinggir tol Cileunyi.

Sebenarnya Sarjokesuma telah membentuk tim sukses untuk pemenangan Pregiwa, tapi semua tak jalan. Bukannya dana kering, tapi Sengkuni, Durna, Adipati Karno, semua menyerah. Masalahnya, Sarjokesuma memang sosok yang tak laku dijual. Dia jadi anggota DPD saja kan karena bapaknya raja Ngastina. Coba jika Sarjokesuma bukan siapa-siapa, paling-paling di kampung jadi agen gas melon.

“Jadi bapak-bapak nggak dukung saya?” Sarjokesuma menegaskan.

“Nggak. Mending kamu ngelamar Ngatini, sales minuman penyegar. Pasti bisa.”

Menghina, ya? Masak wayang elit begini kok kawin sama sales minuman. Sembarangan. Tapi sesuai dengan saran Togog, Sarjokesuma pun segera berangkat ke Pasetran Gandamayit, ketemu Hyang Betari Durga. Dialah dewa pemberi solusi.  Tokoh-tokoh masa lalu sebagaimana Jungkungmardeya, Dewasrani, semua merupakan klien Betari Durga untuk menggolkan ambisinya.

“Ibu Betari tak di tempat.” Jawab Jarameya ajudan sang Betari dengan ketusnya.

“Ah, yang bener?” ujar Sarjokesuma sambil mengeluarkan uang kertas merah.

Melihat dana segar Rp 200.000,- tunai, Jaramaya-Rajameya mendadak ramah dan diajaknya Sarjokesuma masuk lewat pintu samping. Ternyata Betari Durga tak ke mana-mana, justru sedang main WA-nan. Wajahnya demikian ceria, kadang senyum sendiri, terus tangannya turun naik di layar HP. Asal HP bunyi tung-tung….. langsung dibuka, lalu tangan pencat sana pencet sini, kemudian tung-tung…. lagi.

“Ada pasien baru, Boss. Sepertihnya “macan” juga…..” Jarameya berbisik-bisik.

“Oh, ini kan Sarjokesuma. Kamu apanya Sarjan Taher yang dulu ditangkap KPK?” tegur Betari Durga, yang bikin Sarjokesuma tersipu-sipu, karena dikait-kaitkan dengan bekas koruptor DPR dari negeri jiran.

Mengingat sempitnya halaman, Sarjokesuma tak bisa berpanjang-panjang kata. Dia to the point saja bahwa minta dukungan untuk mempersunting Pregiwa. Sarjakesuma mau bayar berapa saja, asalkan diberi ajian yang membuatnya bisa terbang seperti Gatutkaca dari Pringgodani. Soalnya, hanya dengan cara itu dia bisa memiliki dan menggauli Pregiwa.

“Oke, oke. Biayanya Rp 2 miliar, transver langsung ke rekeningku, ya.”

“Siap pukulun. Banknya BCA, apa Mandiri?”

Lewat telepon banking, transfer telah berhasil. Betari Durga lalu menyerahkan ajian bernama “Jalma Muluk”, di mana dengan ajian itu memungkinkan Sarjokesuma mampu terbang solo lewat Yogya. Cuma dia diwanti-wanti. Di samping tak boleh terbang di atas 6.000 kaki, harus menghindari kabut. Karena ini pantangan bagi penerbang pemula.

“Ajian “Lembu Sekilan” mau nggak?” bisik Jarameya.

“Nggak, ah! Nanti gue malah nggak punya anak dari Pregiwa, wong jaraknya sekilan (sejengkal) melulu, nggak pernah bisa panetrasi.” Kata Sarjokesuma kesal.

Begitulah, dengan menyamar wujud Gatutkaca putra mahkota Ngastina itu segera menyatroni padepokan Andongcinawi. Tentu saja Pregiwa terkaget-kaget. Bukankah sidoi sedang kunjungan ke luar negeri? Kenapa sekarang sudah tiba kembali di tanah air?

“Gatutkaca kan bisa terbang. Nggak dapat tiket ya terbang sendiri dong,” kata Gatutkaca aspal, lumayan OK-eh Ng-OCE-h alias banyak ngomong.

“Jangan-jangan sampeyan Gatutkaca salep 88 yang palsu nih. Bisa terbang beneran?” Pregiwa mencoba mengetest.

“Bisa saja, wong bapakku dulu juga penerbang malah punya ketimpring segala.”

“Gatutkaca” pun segera menerapkan ajian “Jalma Muluk”. Hanya tiga kali menjejakkan kaki ke bumi, mendadak dia bisa naik ke udara. Satu meter, lima meter, setinggi pohon kelapa, bahkan di atas Gunung Sahari juga. Tapi dasar Sarjokesuma, begitu ketinggian terbangnya mencapai 200 meter dpl (di atas permukaan laut), dia jadi ketakutan, singunen (takut ketinggian) katanya. Maka dia pun berteriak-teriak, minta petunjuk menara yang dikendalikan Jaramaya-Jarameya langsung dari pasetran Gandamayit.

“Naik saja terus, di situ banyak kabut.” Perintah menara.

“Ada kabut, tapi sutra ungu….!”

“Oh, itu judul film Indonesia tahun 1980-an.”

Akhirnya “Gatutkaca” bikinan Taiwan itu justru diomeli Jaramaya-Jarameya, wong terbang promosi kok takut ketinggian. Tapi belum juga dia terbang jauh lebih tinggi, sudah tercium radar Gatutkaca yang asli. Bisa dipastikan, ksatria Pringgodani itu tersinggung ada wayang lain menduplikasi dirinya. Langsung saja Gatutkaca aspal itu diklabruk (diserang) dengan Aji Narantaka. Sarjokesuma mendadak limbung dan jatuh ke kebon ganyong milik petani, krusukkkkkk…..!

“Ada Hercules jatuh tuh,” kata seorang petani.

“Hercules palu lu peyang. Itu kan putra Prabu Duryudana.”

“Aduh, aduh, tolongin gue dong. Kepalaku bocor nih.” Rintih Sarjokesuma.

Sarjokesuma segera dilarikan ke rumah sakit “Mitra Keluarga Kaya”, tapi dengan dana BPJS. Patih Sengkuni datang sebagai pembezuk pertama, tapi malah mengomelinya. Macem-macem saja, naksir cewek kok pakai ajian “Jalma Muluk” segala, agar bisa terbang seperti Gatutkaca. Kenapa tidak nggandul pakai drone saja? (Ki Guna Watoncarita)

 

Advertisement