
JAKARTA – Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 mengatakan sedang menunggu Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan perkembangan karakteristik dari Deltacron secara lebih lanjut.
Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengatakan penamaan varian ini belum ditetapkan oleh WHO sampai saat ini data terkait karakteristik varian tersebut masih sangat terbatas.
Ia menuturkan dalam pengarahan media yang diadakan pada 10 Maret 2022, bahwa hasil pertemuan yang diadakan oleh WHO dengan para pakar virus di seluruh dunia menyatakan bila dampak varian Deltacron terhadap indikator epidemiologi maupun tingkat keparahan gejalanya belum bisa dipastikan.
Perlu penelitian lebih lanjut mengenai varian baru yang merupakan kombinasi dari varian Delta dan Omicron tersebut.
Walaupun masih dalam pantauan, ia meminta kepada seluruh masyarakat untuk tidak khawatir pada Deltacron dan tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan juga segera melengkapi dosis vaksinasi sembari menunggu WHO mengumumkan hasil penelitian lebih lanjut.
Selama virus masih beredar dalam tingkat penularan yang tinggi, proses terjadinya mutasi virus akan semakin besar. Perubahan virus itu dapat terjadi melalui berbagai mekanisme salah satunya dengan melakukan rekombinasi.
“Rekombinasi virus bukanlah hal baru dan sudah banyak terjadi pada berbagai virus lainnya. Untuk itu, demi menghindari masuknya varian baru maupun pembentukan varian baru di dalam negeri, jangan sampai kita memberi ruang bagi virus untuk menular sama sekali di masa adaptasi ini,” ucap Wiku.




