Satu-satunya ‘Srikandi’ Basarnas di Lokasi Bencana Garut

Kondisi Garut seusai banjir bandang pada Selasa (20/9/2016) malam. Foto: DMC DD

GARUT – Diantara banyaknya anggota tim gabungan penyelamat di lokasi bencana banjir bandang Garut, Rida Robiatul Adawiyah menjadi satu-satunya anggota Badan SAR Nasional (Basarnas) perempuan yang terjun membantu penanganan korban bencana.

Awalnya, perempuan kelahiran Ciamis tersebut mendengar kabar duka di Garut ketika sedang bertugas di Sumedang, dalam pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON). Ketika itu ia langsung dikerahkan menuju lokasi bencana.

“Posisi waktu itu saya dan tim saya lagi ada di Sumedang sedang ikut bantu kegiatan PON. Tiba-tiba ditelefon dapat kabar ada longsor,” katanya.

Rida bersama enam orang lainnya yang masih satu tim, langsung menuju lokasi untuk membantu evakuasi korban. Selama dua hari Rida menjadi anggota rescue di Sumedang. Ia mengaku kendala yang dihadapi adalah kebiasaan masyarakat yang mengerumuni lokasi kejadian.

“Saat kami melakukan evakuasi, warga ikut berbondong-bondong ke atas tepat di lokasi longsor. Tapi kami langsung memberikan pengertian terhadap masyarakat bahwa evakuasi sedang berlangsung. Setelah dua hari di sana, pagi tadi saya ditarik ke Garut,” tambahnya.

Berbicara tentang asal muasal dirinya ikut gabung bersama dengan Basarnas, menurutnya ia harus melalui perjalanan yang tidak mulus. Pasalnya dia dua kali gagal terlebih dahulu hingga akhirnya bisa bergabung dengan tim rescue.

“Dua kali gagal saya daftar, tahun 2013 sempet daftar, cuma gagal. Gagalnya itu karena gak tahu Basarnas itu apa. Tapi setelah gagal di tahun itu, saya belajar dan akhirnya tahu apa itu basarnas, kerja seperti apa, akhirnya 2014 kemarin ikut lagi dan alhamdulillah lulus,” ungkapnya, kepada Okezone, ditengah upayanya menyelamatkan para korban.

Ia juga mengaku dulu adalah seorang yang penakut, apalagi jika melihat mayat. “Pertama kali saya mengevakuasi mayat yang hanyut sudah tiga hari. Awalnya enggak biasa, tapi makin kesini karena pekerjaan yah sebagai seorang rescue, saya harus bisa melawan ketakutan saya sendiri,” tegasnya.

Rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan, membuat rasa takut itu akhirnya benar-benar sirna. Hingga kini ia dan anggota Basarnas lainnya masih berjibaku berada di lokasi banjir bandang di Kabupaten Garut untuk mencari korban hilang dan membantu para pengungsi di posko pengungsian.

Advertisement