KEBIJAKAN pemerintah Arab Saudi membuka pintu perbatasan daratnya bagi calon haji Qatar tidak serta merta meredakan ketegangan hubungan kedua negara, karena dianggap dilatarbelakangi motif politik.
Sebelumnya, Arab Saudi hanya mengijinkan para calon haji dari Qatar melalui negara ketiga dan harus menggunakan pesawat udara selain milik maskapai penerbangan Qatar.
Menlu Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani dalam pernyataannya   menyambut gembira langkah maju (Arab Saudi-red)  mengijinkan warganya menunaikan ibadah haji, walau ia curiga, keputusan itu bernuansa politik.
Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA) dan Mesir memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar 5 Juni lalu dan menutup akses transportasi darat, laut dan udara karena mencap Qatar mendukung aksi-aksi terorisme dan dianggap terlalu dekat dengan Iran.
Mayoritas warga Iran yang menganut paham Syiah bertentangan dengan Arab Saudi yang beraliran Sunni, selain itu keduanya juga bersaing dalam perebutan pengaruh di kawasan Timur Tengah.
Sikap pemerintah Arab Saudi melunak setelah Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman yang kabarnya disarankan oleh Menlu AS Rex Tillerson , atas nama pribadi, menerima kunjungan keluarga Emir Qatar, Sheikh Abdullah   al-Thani (16/8).
Gelombang pertama terdiri dari 50 calon haji Qatar dilaporkan sudah memasuki pintu perbatasan darat Salwa, sekitar 100 km arah barat daya Doha, Qatar dan sekitar 490 km dari arah timur Riyadh, Arab Saudi. Setiap tahun sekitar 2.400 WN Qatar menunaikan ibadah haji.
Sejumlah calon haji Qatar lainnya yang merupakan undangan dan atas biaya Raja Arab Saudi Salman dilaporkan akan dijemput dan diterbangkan dengan pesawat khusus dari Doha menuju Jeddah.
Raja Arab Saudi Salman bin Abdulazis al-Saud, menurut kantor berita setempat (SPA), menyambut hangat tamunya, Sheikh Abdullah di tempat peristrirahatannya di kota Tangler, Maroko dan menyebutkan eratnya hubungan sejarah dan persaudaraan antara rakyat Arab Saudi dan Qatar.
Sheik Abdullah adalah salah satu anggota keluarga Bin Ali al-Thani yang tersingkir dari rezim penguasa Qatar saat ini yakni dari keluarga Bin Hamad  al-Thani.
Jadi, di balik pemberian izin bagi calon Jemaah haji Qatar, muncul kecurigaan, pemerintah Arab Saudi sedang berusaha menggoyang stabilitas politik rezim petahana di Qatar yang berada di tangan fraksi Bin Hamad.
Sheik Abdullah dan Emir Qatar saat ini yakni Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani disebut-sebut terlibat dalam persaingan sejak memburuknya hubungan antara kedua klan al-Thani (Hamad dan Ali) di panggung kekuasaan sejak dekade ’70-an.
Pada 1972 kakek Emir Qatar saat ini yakni Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani yang merupakan tokoh dan proklamator Qatar menggulingkan Emir Qatar saat itu Sheikh Ahmed bin Ali al-Thani.
Selanjutnya, perebutan pengaruh dan kekuasaan silih-berganti mewarnai dinamika panggung politik kedua klan (Hamad dan Ali) di negara kaya produsen minyak bumi berpenduduk sekitar 2,2 juta jiwa itu.
Hubungan Qatar, negara di kawasan Teluk dengan PDB per kapita 129.700 dollar AS (2016) dan ketiga negara Arab itu sudah renggang sejak pecahnya Revolusi Arab (Arab Spring) pada 2011.
Qatar mendukung Revolusi Arab dan jaringan kelompok militan Ikhwanul Muslimin (IM), sebaliknya Arab Saudi, Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA) tentu saja menentang Revolusi Arab karena bisa mengancam kelanggengan rezim monarki di negara-negara itu.
Setumpuk persoalan, mulai dari perebutan hegemoni antara Arab Saudi dan Iran, permusuhan aliran Syiah dan Sunni, persaingan antara klan Hamad dan Ali di Qatar, sampai ke demokratisasi di kawasan Timteng, membuat kerukunan dan kekompakan diantara sesama negara Arab sukar diwujudkan. (AP/AFP/Reuters/NS)





