SDM Kelas Sampah

Dengan penghasilan kecil, warga kota Jakarta mau tak mau harus siap tingggal di Rusun. Jadi seperti burung nggak apalah.

MESKIPUN tahun 2024 bukan lagi sebagai ibukota RI, generasi muda masih juga tertarik mengadu nasib di kota Jakarta. Terbukti Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta, Budi Awaludin mengungkapkan,  “ Dari 151.752 orang pendatang ke Jakarta di tahun 2022, hampir 75 persen mereka adalah lulusan SMA sederajat ke bawah, dan hampir 50 persen di antaranya tidak punya keterampilan.

Sebetulnya sejak jaman Gubernu Ali Sadikin (1966-1977), Jakarta dinyatakan sebagai kota tertutup lewat peraturan No. lb 3/1/27/1970. Sebabnya ya itu tadi, karena begitu banyak rakyat Indonesia mengadu nasib ke Jakarta tanpa memiliki ketrampilan. Mereka-mereka ini pada akhirnya akan menjadi beban Pemprov DKI. Sebab ketika jadi pengangguran, sedangkan perut jadi keroncongan, terpaksa melakukan tindak kejahatan.

Tetapi orang Indonesia kan selalu kepedean, bahkan orang Jawa punya pepatah: waton obah bisa mamah, artinya asal mau bekerja apa saja, pastilah bisa makan. Maka mesti kansnya jadi buruh pabrik, pembantu rumahtangga, sopir taksi, tukang ojek bahkan pemulung; tetap siap menatap Jakarta ibukota negara.

Lagi-lagi orang Indonesia ini kan paling pinter mengakali aturan. Faktanya, meski dinyatakan Jakarta kota tertutup, yang maksa masuk Ibukota harus tinggalkan uang jaminan, punya pekerjaaan pasti; masih saja bisa masuk. Bayangkan, tahun 1966 saat Bang Ali mulai  menjabat penduduk Jakarta baru 3,6 juta jiwa. Tapi beliau lengser 1977 warganya malah meningkat jadi 5,9 juta jiwa.

Gubernur-gubernur berikutnya mencoba menekan jumlah penduduk lewat razia kependudukan setiap pasca Lebaran, tapi tak juga menolong. Jumlah warga kota yang bukan asli lahir di Jakarta, semakin buanyak. Akhirnya dan lama-lama, terutama setelah era reformasi, aturan Jakarta kota tertutup tak ada lagi gaungnya. Penduduk Jakarta kini sekitar 10,64 juta jiwa.

Sebagaimana kata Kadis Dukcapil DKI Jakarta, 151.752 orang pendatang ke Jakarta di tahun 2022, hampir 75 persen mereka adalah lulusan SMA sederajat ke bawah, dan hampir 50 persen di antaranya tidak punya keterampilan. Padahal di Jakarta ini, jangankan hanya lulusan SMA, yang sarjana S1 saja ombyokan yang jadi pengangguran. Mereka ini adalah SDM –maaf– kelas sampah, maka tak mengherankan yang mudah terperosok jadi sampah masyarakat di Jakarta.

Padahal sejak reformasi, lapangan kerja tak terpusat di kota besar Jakarta, Surabaya, dan Medan saja. Tapi masih juga orang Indonesia fanatik pada Jakarta. Begitu lulus SMA, mencari kerja pilihan pertama selalu ibukota negara. Nanti waktu pulang kampung ngomongnya sudah lu lu, gua gua dan dah deh seperti sayur lodeh.

Ada family penulis setiap pulang kampung banyak ngomong Jakarte-nya. Sebentar-sebentar bilang: bodo amat. Ibu penulis yang kurang paham Bahasa Indonesia (1970-an) sampai bilang, “Lha mbah Amat salah apa? Kok dibodhok-bodhokke (Mbah Amat salah apa kok dicap bodoh). Mbah Amat adalah tokoh masyarakat di kampung penulis.

Penulis pernah meledek ABG salah kirim SMS, ini ditilik dari kata-katanya yang berbahasa gaul. Ketika marah atas balasan SMS penulis, maka dia bilang, “Jangan main-main ama gua!” Saya hanya menjawab pendek: gua Selarong! Gua Selarong adalah gua tempat persembunyian Pangeran Diponegoro di Bantul saat perang melawan Belanda (1825-1830).

Tapi kaum urban generasi muda tahu, Jakarta takkan kiamat setelah bukan lagi sebagai ibukota negara. Nantinya Jakarta akan menjadi pusat ekonomi Indonesia. Selain itu bukan tidak mungkin Jakarta akan menjadi pusat pendidikan, kesehatan, dan seni budaya.

Karenanya meski dirinya bukan lagi SDM yang berkualitas, tetap saja akan membanjiri Jakarta. Karena SDM sampah itulah, nantinya mereka semakin tidak mampu tinggal di Jakarta, kediaman mereka pasti semakin ke pinggir bahkan mental keluar Jakarta. Bila memaksakan tinggal di Jakarta, harus siap masuk Rusun, sehingga seperti burung dalam sangkar. (Cantrik Metaram).

Advertisement