
PERANG Rusia vs Ukraina sejak invasi Rusia ke negara itu, 24 Feb. 2022 terus berkecamuk, bahkan terus bereskalasi, dan memasuki hari ke-357, Rabu (15/2) ditandai kurangnya stok peluru dan persenjataan di pihak Ukraina guna menghadapi mesin perang raksasa lawannya.
Minimnya stok peluru di ihak pasukan Ukraina yang berada di garis depan menghadang gempuran Rusia yang makin intensif terungkap dari hasil survei Associated Press-NORC Center for Publik Affairs Research yang dirilis, Rabu (15/2).
Turunnya dukungan warga Amerika Serikat terhadap Ukraina tercermin dari hasil survei terbaru yang mengungkapkan, jika pada Mei 2022 mencapai 60 persen, pada Januari 2023 turun ke 48 persen. Dukungan dana juga turun dari 44 persen ke 37 persen.
Di kalangan Uni Eropa, turunnya dukungan tercermin dari penolakan Swiss memasok peluru meriam penangkis serangan udara Gepard buatan Jerman yang digunakan satuan pertahanan udara Ukraina.
Pihak Jerman sendiri mengritik sikap Swiss tersebut karena diniai mereka akibat sentimen akibat gesekan yang pernah terjadi dalam perjalanan sejarah kedua bangsa di masa lalu.
Sementara Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Rabu (15/2) mengakui,  situasi pertempuran paling sulit sedang dihadapi pasukannya di sekitar  kota Bakhmut, wilayah Donetsk, Ukraina timur yang dianeksasi Rusia tahun lalu.
“Pasukan kami sedang menhadapi situasi sulit di Bakhmut tetapi mereka tetap solid bertahan, “ ujar Presiden Volodimyr Zelenskyy dalam jumpa pers saat kunjungan PM Swedia Ulf Kristerson di Kiev (15/2).
Permintaan segera bantuan amunisi dan pesenjataan juga disampaikan Menhan Ukraina Oleksii Reznikov dalam lawatannya ke Jerman, baru-baru ini.
Seperti dilaporkan oleh NBC, stok amunisi dan suku cadang alutsista Ukraina peninggalan Uni Soviet makin menipis karena sejak negara itu melepaskan diri dari Uni Soviet tidak lagi ikut memproduksinya.
Menurut catatan, Ukraina masih mengoperasikan misalnya tank-tank tempur utama lawas warisan Soviet seperti T-62 atau T-72, pesawat tempur Sukhoi SU-25 atau peluncur roket multi lara Grad, sehingga terpaksa melakukan kanibalisasi untuk menggantikan yang rusak.
Untuk menghemat amunisi, awak meriam Ukraina, juga harus menemukan kordinat sasaran dulu sebelum menembak, tidak seperti tentara Rusia yang langsung membrondongkan peluru untuk menghantam target.
Di medan pertempuran, tentara Ukraina berkejaran dengan waktu menanti pasokan amunisi dan persenjataan yang dijanjikan AS dan sejumlah negara Barat, sebaliknya Rusia berusaha keras mencapai target penyerangannya di saat pasukan Ukraina lemah.
Apa pun perkembangan di front pertempuran, yang jelas korban dan kerusakan terus bertambah. Kedua belah pihak saja diperkirakan sudah kehilangan masing-masing sekitar 100-ribu personilnya. (AP/AFP/Reuters/ns)




