
SEBAGIAN besar atau lebih 60 persen wilayah Indonesia sudah memasuki musim hujan sehingga kemungkinan terjadinya bencana tanah longsor dan banjir harus lebih diwaspadai lagi.
BMKG memperkirakan, risiko bencana longsor dan banjir meningkat seiring dengan turunnya hujan dengan intensitas tinggi dlam sepuluh hari ke depan terutama di wilayah Sumatera, Jawa dan Sulawesi.
Bahkan sejak November lalu, sejumlah wilayah di Sumatera Barat bagian tengah, Semarang dan Cilacap sudah diguyur hujan lebat.
Fenomena cuaca dipengarusi siklon tropis aktif Owen yang berada di Teluk Carpentaria, Australia, sekitar 800 Km sebelah barat Merauke, kemudian diperkirakan akan bergerak menjauhi wilayah Indonesia dengan kekuatan 11 Km per jam dan kekuatan pusaran 140 Km per jam.
Banjir juga dilaporkan melanda empat desa sampai setingi 80 cm di Kec. Arut Utara dan Arut Selatan, Kab. Kotawaringin, Kalimantan Tengah akibat luapan sejumlah sungai yang melintasi wilayah tersebut.
Tanah longsor di kawasan Sitinjau Laut di luar kota Padang menewaskan seorang penumpang minibus di jalur Padang – Jambi, Kamis (13/12) dan merenggut delapan nyawa akibat tertimbun tanah di Sigura-gura, Samosir, Sumatera Utara, Rabu (12/12).
Akibat longsor yang menyeret tiga bus dan sebuah truk di Sitinjau Laut, akses lalu-lintas dari Padang ke Solok menuju Sawahlunto, Sijunjung, Dharmasraya hingga ruas jalan lintas Sumatera terputus.
Selain mengakibatkan korban jiwa, longsor di Sitinjau Laut juga menyebabkan terganggunya distribusi hasil pertanian dan kebutuhan warga sehari-hari serta bahan bakar minyak.
Enam korban yang diantaranya masih sekeluarga yang tewas di Sigura-gura sudah dimakamkan, namun dua korban lagi sejauh ini belum ditemukan walau sudah didatangkan empat alat berat untuk memindahkan timbunan longsor yang yang menutup ruas jalan sepanjang 100 meter itu.
Bencana tidak dapat ditolak, namun dengan melakukan mitigasi sebelum ia tiba, paling tidak, risiko bisa diminimalkan.




