spot_img

Sekarang Tikus Pun Doyan KTP

JAMAN Bung Karno dulu pernah ada anjuran rakyat makan tikus. Tak jelas, apakah Presiden Sukarno bicara serius akan hal itu. Yang jelas, 50 tahun kemudian, sebagian dari rakyat yang diminta makan tikus itu telah menjadi tikus Negara. Dan sekarang, saking rakusnya binatang pengerat tersebut, e-KTP pun doyan juga. Katanya, lezat sekali karena banyak kandungan vitamin D-nya alias Duit!

Indonesia merdeka sejak tahun 1945, tapi hingga tahun 1965 tak banyak yang berhasil dibangun. Maklum, selama 20 tahun itu Indonesia masih direcoki Belanda yang ingin kembali menjajah, dan para pemberontak yang ingin membentuk negara sendisi sebagaimana DI/TII, PRRI di Sumbar dan Permesta di Maluku. Ditambah lagi konfrontasi dengan Belanda untuk merebut Irian Barat (Trikora) dan konfrontasi dengan Malaysia (Dwikora) negara bikinan Inggris.

Walhasil selama dwi dasa warsa RI itu hasil kerja Bung Karno yang terlihat baru bikin Monas, stadion Gelora Bung Karno di Senayan, Hotel Indonesia, jembatan Ampera di Palembang, TVRI untuk menyambut Asian Games ke IV di tahun 1962. Mesjid Istiqlal dan Wisma Nusantara sampai Bung Karno lengser di tahun 1967 baru setengah jadi.

Kala itu Bung Karno disebut nafsu besar tenaga kurang, membangun ini itu sekedar untuk proyek mercu suar, tanpa mengukur dengan kemampuan negara. Utang luar negeri menumpuk, inflasi sampai 600 persen. Rakyat menjadi biasa antri minyak an antri beras. Saking susahnya beras, Bung Karno sampai pernah menganjurkan, rakyat makan tikus.

Mungkin itu sekedar guyonan dan olok-olok belaka. Karena tak pernah ada beritanya Bung Karno memberi contoh rakyatnya untuk makan tikus, sebagai difersifikasi menu atau ketahanan pangan bagi bangsanya. Lagi pula mana rakyat mau, karena di samping bentuknya menjijikkan, tikus itu dikenal sebagai binatang pengerat penyebar penyakit pes.

Ada tiga suku di dunia pertikusan. Tikus got, tikus rumah dan tikus sawah. Tikus sawah yang paling bersih, karena dia hanya makan pepadian. Tikus rumah juga lumayan bersih, karena makannya sisa-sisa makanan dan tinggalnya di pojok-pojok ruangan yang gelap. Tapi paling parah adalah tikus got. Badannya bau dan kotor, karena sehari-hari hidup di antara saluran air, tidak pernah mandi, apa lagi gosok gigi.

Bung Karno lengser, pemerintahan Orde Baru berhasil mengubah keadaan. Proyek mangkrak di masa Orde Lama sebagaimana Mesjid Istiqlal dan Wisma Nusantara, dilanjutkan. Lebih dari itu partai-partai yang kerjanya omong melulu, dikecilkan sehingga  tinggal ada 3, yakni Golkar, PPP dan PDI. Tapi dengan partai yang sedikit itu stabilitas politik tercapai dan Pak Harto bisa tenang membangun negara.

Di era Orde Barulah banyak terjadi pembangunan. Puskesmas, SD dan Pasar Inpres, jembatan, banyak dibangun. Jalan tol (Jagorawi) juga mulai bisa dinikmati sejak 1978. Jembatan di atas kali, jembatan layang, banyak yang dibangun baru, termasuk waduk-waduk untuk mengairi sawah petani. Lalu kemudian listrik masuk desa (LMD), koran masuk desa (KMD) dan juga ABRI masuk desa (AMD). Pendek kata Indonesia bisa makmur, sehingga meski sudah lengser Pak Harto pun bisa berbangga diri, “Penak jamanku to?”

Masuk era reformasi berkat perjuangan Amien Rais, yang maju hanya politik doang, lewat kebebasan bicara atas nama demokrasi. Kemakmuran rakyat tergradasi, yang ada kemakmuran pejabat dan politisi. Soalnya, tikus-tikus yang jaman Bung Karno dianjurkan untuk dimakan, kini berubah jadi tikus negara. Orang bebas bicara, tapi juga bebas korupsi.

Tikus negara ternyata lebih ganas dari tikus binatang pengerat. Soalnya tikus berkepala hitam dan ke mana-mana pakai dasi itu kini doyan pula makan KTP. Proyek e-KTP di era SBY senilai Rp 5,9 triliun, yang Rp 2,3 triliun dibuat bancakan 40 unsur, dari pejabat, politisi, termasuk swasta. (Cantrik Metaram)

spot_img

Related Articles

spot_img

Latest Articles