Selalu Melawan Orangtua dan Disebut Anak Dajal, Pemuda ini Nangis Dengar Syahadat dan Jadi Mualaf

Domingus, seorang mualaf asal NTT/ Merdeka.com

JAKARTA – Seorang mantan buruh di NTT, Domingus Roudolsifa pemuda asal Timor Leste mengaku mendapat hidayah masuk Islam dan menjadi mualaf ketika mendengar syahadat.

Padahal, dulu ia adalah seorang anak yang menurutnya tidak berbakti dan selalu melawan kepada kedua orangtua, bahkan dia pernah meracuni ibunya. Dia tak pernah berkata baik kepada keluarganya.

Dalam seminggu bisa sampai tiga kali membuat keluarganya menangis dengan perilakunya itu. Saking buruknya ibunya menjuluki Domingus sebagai anak dajal.

“Di situ saya menangis mendengar kalimat dua kalimat syahadat. Dalam pikiran saya apa makna dari syahadat,” ujarnya berkisah mendengar syahadat dari dua orang yang sedang menjadi mualaf.

Selain itu ia juga terinspirasi dari akhak baik seorang ustaz yang ia kenal yakni Syamsul Arifin Nababan.
Dia terus kepikiran akhlak baik ustaz dan ingin menjadi mualaf.

Kemudian Domingus bercerita kepada mandornya soal keinginanya tersebut. Mandornya itu menanyakan kesungguhannya. Dia meyakinkan mandornya bahwa bersungguh-sungguh ingin menjadi mualaf.

Ketika ia menyampaikan niatnya ingin masuk Islam pada kedua orangtuanya, mereka sangat terkejut. Terlebih lagi ibunya merupakan seorang pendeta.  Namun akhirnya kedua orangtuanya menyetujui pilihannya.

Sang mandor pun  memberitahukan niat Domingus kepada ustaz Nabababan. Ustaz Nababan memfasilitasi Domingus ke Jakarta untuk bersyahadat dan tinggal di pondok pesantren An Nabba.

Sesampainya di pondok, dia syahadat. Menurutnya setelah mengucapkan syahadat hatinya terasa tenang. Beban-beban yang ada dipikirannya hilang dan mulai belajar Islam lebih mendalam. Dia lalu berganti nama menjadi Muhammad Arfan.

“Alhamdulillah awalnya saya belajar Iqro, saya awalnya melihat Iqro itu saya pusing,” katanya.

Dengan menjadi mualaf dia berharap bisa berperilaku baik dan  sudah mulai ada perubahan. “Mulai masuk Islam perilaku saya udah mulai berubah walau belum 100 persen,” tuturnya yang kini menetap di pesantren tempat ia bersyahadat, seperti dilansir merdeka.com, Rabu (14/6/2017).

Advertisement