ANCAMAN Iran untuk menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur penting angkutan minyak dunia, tidak saja bakal mengganggu negara produsen dan pengimpor, tetapi bisa memicu krisis ekonomi global akibat naiknya harga emas hitam itu.
Iran kembali mengancam akan menutup Selat Hormus yang berlokasi antara Teluk Persia dan Teluk Oman denganĀ lebar 51 Km akibat keputusan Presiden AS Donald Trump mencabut keringanan sanksi bagi negara-negara pembeli minyak dari Iran (14/5).
Situasi memanas akibat terjadinya penyerangan terhadap dua kapal tanker pengangkut minyak milik Arab Saudi dan masing-masing satuĀ milik Norwegia dan UEA yang melintas di selat sempit tersebut beberapa hari lalu.
Eskalasi permusuhan sebenarnya mulai muncul lagi pasca penarikan diriĀ AS dari kesepakatan nuklir Iran bersama negara penandatanganan lainnya yakni China, Jerman, Inggeris, Perancis dan Rusia (6 plus 1) pada 8 Mei, 2018Ā atau tepatnya setahun lalu.
Kesepakatan itu mengikat Iran untuk menghentikan program nuklirnya dan sebagai imbalannya, keenam negara tersebut mencabut sanksi embargo dan bisa berinvestasi termasuk di sektor perbankan di Iran.
Perkembangan terakhir, AS selain meneruskan sanksi ekspor Iran, juga mencabut dispensasi sanksi bagi negara yang masih mengimpor minyak dan berinvestasi di Iran setelah Iran menyebut tentara AS di luar negeri sebagai teroris untuk merespons julukan sama terhadap pasukan Garda Revolusi Iran.
Mengenai rencana penutupan Selat Hormuz, Panglima AL Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Jenderal Alireza Tangsiri Ā mengatakan, hal itu akan dilakukan jika negaranya Ā dilarang menggunakannya.
āSelat Hormuz adalah jalur pelayaran, hingga jika kami dilarang menggunakannya kami akan tutup, āujarnya pada kantor berita Faz (14/5).
Sebaliknya, dengan dalih untuk melindungi keselamatan pasukannya yang ditempatkan di sejumlah negara di Timur Tengah, AS pun mengirimkan gugus tugas armadanya termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln ke Teluk Persia (8/5).
Selat Hormuz begitu strategis karena diliwati sepertiga kapal pengangkut minyak dunia dan lokasi lima dari 10 produsen minyak terbesar dunia yakni Arab Saudi, Irak, Kuwait, Iran dan UAE yang memproduksi 28 juta barel sehari, belum lagi Qatar dan Oman yang menghasilkan 90 juta metrik ton gas alam.
Iran mampu memiliki kontrol yang kuat di Selat Hormuz karena menguasai Pulau Tuub Besar, Pulau Tuub kecil dan Pulau Abu Musa yang berada di tengah selat .
Sebelumnya, UEA juga mengklaim ketiga pulau tersebut, namun Mahkamah Internasional memenangkan Iran.
Jika eskalasi perang antara AS dan Iran terus memburuk, yang rugi tidak saja negara negara-negara yang terlibat perang, tetapi juga negara-negara lain yang mengandalkan energi dari impor minyak karena bakal melonjak harganya. (AP/Reuters/Ns)





