
CHINA untuk kesekian kalinya kembali menggertak Taiwan yang masih diklaim bagian dari wilayahnya dengan mengerahkan puluhan jet tempur dan armada AL-nya meliwati median Selatan Taiwan (Sabtu, 19/8).
Selain 42 unit pesawat temput J-16 dan J-19, menurut laporan kemenhan Taiwan, China juga mengerahkan delapan kapal perang dalam latihan di Selat Taiwan sebagai aksi protes atas kedatangan Wakil Presiden Taiwan William Lay ke AS baru-baru ini.
Lay yang merupakan kandidat kuat capres Taiwan pada pemilu mendatang, mampir di AS dan menyampaikan orasi dari lawatan resmi ke salah satu negeri yang mengakui kedaulatan Taiwan, Paraguay di Amerika Selatan baru-baru ini.
Tentara Pembebasan China (PLA) mengaku, mereka menggelar latgab melibatkan kapal-kapal perang dan patroli udara di Selat Taiwan dalam skenario simulasi operasi militer untuk mengepung Taiwan dan seluruh penjuru.
China tidak menghendaki simbul-simbul terkait status Taiwan sebagai negara berdaulat, baik berupa kunjungan pemimpin atau parlemen negara lain atau sebaliknya lawatan pemimpin Taiwan ke negara lain tanpa seizinnya.
Sebelumnya, China juga pernah meradang dan langsung menggelar latihan militer berupa simulasi untuk merebut pulau yang diklaim miliknya. Dalam berbagai kesempatan, pemimpin China juga bertekad untuk merebut Taiwan suatu saat nanti.
Intinya, Taiwan sama sekali tidak menoleransi setiap kegiatan yang dilakukan AS dan Taiwan di wilayah yang diakuinya sebagai bagian dari provinsi di China daratan.
Sebaliknya, AS walau tidak memiliki relasi diplomatik dengan Taiwan karena menganut kebijakan “One China Policy”, terus memupuk kemampuan militer Taiwan dan terikat dalam komitmen untuk melindunginya dari serangan China.
Perimbangan Militer
Ancaman demi ancaman dilontarkan China untuk merebut kembali Taiwan yang diklaim sebagai wilayahnya, sebaliknya Taiwan juga terus mengasah kemampuannya untuk mempertahankan diri.
Global Firepower mencatat, posisi kekuatan militer China dan Taiwan bagi langit dan bumi. China bertengger di ranking ke-3 setelah Amerika Serikat dan Rusia, sementara Taiwan di posisi ke -22.
Belanja militer PLA 2023 menurut Global Firepower sebesar 224,79 miliar dollar (sekitar Rp3,4 quadriliun), sebaliknya Taiwan hanya mengalokasikan 13,7 miliar dollar AS (sekitar Rp207,2 triliun) atau hanya sekitar seperenam belasnya..
PLA memiliki tiga juta personil, AU-nya mengoperasikan 3.170 pesawat berbagai jenis, AL dengan 714 kapal perang termasuk tiga kapal induk, 76 kapal selam, AD memiliki 13.500 tank. Sebaliknya annggaran militer Taiwan hanya 13,7 miliar dollar AS (sekitar Rp207,2 triliun)
Ambisi China menguasai dunia, tampak nyata, awalnya dengan membeli persenjataan ex-Uni Soviet, meniru atau dengan lisensi, lalu membuat sendiri, bahkan kini sudah menjadi negara pengekspor alutsista utama global.
Selain membangun kekuatan nuklirnya, China ikut bersaing dalam lomba persenjataan konvensional, misalnya pesawat tempur generasi ke-5 “elang hitam” Chengdu J-20 berkemampuan siluman dan rudal penghancur kapal induk Dongfeng DF-21.
Sebaliknya, kekuatan Taiwan walau jauh lebih kecil, dengan personil 300.000 orang, 300 pesawat tempur, 87 kapal perang dan sekitar 1.855 tank tidak bisa dianggap enteng, karena selain terlatih juga canggih.
AU Taiwan didukung lebih 100 pesawat tempur “Elang Tempur F-16 C/D buatan AS yang kemampuannya ditingkatkan menjadi F-16 Viper, pesawat Mirage 2000-5 buatan Perancis dan Chengko F-CK1 buatan lokal yang keandalannya setara dengan F-16.
Ancaman demi ancaman dilontarkan China untuk merebut kembali Taiwan yang diklaim sebagai wilayahnya tersebut, sebaliknya Taiwan juga terus mengasah kemampuannya untuk mempertahankan diri.
Global Firepower juga menempatkan perbandingan kekuatan militer China dan Taiwan bagai langit dan bumi. China di ranking ke-3 setelah Amerika Serikat dan Rusia, sementara Taiwan di posisi ke -22.
Masalahnya, jika Taiwan sampai diserbu China, sama juga menyeret kekuatan raksasa AS bersama 30 anggota Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang serta merta akan mendukungnya.
Penyelesaian isu Taiwan melalui perang sangat tidak realistis, karena bisa berujung malapetaka bagi pihak-pihak yang terlibat dan rakyat yang sengsara menderita akibat resesi ekonomi global.




