
TIDAK sekedar mengancam, Amerika Serikat (AS) resmi memulai blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Selat Homuz, Senin (13/4), sebaliknya Iran mengancam akan menyerang negara-negara pendukung AS di Teluk.
Langkah ini diambil Presiden AS Donald Trump menyusul kebuntuan dalam perundingan damai yang diikuti delegasi kedua negara yang berlangsug secara maraton selama 21 jam di Islamabad, Pakistan, Sabtu (11/4).
Sebagai respons atas aksi sepihak AS itu, Teheran mengancam akan membalas dengan menyerang pelabuhan-pelabuhan negara tetangganya di kawasan Teluk.
Presiden Trump menegaskan, blokade ini merupakan upaya untuk memastikan Iran tidak memiliki akses terhadap senjata nuklir.
Meski menyebut pihak Iran sempat menjalin kontak untuk mencapai kesepakatan, Trump menyatakan tidak akan menoleransi syarat apa pun yang memungkinkan Teheran mengembangkan persenjataan nuklir.
“Iran tidak akan memiliki senjata nuklir,” tegas Trump kepada wartawan di Gedung Putih, sebagaimana dilansir Reuters.
Sementara itu Wapres AS JD Vance yang memimpin delegasi Washingtin di Pakistan, mengungkapkan, meskipun pembicaraan berakhir tanpa kesepakatan, ada kemajuan besar dalam komunikasi antar kedua negara.
“Teheran mulai mendekat ke arah kami, itulah mengapa menurut saya ada tanda-tanda baik, tetapi mereka belum bergerak cukup jauh,” ujar Vance kepada Fox News.
Vance menuturkan, Trump bersikeras agar seluruh material nuklir yang diperkaya harus dikeluarkan dari Iran dengan mekanisme verifikasi yang ketat.
Blokade AS ini memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi, tercermin dari harga minyak dunia yang melonjak ke level 180 dolar AS per barrel di tengah ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz.
Jubir Kementerian Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Reza Talaei-Nik memperingatkan bahwa keterlibatan militer asing di selat tersebut hanya akan memperburuk krisis.
Saling klaim kemenangan juga dilontarkan oleh kedua belah pihak.Trump mengeklaim kemenangan total usai AS Gencatan Senjata AS dengan Iran.
Di sisi lain, pihak militer Iran menyebut tindakan AS sebagai bentuk perompakan. “Jika pelabuhan Iran terancam, maka tidak ada pelabuhan di Teluk atau Teluk Oman yang akan aman,” tegas jubir militer Iran.
Komando Pusat AS atau Central Command (Centcom) menyatakan bahwa blokade akan diberlakukan secara adil terhadap semua kapal yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran.
“Blokade ini tidak akan menghalangi jalur transit netral melalui Selat Hormuz menuju atau dari destinasi non-Iran,” tulis pernyataan Centcom dalam nota kepada para pelaut.
Senjata dari China
Sementara itu, Presiden Trump merespons keras informasi intelijen AS, yang mengindikasikan China sedang mempersiapkan pengiriman sistem pertahanan udara baru ke Iran dalam beberapa pekan ke depan.
Informasi ini diungkap oleh tiga sumber yang mengetahui penilaian intelijen terbaru. Menurut sumber-sumber tersebut yang dilansir CNN, Minggu (12/4), China diduga akan mengirimkan rudal-rudal panggul (manpad) anti pesawat ke Iran.
Pengoperasian sistem rudal ini merupakan ancaman asimetris bagi pesawat militer yang terbang rendah, termasuk milik Amerika Serikat selama konflik lima minggu terakhir.
Dua sumber menyebutkan adanya indikasi bahwa Beijing berupaya menyamarkan asal pengiriman tersebut dengan menyalurkannya melalui negara ketiga.
Intelijen AS juga melihat bahwa Iran kemungkinan memanfaatkan masa gencatan senjata untuk mengisi kembali persenjataan dengan bantuan mitra asing.
Trump menanggapi laporan tersebut, dengan memperingatkan, China akan menghadapi konsekuensi serius jika benar mengirimkan senjata ke Iran.
“Jika China melakukan itu, Ia akan menghadapi masalah besar, oke?” ujar Trump kepada CNN saat meninggalkan Gedung Putih menuju Florida. Trump tidak menjelaskan apakah ia telah membahas isu dengan Presiden China Xi Jinping, namun Pemerintah China membantah keras tuduhan tersebut.
Jubir Kedubes China di Washington mengatakan, “China tidak pernah memberikan senjata kepada pihak mana pun dalam konflik, informasi tersebut tidak benar.”
Ia menambahkan, “Sebagai negara besar yang bertanggung jawab, China secara konsisten memenuhi kewajiban internasionalnya. Kami mendesak pihak AS untuk tidak membuat tuduhan tanpa dasar, mengaitkan secara jahat, dan melakukan sensasionalisme. Kami berharap pihak-pihak terkait dapat berbuat lebih banyak untuk meredakan ketegangan,”
Sebelumnya, pihak kedutaan juga menyatakan bahwa sejak perang antara AS, Israel, dan Iran dimulai, Beijing telah berupaya membantu mewujudkan gencatan senjata dan mengakhiri konflik.
Konflik AS dan Iran terus memanas sehingga dikhawatirkan akan menyeret banyak negara dan berdampak buruk bagi perekonomian dunia. (Foxnews/CNNI/ns)




