spot_img

Semakin marak, kekerasan seksual pada anak

PARA orang tua diminta lebih berhati-hati dan waspada meningkatnya ancaman kekeraan seksual pada anak-anak akibat lemahnya upaya pencegahan, dan juga karena sebagian anak takut mengungkapkannya.

Ketua Komisi perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait baru-baru ini mengungkapkan, dari 2.737 kasus kekerasan anak yang dilaporkan selama tahun 2017, sebanyak 52 persen atau lebih separuhnya (1.424 kasus) berupa kekerasan seksual, 17 persen (477 kasus) kekerasan fisik, dan 11 kasus (satu persen) bentuk kekerasan lainnya.

Kemudian dari 1.424 anak yang mengalami kekerasan seksual, 54 persen atau juga lebih separuhya (771 anak) mengalami sodomi, 36 persen korban pencabulan dan 122 anak (sembilan persen) korban perkosaan dan selebihnya 20 anak korban incest.

Anak yang pernah mengalami pelecehan seksual dalam bentuk apa pun biasanya takut untuk mengungkap pengalamannya, oleh sebab itu setiap orang tua harus peka mengenali gerak-gerik anak jika berperilaku tidak seperti biasanya.

Kekerasan seksual fisik pada anak a.l. berupa sentuhan pada organ intim anak, meminta anak (korban) menyentuh bagian intim pelaku, membuat anak ikut bermain dalam permainan seksual atau memasukkan sesuatu dalam organ intim anak.

Sedangkan kekerasan non fisik pada anak; mempertunjukkan konten pornografi seperti video, TV, foto atau gambar, menyuruh anak berpose tidak wajar atau memaksanya menonton adegan hubungan seksual atau mengintip anak.

Menurut Ketua Aliansi remaja Indonesia Achmad Mujoko, perlu pendidikan seksual secara komprehensif bagi anak-anak sedini mungkin.

“Jadi, anak-anak sejak dini sudah harus mempu melawan (aksi pelecehan seksual) dan diajarkan tentang anatomi tubuhnya dan cara melindungi dirinya, “ kata Mujoko.

Komisioner KPAI Putu Elvina dalam seminar bertemakan upaya mengakhiri kekerasan pada anak di Jakarta (17/2) mengingatkan, pencegahan kekerasan terhadap anak harus berbarengan dilakukan dari hulu dan hilir.

Elvina menilai, aparat pemerintah terlalu disibukkan di sektor hilir jika terjadi kasus, sehingga lupa melakukan tindakan pencegahan, ditambah lagi acap terjadi tumpang-tindih program, sehingga selain tidak efektif, malah terjadi duplikasi anggaran.

Untuk itu ia berharap agar sinkronisasi program diperketat, dan dievaluasi sehingga tidak hanya berkutat di sektor hilir.
“Harus dilihat sasarannya apa dan siapa,kemana arahnya, instansi mana yang menanganinya, di wilayah mana, “ tutur Elvina.

Sementara Ketua Kalyana Mitra – organisasi pemerhati anak perempuan– Listyowati mengungkapkan satu diantara tiga anak di Indonesia mengalami kekerasan.

“Negara harus hadir untuk memberi rasa aman dan nyaman pada anak, baik di sekolah, pemukiman maupun ruang publik, “ tandasnya.

Mungkin saat ini negara sudah hadir, walau harus diakui masih jauh dari kondisi ideal. Kegiatan patroli kepolisian misalnya masih perlu ditingkatkan, juga sistem pelaporan on-line perlu pula dibangun.

spot_img

Related Articles

spot_img

Latest Articles