Kajian zuhur pada hari Selasa 15 Mei 2019 di KBRI Paris tidak seperti biasanya. Awalnya pengajian zuhur dimulai jam 14.00 waktu Paris. Tapi kini kok tidak ada kajian, hal inilah yang terbersit dalam hati Pak Abduh.
Lantas Pak Abduh bertanya ke pihak security Kedubes. Ternyata Kedubes akan kedatangan tamu besar yaitu Wapres Yusuf Kalla, sehingga pengajian diundur awalnya Pukul 14.00 menjadi 15.00. Staff Kedutaan berharap dapat berjamaah bersama Bapak Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Pak Abduh memberanikan diri menelepon saya (Ust Muhammad Zen, Dai Ambassador Dompet Dhuafa) mengapa kajian zuhur tidak ada, seperti biasanya. Saya menjawab pihak kedubes meminta untuk menunda kajian satu jam karena berharap kajian zuhur itu dapat dihadiri oleh Wapres dan rombongan.
Pak Abduh bercerita bahwa beliau sudah di Aula dan shalat lebih awal, baru menelepon Dai Ambassador Dompet Dhuafa yang ditugaskan di Perancis. Beliau bertanya mengapa tidak ada kajian dan berharap kajian tetap ada.
Satu jam bukanlah perkara yang cepat dan cukup lama menunggunya. Akhirnya sudah Pukul 15.00 namun tak tampak siapa-siapa di Aula, bahkan sampai Pukul 15.15. Akhirnya Pak Abduh mengusulkan kajian zuhurnya di mulai saja walaupun ia sendiri saja jamaahnya. Kalau tidak ada halangan kajian zuhur sebelumnya di KBRI Paris jamaahnya cukup banyak, kurang lebih ada 13 orang. Karena jadwalnya diundur dan Bapak Wapresnya juga tidak muncul-muncul, jamaah jadi sepi.
Acara pengajian pun dimulai. Akhirnya rasa kecewa Pak Abduh yang sudah hadir lebih awal Pukul 14.00 pun terobati. Saat itu kajian membahas Kitab Asy Shiyam karya Dr Mustofa Diba Albugo.
Seusai pengajian. Pak abduh bercerita, profesinya adalah sebagai pengacara dan kini juga bekerja sebagai motivator atau fasilitator.
Sebagai seorang pengacara ia memiliki kemauan belajar yang kuat tentang apa saja termasuk agama. Sehari-hari Pak Abduh selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan tarekat atau zikir. Melalui mudawamahnya zikir, ia mengakui dirinya menjadi lebih tenang dan tentram.
Melalui mengaji dan zikir ini juga yang mengantarkan Pak Abduh menjadi terkenal di Paris, ia mengobati orang yang terkena gangguan jiwa dan gangguan jin dengan zikirnya.
Ketenaran pak abduh ternyata tidak hanya di kalangan tetangga di sekitar rumahnya. Melainkan dikenal luas oleh preman dan para pedagang yang ada di menara Eiffel sebut saja Muhtar yang aslinya dari Sinegal menjadikan Pak Abduh sebagai ustadz bagi mereka.
Muhtar penjual aksesoris di menara Eiffel itu akhirnya sering mengikuti kajian dan zikir bersama Pak Abduh. Kenal dengan Pak Abduh juga saat Ia membeli aksesoris dari Muhtar.
“Muhtar menjual barang dagangannya kepada saya dengan harga spesial. Biasanya 1 aksesoris berbentu menara Eiffel di jual satu euro, dijual ke saya satu euro dapat tujuh aksesoris berbentuk menara Eiffel,” kata Pak Abduh.
Kata pak Abduh, “janganlah berhenti belajar karena Allah akan mengangkat derajat kita. Jangan menyerah dan teruslah belajar”.
Setelah saya renungkan ternyata inilah ajaran Islam yang menjelaskan Allah akan angkat derajat orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat (QS Almujadilah: 11). Waalahu a’lam
Ditulis Muhammad Zen
Dai Ambassador Perancis Dompet Dhuafa dan
Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta





