Semar mBangun Kahyangan

Prabu Betara Kresna beda pendapat dengan Lurah Semar.

KEDUDUKAN kepala desa atau lurah di Karangkebolotan bisa dijabat seumur hidup. Karenanya sedari dulu hingga kini, lurah Karagkebolotan tak pernah ganti, selalu Semar Badranaya. Banyak sebetulnya yang ingin menggantikan, tapi itu bertentangan dengan UU, sedangkan negeri Ngamarta cenderung sudah mantap dengan Semar sebagai lurah di Karangkebolotan. Pendek kata, Semar adalah sosok tak tergantikan.

Semar memang lurah yang jujur dan patuh pada pimpinan. Selama dia menjabat, target PBB selalu terpenuhi. KB juga lancar, terbukti angka kelahiran di Karangkebolotan bisa turun drastis. Ketika desa yang dipimpinya dapat Dana Desa Rp 750 juta, semua digunakan secara benar. Jalan-jalan di Karangkebolotan kini tampak mulus dan lebar.

“Kapan kita punya busway seperti di Jakarta?” kata Petruk bertanya pada Semar.

“Tunggu bis kiriman dari Cina,” jawab Ki Lurah Semar.

Padepokan Karangkebolotan yang selama ini tenang, aman dan damai, mendadak jadi heboh. Soalnya terbetik kabar bahwa Semar ingin membangun kahyangan. Prabu Puntadewa termasuk adik-adiknya, semua terkejut, termasuk penasihat politik Betara Kresna. Bagaimana mungkin Semar mampu, orang PAD (Pendapatan Asli Desa) saja masih begitu kecil. Dan yang lebih penting, kahyangan itu wilayah domain kalangan dewa, kenapa Semar berani-beraninya mau membangun. Bisa kuwalat nanti.

“Ini harus dicegah, karena di luar prosedur. Baru jadi lurah, Kyai Semar sudah sok kaya,” kata Prabu Kresna dalam pasewakan agung di Ngamarta.

“Kita jangan langsung main fatwa. Sebaiknya kakang Semar dipanggil dulu, diajak tabayun.” saran Prabu Puntadewa.

Dalam perbincangan maha penting semacam ini, mustinya Brataseno alias Werkudara bisa dimintai masukan. Namun sayang, kali ini dia absen dalam pertemuan. Menurut laporan sekretariat, Brataseno sedang sibuk menjalani sidang kasus  suap cetak sawah senilai Rp 1,9 miliar. Padahal ini lakonnya jelas-jelas bukan “Babad Alas Wanamarta.”

Belum juga Bethara Kresna angkat telepon untuk menghubungi Bratasena, tiba-tiba masuk Petruk anak Semar ke sitinggil. Semua terkaget-kaget. Sungguh tak bisa dirasani (jadi omongan) ini orang. Di kala punakawan Ngamarta jadi topik pembicaraan, mendadak Petruk datang. Sambil menyembah dan jalan pakai dengkul, semua hadirin disalami satu persatu. Namun semuanya salaman kosong, tak ada satupun yang memberinya uang.

“Baru tanggal 10, kok sudah nggak ada yang punya uang. Payah…” gerutu Petruk.

“Ini dalam sidang penting, Petruk. Bicara seperlunya,” tegur Harjuna selaku boss.

Kehadiran Petruk yang tanpa cecala (pemberitahuan) sebelumnya, sungguh bikin para pejabat Ngamarta ini penasaran. Prabu Puntadewa dan Prabu Bethara Kresna segera menghujaninya dengan sejumlah pertanyaan. Kenapa beredar isyu bahwa penguasa Karangkebolotan bermaksud membangun kahyangan? Dan kenapa pula Semar lama absen dalam pasewakan Ngamarta? padahal kini sudah disiapkan mesin absen finger print seharga Rp 4 miliar, lungsuran dari DPR karena di sana tidak efektif.

“Kahyangan mana yang hendak dibangun Semar? Ini pelecehan pada pengusaha Jonggring Salaka! Kamu jangan cengengesan, Petruk….!” hardik Prabu Kresna, emosi macam Ahok menghadapi koruptor di DKI.

“Dengar-dengar begitu, Sinuwun. Tapi saya nggak tahu, yang mau dibangun rama Semar ini kahyangan Jonggring Salaka, atau kahyangan di Ndlepih, Wonogiri (Jateng).” Jawab Petruk dengan terus cengengesan.

Petruk pun segera menjelaskan maksud kehadirannya ke Ngamarta. Di samping mengundang para petinggi Pandhawa – Dwarawati, juga sekaligus mau meminjam pusaka kraton berupa: songsong Tunggul Naga, tumbak Karawelang dan surat Jamus Kalimasada untuk kelengkapan upacara. Sayangnya, belum juga selesai Petruk matur (ngomong) langsung dipotong oleh Prabu Kresna.

“Nggak bisa! Bilang sama Semar, tidak ada peminjaman pusaka-pusaka kraton, dan takkan ada petinggi Pendawa mau hadir dalam upacara ra teges (tak bermutu).” Ujar Kresna, masih saja emosi.

“Lho, lho…..kok jadi begini. Saya ke Ngamarta mau ketemu Prabu Puntadewa, kok malah sampeyan yang sibuk menjegal keinginan rama Semar. Mana saya gubris,” jawab Petruk juga mulai kasar. Raja Dwarawati cuma disampeyan-sampeyankan.

Tahu sendiri, Petruk kalau sudah emosi siapapun dilawan. Dia tak takut dipecat, tak takut nggak bisa makan. Sadewa si bungsu Pendhawa yang tahu gelagat, segera menyilakan Petruk keluar dulu, nanti keputusan yang adil dan bijak akan segera diberikan oleh Prabu Puntadewa.

“Tapi jangan lama-lama macam ngurus sertipikat tanah,” kata Petruk ragu.

“Nggak Petruk. Ini macam ngurus SIM sehari jadi, kok.” Jamin Sadewa.

Petruk keluar dan terus menunggu di kori Brajanala. Namun dari pukul 10.00 hingga jam 12.00 saat makan siang, tak ada juga panggilan, Padahal perut sudah mulai keroncongan, mana keuangan lagi nipis.

Lama-lama Petruk jengkel juga, beginilah caranya penguasa mengurus rakyatnya? Dikritik, didemo berulangkali tak juga mempan. Saking kesalnya, uang di kantong yang tinggal Rp 5.000,- dibelikan bensin dan geretan. Tak lama kemudian Petruk sudah bermandi api, bakar diri di depan istana Indraprasta. Brandwir yang datang kemudian mencoba menyelamatkannya. Petruk pingsan dengan kondisi tubuh hitam legam.

Sadewa sangat masygul atas kejadian ini. Petruk jadi korban akibat sikap penguasa mencurigai setiap kegiatan rakyatnya. Petruk yang dalam kondisi pingsan dibawa kembali ke Sitinggil. Untuk uji materi siapa yang benar dalam hal ini, Sadewa menawarkan solusi, bagaimana bila para petinggi Ngamarta bertapa di depan Gedong Pusaka.

“Jika kangmas Bethara Kresna yang benar, niscaya pusaka-pusaka kraton tetap pada posisi. Tapi jika yang benar Semar, pusaka kerajaan pasti pergi.” Tantang Sadewa.

“Oke, aku ngikut saja. Siapa takut?” jawab Kresna jaga gengsi.

Sementara Petruk dilarikan ke rumahsakit, Prabu Puntadewa, Prabu Kresna, Nakula Sadewa dan Harjuna segera semedi di depan Gedong Pusaka di dalam Istana Indraprastha. Mereka menutup babahan hawa sanga (baca: tak peduli duniawi) meski hanya untuk sementara. Kalau untuk permanen, ya nanti dulu.Wong masih suka nyawer di Mangga Besar.

Tepat pukul 24.00 mendadak pusaka kraton berupa tombak Karawelang, Jamus Kalimasada dan payung Tunggulnaga keluar dari Gedong Pusaka, dan terbang ke arah timur, sepertinya menuju ke Karangkebolotan. Jelaslah sudah, siapa benar dan siapa salah. Tapi yang namanya Bethara Kresna memang suka ngeyel.

“Bukan, pusaka itu keluar mau cari angin. Kegerahan karena AC mati, gara-gara litrik PLN mati melulu,” kata Kresna cari alasan.

“Terserah kangmas Prabu, saya mau ketemu Semar malam ini juga.”

“Saya juga, dimas Sadewa.” Jawab Prabu Puntadewa ikut-ikutan. Payah, raja kok kerjanya membebek saja.

Rombongan keluarga Pendhawa berangkat ke Karangkebolotan dengan pakai bis Hiba. Saat istirahat di Sukamandi, Prabu Kresna pura-pura ke toilet, tapi  kemudian tak bergabung lagi, entah ke mana. Walhasil rombongan tiba di Karangkebolotan minus Kresna. Malu ati, ngkali.

“Kalian bawaannya memang curiga melulu. Kayangan itu juga bisa berarti jiwa dalam hatiku ini. Jadi intinya, sebagai pribadi Semar aku ingin membangun jati diri.” Kata Semar kepada para tamu.

“Oo, lakon wayang kegemaran Pak Harto dulu?” tukas Kresna yang tiba-tiba muncul dari belakang. Tapi wajahnya nampak eliiiik sekali.

Semua tamu bertepuk tangan, kecuali Prabu Kresna. Dia memang benar-benar kehilangan muka. Karena apa yang diyakini berdasarkan kekuasannya, ternyata tidak benar. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement