
TIDAK seorang pun mampu memastikan, eskalasi gertak-menggertak antara dua bangsa serumpun dan tetangga bersebelahan, Korea Utara dan Korea Selatan yang didukung Amerika Serikat, akan “berbuah” konflik terbuka.
Dalam parade militer peringatan HUT ke-105 tokoh pendiri bangsa Kim Il Sung di Pyongyang, Sabtu, Korut unjuk gigi kekuatan mesin perangnya dengan memamerkan 60 jenis rudal , termasuk rudal-rudal darat ke udara (SAM) dan sejumlah rudal balistik yang dikembangkannya.
Seperti biasa, dalam rangkaian even yang disebut “hari matahari” itu Korut juga menggelar uji coba rudal balistik yang menurut laporan intelijen Korsel, gagal dan meledak sesaat setelah melesat dari pusat peluncuran Sinpo, pantai timur Korut.
Ribuan personil satuan ketiga matra (AD, AU dan AL) termasuk satuan korps wanita berseragam rok mini berbaris gagah, diiringi gemerisik roda-roda besi tank tempur utama (MBT) dan kendaraan artileri berat ex-Russia.
Dengan lebih satu juta prajurit ditambah tujuh juta anggota cadangan, Korut menjadi kekuatan perang raksasa yang sangat disegani di kawasan Asia dan menjadi momok menakutkan bagi musuh bebuyutannya, Korsel.
Pada awal Perang Korea, berbekal keunggulan jumlah personil, Korut didukung Tiongkok sempat mengagetkan, merangsek ke ibukota Korsel, Seoul sebelum dipukul balik oleh pasukan gabungan Korsel dan koalisi PBB dipimpin AS yang lebih mengandalkan teknologi mesin perang.
Jaminan bahwa AS tidak akan tinggal diam jika Korsel menyerangnya dengan rudal-rudal balistik dan gelombang pasukan yang menjadi keunggulannya, diulang lagi oleh Wapres AS, Mike Pence yang sedang berada di Seoul.
Pence, menyebutkan ujicoba rudal Korut yang bertepatan dengan lawatannya ke Korsel adalah peringatan atas kemungkinan risiko yang dihadapi rakyat Korsel setiap hari. ”AS mendukung Korsel sepenuhnya untuk menghadapi ancaman Korut, “ kata Pence menandaskan.
Bantuan AS memang tidak sekedar basa-basi. Sekitar 28.500 anggota pasukannya didukung 140 pesawat tempur F-16 generasi terakhir, 70 helikopter serang Apache dan tank-tank M1A1 Abrams sudah ditempatkan dan digelar di wilayah Korsel.
Gugus tugas AL AS dipimpin kapal induk USS Carl Vinson sudah hadir pula di Laut Pasifik Barat, sementara sistem rudal anti rudal area pertahanan di ufuk tinggi (Terminal High Altitude Area Defence-THAAD) ) dan Patriot juga sudah disiapkan di wilayah Korsel guna mencegat serangan rudal-rudal musuh.
Perang Korea yang menyeret Rusia dan Tiongkok berada di belakang invasi mendadak Korut ke wilayah Korsel merenggut nyawa ribuan tentara dan penduduk warga sipil. Korsel di pihak lain didukung koalisi pasukan PBB berintikan AS, Inggeris, Kanada dan Australia.
Jika perang terbuka pecah kali ini, tentunya jumlah korban akan meningkat, mengingat semakin canggihnya senjata pemusnah massal yang dimiliki kedua belah pihak, apalagi jika Korut menggunakan senjata nuklirnya.
Perang Korea yang berlangsung antara 25 Juni 1950 sampai 27 Juli 1953 merenggut nyawa 50.000 serdadu AS, 673.000 tentara Korsel dan pihak Korut kehilangan 150.000 tentara dan Tiongkok 145.000 pasukannya , belum termasuk jutaan warga sipil kedua belah pihak yang tewas dan luka-luka.
Perang terbuka, jika tidak terelakkan, hanya melahirkan duka dan kesengsaraan bagi rakyat dan kemunduran bagi bangsa dan negara yang terlibat, walau mungkin akan mengubah konstelasi politik di dalam negeri Korut, di kawasan (Semenanjung Korea), dan mungkin di dunia. (AP/Reuters/NS)




