JAKARTA – Dompet Dhuafa menyampaikan amanah kepada mitra-mitra TBM untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat dhuafa melalui sarana belajar lokal, seperti Taman Baca Masyarakat (TBM).
Salah satu mitra tersebut ialah TBM Edelweiss yang berada di Jl. Bakti Pramuka RT 11/RW 01 Kelurahan Kamal, Kecamatan Kali Deres, Jakarta Barat. Bantuan yang diberikan dari mulai modal hingga pendampingan dalam mengelola taman baca.
Selama dua tahun, kehadiran TBM Edelweiss masih berupaya menjalankan fungsinya semaksimal mungkin.
Meski sempat terhenti dengan pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), kemudian dalam masa transisi dibuka kembali dengan tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.
“Beberapa anak sempat menyampaikan ke kami, melalui orang tuanya kalau mereka kangen untuk belajar di sini (TBM Edelweiss),” jelas Siti Marseha salah satu pengajar TBM Edelweiss, ketika ditemui dikediamannya oleh tim Dompet Dhuafa, Jum’at (13/11/2020), dilaporkan Fajar.
Selain menyediakan aneka macam buku, Taman Baca Masyarakat (TBM) Edelweiss juga menghadirkan program pembelajaran seperti Membaca Buku, Pendidikan Adab dan Karakter, Bahasa Arab dan Inggris, Matematika, Seni, serta aneka Permainan Tradisional.
Pengajar juga merupakan relawan-relawan mitra TBM Edelweiss untuk bersama-sama membantu memberikan pembelajaran yang mumpuni.
Sedangkan untuk sesi belajar, dalam seharinya dibagi dalam tiga waktu: sesi untuk jenjang PAUD dari jam 09.00 – 11.00 pagi. Sesi kedua untuk jenjang TK di rentang waktu 15.30 – 17.30. Dan terakhir untuk jenjang SD 19.30 – 20.30. Dengan total keseluruhan murid mencapai 50 anak.
Muhammad Ma’ruf selaku salah satu pendiri TBM Edelweiss mengakui pendirian taman baca bukan tanpa hambatan. Terutama di tengah gempuran era digitalisasi dan minat baca masyarakat yang rendah.
“TBM ini berdiri 16 Januari 2019. Awalnya memang hanya perpustakaan, belum mengarah ke taman baca. Namun pada saat sebelum dinamakan TBM Edelweiss beberapa anak-anak sudah sempat datang ke sini, walaupun memang hanya untuk melihat-lihat dan tidak membaca atau sekedar bermain dengan teman sebayanya,” terang Muhammad Ma’ruf.
“Akhirnya kita coba hadirkan program-program literasi untuk memunculkan minat baca mereka. Paling tidak kami berharap minat membaca mereka muncul. Karena cukup menyayangkan jika jumlah buku yang banyak tapi minat bacanya masih sedikit,” tambah lelaki yang biasa disapa Bang Rauf.
Kini hadirnya TBM Edelweiss mampu menjawab kebutuhan masyarakat akan pendidikan. Serta menjadi inspirasi bagi masyakarat yang ingin mendirikan taman baca serupa di wilayah mana pun.




