JAKARTA – Dewa Gede Suma Adnyana (27), seorang guru honorer di salah satu Sekolah Menengah Atas yang ada di Kabupaten Gianyar, Bali, yang saat ini sedang mencoba mengadu nasib di Jakarta, membulatkan niat menjadi muallaf.
Keinginannya untuk memeluk Islam sudah lama ada dihatinya, bahkan ketika dia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Ketika itu Dewa, sapaan akrabnya kerap menonton ceramah-ceramah agama Islam dari Dai-dai Nasional Indonesia, seperti Almarhum KH. Zainuddin MZ, Almarhum KH. Muhammad Arifin Ilham dan dai-dai lainnya.
Sehingga akhirnya ia tertantang mencoba membuka beberapa kitab suci dari agama lain, selain dari Islam. Perlahan tapi pasti, benih-benih hidayah sudah mulai tumbuh dan menemukan penjelasan lebih lengkap di dalam Al-Qur’an.
Setelah menjalani rutinitas keseharian menjadi guru sejarah, semakin hari semakin tak terbendung keinginan untuk lebih dalam lagi mengenal Islam. Namun ujian datang tak ada hentinya, orang tua Dewa tak mengizinkannya untuk masuk ke dalam agama Islam.
“Silahkan kamu masuk Islam dan meninggalkan Bali. Tapi tunggu kami telah tiada,” tutur Dewa, menirukan kata-kata yang disampaikan orang tuanya, sebagaimana dikutip dari Dompetdhuafa.org.
Kegigihannya untuk masuk Islam akhirnya meluluhkan hati kedua orang tuanya. Akhirnya Dewa di izinkan untuk masuk Islam dan mengikuti kehendak yang diinginkan anaknya.
Alhamdulillah tepatnya hari Selasa (10/9/2019) pukul 21.30 WIB, Dewa mengikrarkan dua kalimat syahadat dihadapan para muallaf lainnya dengan bimbingan Ustadz Muhammad Aris Alwi, selaku Koordinator Respon Muallaf di Pesantren Muallaf Dompet Dhuafa.
Kini Dewa memiliki nama Islam Ahmad Thoriq, dan berkomitmen untuk belajar bersama di Pesantren Muallaf Dompet Dhuafa bersama para asatidz dan para muallaf lainnya, dan berharap iman Islamnya dikuatkan Allah.





