
ALIH-ALIH mereda, konflik berdarah di Suriah yang sudah berlangsung lebih enam tahun, semakin menjadi-jadi setelah Amerika Serikat melancarkan serangan rudal Tomahawk untuk merespons penggunaan senjata kimia, diduga oleh pasukan rezim Presiden Bashar al-Assad.
Dua kapal perusak AL AS, USS Porter dan USS Ross yang sudah berada di Laut Tengah, Kamis dini hari (6/4) meluncurkan 59 rudal jelajah Tomahawk ke pangkalan udara AU Suriah di Shayrat, dekat kota Homs yang menjadi gudang senjata, depot bahan bakar dan hanggar pesawat tempur Sukhoi SU-22, SU-24 dan MiG-23.
Sembilan dari tiga jenis pesawat tempur yang diduga telah digunakan beberapa hari sebelumnya untuk menjatuhkan bom-bom atau rudal berhulu ledak zat kimia di kota Khan Sheikhoun, Propinsi Idlib (4/4) tersebut dilaporkan hancur akibat hantaman rudal.
Tomahawk adalah rudal jelajah tidak kasat radar karena terbang di ketinggian rendah mengikuti kontur permukaan bumi, dan sudah teruji kemampuannya (combat proven) menghancurkan bungker-bungker, pusat komando dan “jantung” militer pasukan rezim Saddam Husein lainnya pada Perang Teluk I (Januari ‘90).
Sebelumnya, masyaralat dunia kecuali negara pendukung rezim al-Assad terutama Rusia mengecam keras aksi pembantaian dengan senjata kimia di Khan Sheikhoun (Selasa, 4/4) yang menewaskan 86 warga sipil, termasuk puluhan anak dan perempuan.
Bahan kimia yang dimuat di hulu ledak roket atau bom barrel kemungkinan senyawa kimia sarin (C4H10F02P), mengingat korban yang didiagnosa mengalami penyempitan pupil mata, sesak nafas dan mual sebelum meregang nyawa.
Walaupun ikut menandatangani protokol PBB tentang Larangan Penggunaan Senjata Kimia, kemungkinan rezim al-Assad masih menyimpannya. Sebaliknya, aksi sepihak yang dilancarkan oleh AS didukung oleh sekutu-sekutunya di daratan Eropa seperti Inggeris, Israel, Jerman dan Perancis serta sejumlah negara di kawasan Asia seperti Arab Saudi, Jepang dan Turki.
Ke Meja Perundingan
RI sendiri mengambil sikap, mendorong semua pihak yang bertikai untuk mengedepankan solusi damai, di satu pihak mengecam penggunaan senjata kimia apa pun alasannya, namun di pihak lain juga menyayangkan aksi unilateral atau sepihak yang dilancarkan AS tanpa persetujuan PBB.
Rezim Bashar al-Assad yang paling meradang dan bereaksi keras terhadap serangan AS ke negaranya dengan menyebutkan hal itu adalah tindakan bodoh dan tidak bertanggungjawab serta menunjukkan kepicikan politik dan militer AS..
Presiden Rusia, Vladimir Putin yang negaranya selalu berada di belakang rezim al-Assad menganggap aksi sepihak AS sangat melukai hubungan AS- Rusia dan mendesak agar PBB menggelar pertemuan darurat guna membahas langkah AS itu.
Iran yang berseberangan dengan AS sejak era revolusi yang dilancarkan oleh Ayatullah Ruhollah Khomeini juga mencela aksi AS menyebutkan, selain serampangan menuduh pihak yang menggunakan senjata kimia, serangan AS itu justeru menguntungkan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS).
Sementara bagi AS sendiri, opsi serangan terhadap Suriah pernah diwacanakan saat kepemimpinan presiden sebelumnya, Barrack Obama pasca pemboman dengan senjata kimia, diduga dilakukan AU Suriah di dekat Damaskus pada 2013 yang menewaskan 1.000 orang, mayoritas warga sipil.
Entah apa alasannya, rencana AS tersebut urung dilakukan, namun Donald Trump yang saat Pemilu lalu mengkampanyekan agar AS menghindari intervensi terhadap negara lain, justreru saat ini melakukannya.
Trump mengaku, sikapnya berubah setelah menyaksikan, serangan gas beracun oleh AU Suriah di Idlib yang merenggut puluhan nyawa anak-anak dan kaum perempuan telah meliwati batas yang bisa ditoleransi.
“Bayi-bayi mungil ikut terbunuh akibat serangan sangat barbar itu, “ ujarnya di sela-sela pertemuannya dengan tamu negara, Presiden China Xi Jinping di Florida, Jumat.
Gagal sadarkan al-Assad
Presiden Donald Trump pada bagian lain menambahkan, berbagai upaya yang dilakukan bertahun-tahun untuk mengubah perilaku al-Assad selalu menemui kegagalan, dan kali ini, menurut dia, semua akan berakhir secara dramatis.
Aksi yang diambil Trump kali ini, bisa jadi akan menarik simpati rakyat AS dan masyarakat internasional yang kerap bingung pada pembawaannya yang kontroversial sehingga menuai protes.
Namun bisa juga muncul skenario terburuk, jika Rusia yang sangat berkepentingan di Suriah dan selalu berada di belakang rezim al-Assad tidak mau kehilangan muka, turun langsung ke Suriah berhadapan-hadapan dengan AS.
Kemungkinan itu ditepis oleh pihak lain, mengingat walau Presiden Rusia Putin mendukung Suriah di bawah al-Assad, hubungannya dengan Trump juga cukup hangat, tercermin dari reaksi Rusia yang tidak cukup keras terhadap serangan rudal Tomahawk yang dilancarkan AS terhadap Suriah.
Sejumlah kemungkinan bisa saja terjadi ke depan terkait nasib Suriah, namun yang jelas, perdamaian di negeri itu agaknya semakin jauh diwujudkan. (AP/AFP/Reuter/NS)




