SEPERTI halnya makhluk ngercapada (bumi), kalangan dewa juga memiliki nafsu. Nafsu menumpuk harta, nafsu akan wanita. Bedanya dengan manusia, mereka tidak mengenal kematian. Soalnya lahan di kahyangan Jonggring Salaka luasnya tak terhingga, sehingga bisa menampung dewa-dewa yunior seberapa pun. Beda dengan manusia, jika tak dibatasi dengan aplusan hidup (kematian), Jakarta pasti semakin padat sehingga rumah DP nol rupiah sudah dilaksanakan sejak Gubernur Bang Ali dulu.
Bagi kalangan dewa, nafsu birahinya sangat dominan. Maka SBG (Sanghyang Bethara Guru) yang sudah beristrikan bidadari Dewi Uma, masih ngiler juga lihat Anjani yang bugil di telaga Madirda. Begitu juga Bethara Surya, dia terkenal sebagai dewa paling thuk-mis, tak boleh lihat perempuan cantik. Dewi Windradi istri Resi Gutomo dikencaninya, Dewi Kunthi begitu juga. Andaikan tahu ada Dewi Persik di ngercapada, pasti masuk target dia.
“Kakang Narada, apa perlu kita bikin PP-10, sehingga dewa tak berani lagi berkencan dengan banyak wanita?” usul SBG dalam sidang di Bale Maracakunda.
“Brekencong waru doyong. Elek-elek….. Itu akan jadi bumerang, adhi Guru. Karena sampeyan, atau kita, juga punya hobi yang sama.” jawab Bethara Narada memberi pandangan.
Karenanya konsep SBG batal masuk badan legislasi, sehingga para dewa pun semakin hobi mengumbar syahwat. Adalah Sanghyang Sentanu, dewa honorer yang bekerja di Istana Bale Marcakunda. Sifat mata keranjangnya makin terpupuk karena tiap malam Minggu SBG karaokean di Alexus, nyanyi-nyanyi dengan para bidadari cantik. Ada yang lagu-lagu pop, jazz, kroncong sampai campursari. Di situlah Sanghyang Sentanu punya kesempatan seluas-luasnya untuk cuci mata.
Sekali waktu SBG menggelar Kahyangan Idol, mencari bakat bidadari penyanyi. Dewan jurinya diketuai ibu negara, Dewi Uma. Sanghyang Sentanu sengaja nonton dekat kursi dewan juri sehingga bisa lebih jelas menikmati bodi-bodi mulus peserta. Saking asyiknya menilai, seorang juri bernama Dewi Gangga tanpa sadar kainnya tersingkap. Wah….., Sentanu yang melihat kondisi ini, menikmati betul. Dewa mata keranjang ini jadi tambah ”wawasan” bahwa Dewi Gangga gemar pakai celdam warna merah menyala.
”Hai, ngapain kamu sibuk di sini?” tegur Betara Sambu, melihat ulah dewa yunior yang suka ngintip celdam bidadari. Sentanu ditarik kupingnya, dan digelandang keluar.
”Nontonnya biar lebih jelas, Oom.” dalihnya. Nggak tahu apa maksudnya, jelas nonton peserta idol, atau jelas nonton celdam Dewi Gangga.
Sanghyang Sentanu langsung diinterogasi oleh SBG sendiri, diperiksa selama 8 jam. Ternyata dewa satu ini memang aktivis pornografi. Tempo hari saat ditugasi nutulen rapat di Bale Marcakunda, lewat notebooknya malah mbukaki situs porno. Kala itu memang masih dimaafkan, tapi yang kali ini, tiada ampun bagimu. Wilayah di balik rok Dewi Gangga kan domain suaminya kelak, kenapa Sentanu intervensi?
”Kamu kena hukuman akumulatif selama 30 tahun dan ditundung (diusir) dari kahyangan.” perintah SBG dengan marahnya.
”Sita pula aset-asetnya.” tambah Bethara Narada.
“Aset yang mana, wong dewa honorer tak mungkin punya rekening gendut,” kata SBG sambil melemparkan Sentanu keluar kahyangan lewat gapura Sela Matangkep.
Singkat cerita Sentanu terusir dari Jonggring Salaka. Konsekuensinya, dia tak punya lagi fasilitas bebas kematian. Bila 30 tahun di ngercapada belum mati juga, boleh kembali jadi dewa di kahyangan. Tapi bila kadung wasalam sebelum jatuh tempo, tempatnya hanya di Tanah Kusir, yang tiap 3 tahun sekali harus diperpanjang.
Demikianlah, Sanghyang Sentanu terlempar dari kahyangan gara-gara kena kasus. Di ngercapada dia terdampar pada kawasan Talkanda dan membentuk padepokan untuk tempat berguru para cantrik. Namanya kini jadi: Resi Sentanu. Agar nampak berwibawa sengaja pelihara jenggot, pakai kethu dan ke mana saja pakai jubah kapanditan lungsuran dari Sanghyang Yamadipati. Resi Sentanu memang telah menjelma sebagai begawan aliran garis keras. Dia siap demo besar-besaran ke kahyangan, jika ada pesanan.
”Kalau di Jonggring Salaka kita ditangkap dan ditahan bagaimana?” kata seorang cantrik pada seniornya, ketika diajak demo berjilid.
”Kita harus protes, itu namanya kriminalisasi cantrik,” jawab seorang cantrik senior, yang biasa jadi narasumber di TV swasta.
Rupanya bidadari Dewi Gangga di kahyangan sering nge-WA dengan Resi Sentanu di Talkanda. Kasihan atas nasib Hyang Sentanu yang kesepian, dia izin ”lolos butuh” untuk bisa menemani mantan dewa tersebut. Mereka pun menikah. Dulu lihat bungkusnya saja harus ngintip-ngintip, kini Resi Sentanu menikmati isinya pun bisa.
”Kalau sudah milik, rejeki takkan lari ke mana ya diajeng,” kata Sentanu mengenang masa bangor-nya di Jonggring Salaka.
”Untung saja sampeyan nggak kena hukum kebiri.” jawab Dewi Gangga.
Dewi Gangga pun halim. Ketika kandungan sudah cukup umur 9 bulan, istri Sentanu ingin persalinan ala Yulius Caesar, demi untuk bisa membahagiakan suami sepanjang waktu. Tapi karena malpraktek, Dewi Gangga justru tewas, meninggalkan orok yang diberi nama Dewabrata. Stresslah Resi Sentanu, sehingga padepokannya segera dijual murah dan dia berniat merantau sambil membawa bayi merah Dewabrata.
Perjalanan Resi Sentanu akhirnya terdampar di negeri Ngastina, ketemu Prabu Palasara. Dia sangat iba tamunya membawa bayi yang nangis terus. Sang istri Dewi Durgandini kebetulan juga sedang menyusui bayi Abiyasa, dengan ikhlas menyusui pula bayi tersebut. Ternyata Dewabrata kecil langsung diem dan nyut nyut nyut…….
”Terima kasih kakang Palasara, meski hanya ASI tapi lebih bermanfaat dari KJP Plus,” ucapan Resi Sentanu tanda berterima kasih.
”Kalau bapaknya mau, juga boleh kok,” batin Dewi Durgandini yang rupanya langsung tertarik pada resi Sentanu yang tampan, santun dan mahir mengolah kata ini.
Inilah yang kemudian menjadi sumber bencana. Resi Sentanu yang tak tahu berterima kasih, ternyata meladeni simpati permaisuri negri Ngastina. Maklum, dia sendiri juga sudah lama ”puasa”. Ketika tahu bahwa tamunya sudah mulai ngelunjak, Prabu Palasara mencoba mengusirnya. Bagaimana mungkin, ditulung kok malah masuk sarung. Tapi Sentanu memang begawan yang OKeh NgOCEh, sehingga ada saja omongannya untuk mencari pembenaran.
”Dimas Sentanu pergi dari sini. Dikasih susu balas air tuba.” usir Prabu Palasara.
”Jangan tanggung-tanggung, istrimu juga mau kok.” Jawab Sentanu yang sudah putus urat malunya itu.
Gila, bini kok diminta. Keduanya pun berperang dengan serunya. Mereka sama-sama sakti, sehingga sudah berhari-hari belum ditemukan mana yang menang dan mana yang kalah. Mereka terus bertempur, istirahat sebentar cuma saat isoma (istirahat solat dan makan). Ternyata kegaduhan di ngercapada ini menjadikan penguasa Jonggring Salaka terusik. SBG segera menugaskan Patih Narada untuk cek lapangan.
”Stop-stop! Pilkada sudah selesai kok malah berantem.” tegur Patih Narada.
”Nggaklah, Oom. Ini cuma salah paham soal sembako….,” jawab Sentanu mencoba mengalihkan isyu.
Keduanya berhasil dilerai. Tanpa melalui persidangan MK, Narada memutuskan bahwa Palasara diminta mengalah. Artinya, Dewi Durgandini harus diserahkan kepada Sentanu, termasuk pula negeri Ngastina. Ternyata Palasara manut saja, habisnya jadi raja juga didemo melulu.
Sayang Prabu Sentanu menjadi raja Ngastina hanya sekitar 5 tahun, karena meninggal mendadak gara-gara bludreg. Ternyata jadi raja itu tidak gampang, ketika e-budgeting APBN sudah dikunci, dia tak bisa apa-apa. Akhirnya raja doyan sate kambing ini ditarik kembali ke kahyangan Jonggring Salaka. Tapi karena dosa-dosanya bererotan, bukan dikembalikan sebagai dewa, melainkan dicemplungkan ke Kawah Candradimuka, dipanggang macam sate Pak Amat di Alun-alun Lor Yogyakarta. (Ki Guna Watoncarita)



