JAKARTA, KBKNews.id – Kisah inspiratif datang dari Nur Ahmadi, seorang putra desa yang berhasil menaklukkan berbagai tantangan hidup hingga meraih gelar magister dari Tokyo Institute of Technology serta gelar doktoral dari Imperial College London. Kesuksesan ini diperoleh dengan perjuangan dan doa.
Perjalanan panjangnya ditempa oleh kesulitan dan janji yang dipegang teguh, berawal dari senyum terakhir sang ayah yang menjadi bara api semangatnya untuk terus berjuang. Dosen yang menyelesaikan sarjana di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2006-2011 ini menceritakan kisahnya untuk menjadi pelajaran bersama.
Dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan pedesaan, Nur Ahmadi kecil menikmati masa-masa tanpa beban. Kesehariannya diisi dengan beragam permainan, mulai dari bermain bola di sawah hingga petak umpet selepas mengaji. Namun, kebebasan itu tak berlangsung lama.
Ketika ia menginjak kelas 3 SD, ayahnya jatuh sakit dan kondisi itu memaksa Nur dan saudara-saudaranya untuk beranjak dewasa lebih cepat. Mereka tak lagi bebas bermain, melainkan harus membantu merawat ayah, mencari kayu, atau membantu ibu di sawah sepulang sekolah.
Titik balik perjuangan Nur Ahmadi terjadi saat hari Lebaran tiba, dua tahun setelah ayahnya sakit. Pada hari kemenangan yang penuh keceriaan itu, Nur tak menyangka bahwa itu adalah kali terakhir ia melihat senyum ayahnya. Malam harinya, sang ayah dipanggil oleh Sang Pencipta.
“Sepeninggal ayah aku semakin rajin belajar. Aku ingin mewujudkan pesan yang selalu ayah ulang, ‘Nak, jadilah orang pintar. Jangan seperti ayahmu yang hanya lulusan SD. Kamu harus jauh lebih baik dari ayah.’ Sejak saat itu, aku selalu memuncaki peringkat kelas, menyalip teman perempuan sekaligus primadona kelas yang sedari kelas 1 SD selalu juara,” kata Nur Ahmadi seperti dikutip dari situs resmi Dompet Dhuafa, Senin (21/7/2025).
Janji itulah yang mendorong Nur untuk semakin rajin belajar. Ia yang sebelumnya sering bermain, kini menjadi sosok yang tak terkalahkan di kelas. Ia selalu memuncaki peringkat kelas dan lulus SD dengan Nilai Ebtanas Murni (NEM) tertinggi.
Kesulitan Biaya Sekolah
Namun, langkahnya untuk melanjutkan ke jenjang SMP terhambat karena ketiadaan biaya. Sang ibu sudah cukup kesulitan membiayai kakak-kakaknya bersekolah. Dalam keheningan, Nur hanya bisa berdoa.
Doa itu pun terjawab. Seorang kiai menawarkan bantuan agar Nur bisa melanjutkan sekolah ke SMP unggulan, dengan syarat ia harus membantu mengurus masjid.
Tiga tahun di SMP, Nur melewati masa-masa penuh keterbatasan. Tanpa buku penunjang, tanpa uang jajan, dan hanya mengandalkan sepeda tua, ia tetap berjuang keras. Bersyukur, di tengah perjalanan, ia mendapat beasiswa dari pemerintah yang sedikit banyak meringankan beban keluarganya.
Perjuangan itu berlanjut ke jenjang SMA, di mana ia terus menunjukkan prestasi akademis hingga berhasil menjadi juara umum dan mendapatkan beasiswa yang membantu biaya persiapannya untuk masuk perguruan tinggi.
Meski sempat tidak direstui ibunya karena kekhawatiran biaya, Nur tetap bertekad melanjutkan kuliah. Berbekal keyakinan bahwa akan selalu ada jalan di setiap kemauan, ia mantap melangkahkan kaki.
Menempa Diri di Kampus Ganesha ITB
Perjuangannya tidak sia-sia. Tanpa bimbingan belajar, ia berhasil diterima di Teknik Elektro ITB. Ia bahkan mendapatkan beasiswa yang mencakup biaya transportasi, tes masuk, SPP tahun pertama, dan biaya hidup.
Selain itu, dia juga penerima Beastudi Etos Dompet Dhuafa 2006-2009.
Di ITB, Nur tidak hanya fokus pada perkuliahan. Ia aktif di berbagai kegiatan kampus seperti UKM, unit masjid Salman, dan kegiatan sosial. Untuk menambah penghasilan dan membantu adiknya, ia juga bekerja sebagai pengajar di sebuah bimbingan belajar.
Berbagai pengalaman ini melatihnya menjadi pribadi yang lebih matang. Berbekal pengalaman tersebut, ia mulai berani bermimpi lebih besar: melanjutkan studi ke luar negeri.
Meraih Asa Kuliah di Negeri Sakura
Meskipun bahasa Inggrisnya saat itu masih lemah, Nur belajar dengan giat. Ia juga mengikuti berbagai kompetisi dan menjadi asisten praktikum serta dosen untuk meningkatkan kapasitas diri.
Usahanya berbuah manis. Ia mendapatkan kesempatan menimba ilmu di Amerika, menjuarai kompetisi karya ilmiah di Tokyo, dan bekerja di Singapura. Pengalaman ini semakin menguatkan mimpinya untuk melanjutkan studi di luar negeri.
Pada 28 September 2011, Nur berhasil melanjutkan studi S2 di Tokyo Institute of Technology dengan beasiswa penuh Manbukagakusho. Setelah menyelesaikan studinya pada tahun 2012, ia kembali ke Indonesia dan mengabdikan diri sebagai dosen dan peneliti.
“Menjadi dosen merupakan kesempatan bagi saya untuk berkontribusi bagi bangsa terutama bidang pendidikan,” ujar Nur.





