SUKABUMI – Kabar adanya warga yang tinggal di toilet umum yakni Oon (40) dan cucunya, Derbi, 3, di Kampung Sirnagalih RT 03/29, Kelurahan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat menyulut keperihatinan dari berbagai kalangan.
Mereka merasa iba dengan kondisi nenek dengan cucunya yang sebulan terakhir ini terpaksa tinggal di toilet berukuran 2 x 1 meterpersegi akibat miskin karena terhimpit ekonomi.
Seorang Anggota DPR RI, Komisi XI DPR Heri Gunawan (HG) Senin (25/1) langsung menerjunkan timnya dari Rumah Aspirasi (RAI HG) ke lokasi untuk mengecek dan melihat kondisi nenek dan cucu malang tersebut.
Selain mengecek lokasi, tim juga berkoordinasi dengan pemerintahan setempat, mulai RT, RW, hingga lurah.
Mereka menyampaikan bahwa siap membangunkan rumah untuk tempat tinggal nenek dan cucu tersebut. Hanya sejauh ini, belum ada kepastian lokasi lahan yang akan dibangunkan rumah tersebut.
“Kami masih menunggu untuk lokasinya dimana? Termasuk mengenai status tanah yang akan kami bangun. Baru setelah semua administrasi mengenai rumah sudah jelas, sesuai dengan arahan Pak Heri, beliau siap membangunkan rumah untuk mereka,” kata Rafi seperti diberitakan Poskota.
Nenek berstatus janda ditinggal mati itu terpaksa menghuni toilet itu karena rumahnya dijual. Saat itu, Oon bingung harus tinggal dimana? Maka itu, dia meminta izin kepada RT setempat menghuni toilet yang sudah tidak terpakai. Untuk tidur, di dalam toilet dibangun ranjang dari kayu papan.
“Saya tidak mampu bayar kontrakan. Sebelumnya saya tinggal di rumah orangtua saya tapi dijual dan dapat warisannya habis pakai ngontrak rumah. Makanya saya izin ke RT dan RW untuk tinggal di sini dan Alhamdulillah diizinkan,” keluh Oon.
Diakui Oon, keluarga besarnya memang ada di wilayahnya. Namun, keluarganya terkesan acuh dengan kondisinya. Oleh karenanya, untuk menyambung hidup dirinya bekerja sebagai pemulung rongsokan.
Camat Pelabuhan Ratu, Suherwanto, menjelaskan pihaknya langsung melihat ke lokasi keluarga yang tinggal di toilet umum. Dari hasil pendataan, diketahui nenek tersebut tidak memiliki identitas kependudukan seperti kartu keluarga dan lainnya.
“Bersama pemerintahan setempat untuk sementara waktu kami pindahkan ke kontrakan. Kami juga tengah




