ORANG Indonesia memang bangsa yang lahap mode. Dalam hal sepeda motor misalnya, model apa saja dijual di negeri ini pasti laku keras. Padahal modelnya semakin aneh-aneh, tapi tetap saja diburu konsumen. Maka mungkin 1 di antara seribu, adalah penulis. Bila orang kebanyakan menyatakan putus hubungan dengan nyamuk, sejak tahun 2000 penulis menyatakan: putus hubungan dengan sepeda motor.
Di rumah sebetulnya ada sejumlah motor, baik punya anak atau adik ipar. Tapi penulis tak pernah menyentuhnya. Masalahnya, modelnya semakin aneh dan lucu. Yang jenis bebek, semua latah bodinya model huruf Z. Untuk sepeda motor kaum lelaki modelnya cenderung nungging, sehingga tidak nyaman untuk pembonceng. Knalpot 45 drajat, sehingga asapnya bisa kena langsung ke muka pengendara di belakangnya.
Tahun 2005 penulis di kantor pernah dapat pembagian motor Honda Tiger 2000, sudah atas nama saya dan cicilannya murah sekali. Tapi begitu lihat bentuknya, langsung saya tak jadi mengambilnya. Bentuk jok, tengkinya sangat aneh. Apa lagi rodanya, bukan pakai jari-jari, tapi pakai velg racing mirip roda gerobak yang masih pakai kayu. “Model begini sih, kasih saja saya nggak mau.” Kata penulis.
Celakanya, anak saya yang sudah remaja di rumah dapat bocoran info bahwa bapaknya dapat motor tapi tak diambil. Kontan dia menuntut dibelikan motor dengan merk yang sama. Tak bisa lain terpaksa saya beli di tempat lain dengan cara leasing. Lagi-lagi, meski punya anak sendiri, penulis sama sekali tak pernah menyentuhnya.
Sepeda motor masa kini modelnya memang semakin membingungkan. Bukan Honda bukan pula Vespa, tapi bodinya mirip skuter. Ada juga Vespa generasi baru, bentuknya sudah berbeda sekali, cenderung nungging. Karena model matic, suara khas Vespa sudah hilang. Untuk kedua kalinya penulis mengatakan, Vespa model begini dikasih saja saya nggak mau!”
Di masa ABG penulis, sepeda motor Honda tahun 1970 modelnya bagus sekali. Warnanya merah, tengkinya dilapis stenlis. Yang produk tahun 1969, kebanyakan berwarna biru. Jaman itu di pedesaan yang mampu memiliki hanya anak Pak Lurah. Mungkin sejak itu ada istilah cewek bau bensin, sebab cowok yang bawa “kuda Jepang” itu jadi mudah cari pacar.
Tahun 1972 ketika penulis kerja di mingguan Parikesit Solo, koran berbahasa Jawa itu hanya memiliki motor operasional Honda SZ90 1972 satu biji. Meski fungsinya untuk kendaraan liputan, yang “mengusai” justru pemimpin perusahaan. Akibatnya ketika wartawan butuh memakainya, harus melobi Bapak Pemimpin Perusahaan dengan main catur dulu sampai dia dimenangkan. Barulah Honda merah itu bisa dipinjam.
Jaman itu penulis belum bisa bawa motor, sebab punya prinsip: baru naik motor jika sudah punya sendiri. Baru setelah pindah kerja di Harian Pos Kota Jakarta beli motor bekas Honda 1969 warna biru seharga Rp 135.000,- Ketika dapat motor Honda Benly dari kantor, Honda yang suara mesinnya engukkk….engukkk itu dibeli cicilan oleh teman. Tapi ternyata sekalipun dia tak pernah mencicilnya, sehingga saya ikhlaskan saja pada akhirnya, karena dia juga berjasa mengajariku naik sepeda motor.
Tahun 1977 Pemred Pos Kota yang juga Ketum PWI itu terpesona oleh tulisan veatures penulis tentang liputan petugas kebersihan Hotel Indonesia yang bekerja pakai gondola. “Bagus tulisanmu, tapi fotonya payah! Bulan depan kamu dapat motor baru!” kata tokoh yang kemudian jadi Menpen 3 periode itu. Ternyata betul, saya dapat sepeda motor Vespa Bajaj yang warna kopi susu.
Setahun berikutnya, pada saat HUT Pos Kota tahun 1979 penulis dapat undian motor Honda CG 110. Karena sudah memiliki Vespa, di dealer motornya saya minta ambil duitnya saja sebesar Rp 350.000,- Tapi tahun 2000-an penulis juga dapat hadiah Bank BCA sebuah motor Suzuki Tornado. Lagi-lagi karena bentuknya saya tidak suka, motor itu saya iklankan, tanpa pernah saya bawa pulang. Pembeli saya dampingi saat mengambilnya di dealer.
Tapi pernah juga motor Honda Astrea anak penulis dirampas begal saat dipinjam teman sesama ABG anak tetangga. Untuk urus surat klaim asuransi kehilangan, harus bayar Rp 1,5 juta. Mestinya itu kan tanggungjawab si peminjam. Eh ternyata tetap dibebankan ke penulis. Karena tak enak sama tetangga sendiri, ya sudah penulis bayar juga. Dan beberapa minggu kemudian memang dapat motor Honda Astrea penggantinya. (Cantrik Metaram).





