
KARAWANG – Bocornya sumur migas YY-1 Offshore North West Java (ONWJ) milik PT Pertamina Hulu Energi (PHE) di Lepas Pantai Cilamaya berdampak pada 10 ribu warga pesisir Karawang.
Korban terdampak diantaranya adalah para nelayan, pemilik tambak, bakul ikan, juga petani padi, yang kehidupannya terganggu sejak tumpahan minyak mentah mencemari laut, pantai, dan lingkungan warga sejak 12 Juli 2019.
Beberapa di antaranya bahkan kehilangan pekerjaan setelah sumur YY-1 bocor, yang hingga saat ini masih terus berlangsung.
“Data warga terdampak telah kami kumpulkan, termasuk data tentang kerusakan lingkungan dan hutan mangrove,” ujar Sekretaris Daerah Karawang, Rabu (4/9/2019).
Menurutnya, data yang dia terima masih berupa data mentah sehingga akurasinya masih diragukan. Oleh karena itu, pihaknya juga mengundang para camat dan kepala desa yang wilayahnya terdampak tumpahan minyak.
“Para camat dan kades diminta melakukan verifikasi data warga terdampak agar tidak pihak yang dirugikan. Data hasil verifikasi nantinya akan dijadikan dasar penyaluran kompensasi dan juga ganti rugi,” kata Acep.
Menurutnya, verifikasi data ditargetkan selesai pekan depan, sehingga dana kompensasi dari Pertamina bisa segera disalurkan kepada yang berhak. Penyaluran akan dilakukan melalui bank yang ditunjuk Pertamina, dan setiap warga terdampak akan dibuatkan rekening bank tersebut.
“Kami kira cara itu efektif untuk mencegah terjadinya keributan di lapangan. Warga tidak perlu berkumpul di kantor desa untuk mengambil dana kompensasi itu,” kata Acep, dilansir PR.




