Serangan Israel terhadap UNIFIL Kejahatan Perang

Ilustrasi Kontingen Indonesia di Pasukan Penjaga Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) berpatroli di Naqoura, Lebanon/ foto: AFP

BEIRUT – Kecaman terus berdatangan atas serangan terbaru Israel terhadap Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIFIL) di Lebanon, yang menyebabkan sejumlah penjaga perdamaian terluka di wilayah selatan negara tersebut.

“Serangan kepada pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran hukum internasional dan bisa jadi kejahatan perang,” kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam pernyataan sebagaimana dikutip juru bicaranya Stephane Dujarric, Minggu (13/10/2024) malam.

Dujarric menekankan bahwa personel UNIFIL dan lokasi-lokasi mereka tidak boleh menjadi target serangan. Ia juga menambahkan bahwa pada insiden yang terjadi hari itu, gerbang salah satu pos PBB secara sengaja ditabrak oleh kendaraan lapis baja milik Israel.

Dalam beberapa hari terakhir, setidaknya lima penjaga perdamaian dilaporkan terluka akibat serangan Israel di Lebanon selatan.

Pada Sabtu (12/10/2024), 40 negara yang berpartisipasi dalam misi perdamaian PBB di Lebanon mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam serangan tersebut dan menyerukan penyelidikan lebih lanjut.

Spanyol, Prancis, dan Italia menyebut serangan itu “tidak dapat dibenarkan”, sementara Presiden AS Joe Biden menyatakan bahwa ia telah mendesak Israel untuk berhenti menargetkan pasukan penjaga perdamaian.

Turki juga mengutuk serangan Israel, mengaitkannya dengan kebijakan pendudukan Perdana Menteri Netanyahu di Lebanon.

Kementerian Luar Negeri Turki menegaskan bahwa pasukan penjaga perdamaian PBB memiliki peran yang krusial, terutama dalam situasi di mana Israel dianggap mencoba memperluas konflik di kawasan tersebut.

Turki mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tindakan guna menghentikan serangan terhadap pasukan yang berafiliasi dengan badan dunia itu.

UNIFIL, yang terdiri dari sekitar 9.500 tentara dari berbagai negara dan dibentuk setelah invasi Israel ke Lebanon pada 1978, menuduh Israel sengaja menyerang posisi mereka.

Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meminta PBB untuk memindahkan pasukan penjaga perdamaian dari jalur bahaya, menuduh Hizbullah menggunakan mereka sebagai perisai manusia. Meski begitu, UNIFIL menolak untuk mundur dari posisi mereka.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here