SIANG itu banyak petinggi negara berkumpul di kerajaan Dwarawati. Ada Prabu Puntadewa dari Ngamarta, Prabu Baladewa dari Mandura, Prabu Mastwapati dari Wirata, termasuk juga Prabu Duryudana dari Ngastina. Adakah mereka mau menghadiri reuni 212 di Monas, atau sekedar mau kordinasi Timses perang Baratayuda?
Ternyata bukan, dan ini lebih penting dari semua itu, karena menyangkut keselamatan jiwa para pemimpin negri tersebut. Mereka semua minta perlindungan kepada Prabu Kresna, sehubungan dengan ancaman Prabu Singa Mulangjaya dari negeri Tunjung Baribin. Dalam surat elektronik (email) yang dikirimkan kepada masing-masing raja tersebut, cepat atau lambat mereka akan “diambil” untuk selanjutnya dijadikan bekakak atau tumbal persembahan kepada Betara Kala.
“Memangnya tak ada lagi senapati-senapati negara yang siap membela kedaulatan dan kehormatan raja?” Tanya Prabu Kresna agak keheran-heranan.
“Wah, sudah nggak ada lagi. Banyak senapati yang kabur ke Tunjung Baribin, menjadi “kutu loncat” demi gaji Rp 5-10 M setahun. Di sana bini kedua sampai empat dapat tunjangan penuh,” jawab Prabu Matswapati, yang juga diamini oleh Prabu Puntadewa, Duryudana, dan Prabu Baladewa.
Sebetulnya Prabu Kresna masih capek, karena habis blusukan ke pasar-pasar seluruh Dwarawati selama 10 hari, untuk menyerap aspirasi rakyat sekaligus memastikan bahwa harga-harga masuh normal. Uang Rp 50.000,- masih bisa buat beli macem-macem. Bahkan kalau ke toilet, uang tersebut masih bisa untuk kencing 25 kali.
Tapi demi solidaritas antarnegeri wayang, semua keluhan dari Wirata hingga Ngamarta semua ditampung. Sebab selama ini Prabu Kresna memang dikenal sebagai tokoh paling bijak, meski tidak taat bayar pajak. Karena banyak tanah kapling miliknya yang PBB-nya nunggak.
Prabu Kresna segera buka Kaca Paesan yang punya link ke Mbah Google. Ternyata tak ditemukan informasi latar belakang dari semua peristiwa ini. Tapi baru saja
sang prabu mau melanjutkan browsing, Setyaki yang sedari tadi diam, tiba-tiba tunjuk jari persis murid SD dalam mata pelajaran mencongak.
“Terlepas dari ancaman untuk Ngastina, Ngamarta, Wirata dan Mandura, saya pribadi sangat tersinggung atas ulah raja Tunjung Baribin. Nama begitu banyak, tapi kenapa mengadopsi nama saya tanpa ijin. Ini kan pelecehan….” Kata Setyaki berapi-api.
“Lho memangnya kamu punya nama lain selain yang tertera di ijasah?” potong Prabu Baladewa.
Setyaki pun lalu berkisah bahwa dia memiliki sejumlah nama lain. Ada Bima Kunthing, ada Singa Mulangjaya; yang kesemua ini sudah didaftarkan Hak Patent nya di Kementerian Kehakiman. Tapi kenapa tiba-tiba raja Tunjung Baribin mencaploknya? Mending kalau memberi royalti. Ini sungguh penghinaan tiada tara.
“Maka atas nama kehormatan Setyaki pribadi, izinkan saya melabrak langsung Prabu Singa apa itu, malam ini juga.” Ujar Setyaki lebih lanjut. Wajahnya memerah, marah, lupa kalau puasa, atau sudah mau bedug magrib ini.
“Husy! Jangan sembarangan kamu, Dimas Setyaki. Prabu Singa Mulangjaya kan sakti luar biasa. Kalau kamu mati, anakmu masih kecil-kecil lho ya….” Prabu Kresna mengingatkan.
Rupanya tekad Setyaki tak bisa lagi diamandemen. Maka sebelum berangkat, Prabu Kresna menyilakan para tamu isoma (istirahatp-solat-makan) dulu. Mereka hanya makan sederhana, pesan ke RM Padang terdekat. Maklum tak ada persiapan, karena mereka juga tak memberi tahu sebelumnya. Minumnya pun dikemas plastik, yang langsung dicucup (disedot pakai mulut) langsung bila keseretan.
Sementara itu di negeri Tunjung Baribin, Prabu Singa Mulangjaya yang berkepala singa dan rajanya para singa itu tengah marah-marah kepada Patih Singa Mulangsarak. Masalahnya persembahan sesaji untuk Betara Kala belum mencapai kuota. Dari alokasi 1.000 kepala, baru terpenuhi 635 kepala raja di segenap negeri perwayangan. Prabu Singa Malangyuda sangat khawatir, bila target tak terpenuhi bisa digeser posisinya oleh pihak Kahyangan.
“Kamu kerja yang bener dong, masak cari 1.000 kepala raja saja susah.” Tegur Prabu Singamalangyuda keras.
“Maaf Boss. Ini kan tanggal tua, saya nggak berani jalan jauh-jauh, takut kehabisan transpor. Maka kartu kredit sudah diblokir lagi”
Sebetulnya, untuk mencapai target 1.000 kepala raja, Prabu Singa Malangyuda telah memberikan perangsang atau remunerasi kepada rakyat. Barang siapa mampu setor satu kepala raja, akan diberi tunjangan tambahan Rp 100 juta. Namun kata rakyat, memangnya cari kepala raja semudah mencari kepala ayam atau buntut tikus? Kalau itu sih, sehari 100 juga bisa.
Belum juga selesai Prabu Singa Malangyuda nguman-uman (ngomel) pada sang mahapatih, tiba-tiba datang Setyaki dan langsung klaim atas pencaplokan nama tanpa izin. Kesatria Garbaruci itupun mengancam, jika tak melepas nama itu, akan digugat ke pengadilan. Tapi ternyata Prabu Singa Malangyuda tiada gentar sama sekali.
“Saya sudah coba test di Google, saya ketik nama Singa Mulangjaya, nggak muncul. Berarti belum ada yang punya dong.”
“Internetmu sudah diblokir Rudiantoro, tahuk!” kata Setyaki kesal dan langsung main gebuk pada Prabu Singa Mulangjaya.
Setyaki lupa bahwa belum tahu akan kesaktian si raja berkepala singa ini. Maka begitu dibalas dengan brakotan (gigit) pada kepala, Setyakipun tewas. Kalau dia raja, mestinya langsung jadi penambah target. Tapi karena dia hanya wayang biasa, jadi Pak RW juga belum pernah, kepalanya dibuang begitu saja.
Nasib malang Setyaki terdengar juga rupanya oleh Prabu Kresna yang tengah pergi ke Suralaya, menghadap Sangyang Betara Guru (SBG) bersama Semar. Melihat perubahan situasi yang demikian cepat, Semar segera diminta meluncur ke Tunjung Baribin, sementara Kresna terus berusaha ketemu penguasa dewa di Kahyangan. Ternyata SBG tak di tempat. Kabarnya dia sedang mengurus Betara Surya yang terlibat manipulasi proyek e-KTP di ngercapada.
“Betara Surya memang paling-paling. Perempuan Kunti, doyan. Duit juga doyan.” Gumam Prabu Kresna dan langsung meluncur ke Tunjung Baribin, bergabung dengan Semar.
“Duit sih, cuma ayam yang nggak doyan.” Komentar Betara Penyarikan.
Ternyata di Tunjung Baribin Semar sedang memaki-maki Prabu Singa Mulangjaya yang ternyata penjelmaan Betari Durga. Demikian takutnya penguasa Pasetran Gandamayit ini, begitu melihat Semar langsung berubah wujud. Maklum, daripada kena kentut Semar yang efeknya setara penyakit AIDS, mendingan nyerah saja deh.
“Kamu memang dewa kurang kerjaan, ada-ada saja otak pokilmu. Sekarang saya minta tanggungjawab, Setyaki harus kamu hidupkan lagi. Kalau tidak, awas!” ancam Semar.
“Kali ini sory Kakang Semar, dia sudah mati lebih dari 5 jam lalu, jadi susah ditarik kembali nyawanya. Sudah didelet langsung oleh Yamadipati.” Betari Durga beralasan.
Untung saja tak lama kemudian datang Prabu Kresna. Raja Dwarawati ini memang setengah dewa, sehingga lewat pusaka Kembang Cangkok Wijayamulya, Setyaki dengan cepat bisa dihidupkan kembali. Betara Yamadipati sendiri tak berkutik jika sudah berhadapan dengan Kresna.
“Dimas Setyaki, bangun, bangun, terus mandi, jangan lupa menggosok gigi, ya.” Kata Kresna sambil membangunkan Setyaki.
“Ya, ya, habis mandi kugolong ibu, membersihkan tempat tidurku,” jawab Setyaki, teringat jaman sekolah di TK dulu. (Ki Guna Watoncarita)



