Kalender Islam/Arab menyebut bulan ke-12 dengan Dzulhijah. Biasa juga disebut bulan Haji, karena dalam bulan ini umat Islam melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci. Kalender Jawa menyebutnya “Dulkangidah” atau bulan “Besar”. Dengan harapan memperoleh berkah sebesar-besarnya, bulan ini dianggap saat terbaik untuk menyelenggarakan pernikahan. Karena itu, banyak undangan resepsi pernikahan dalam bulan ini.
Wejangan untuk pasangan pengantin baru selalu disertai doa dan harapan agar pasangan itu lestari hidup bahagia sampai mereka menjadi kakek dan nenek. Dalam bahasa Jawa disebut “sampek kaken-ninen”. Ada juga pasangan yang berjanji “Only death separates us” atau hanya maut yang memisahkan kita. Singkat kata, pasangan sehidup-semati. Tapi, nasib, termasuk umur, manusia, siapa tahu?
Tersebutlah ada pasangan ideal yang mengarah ke terwujudnya harapan itu. Yang pria bernama Lumintu, nama Jawa asli. Artinya, terus menerus. Mungkin, orang tuanya berharap rejeki anak lelakinya akan terus mengalir. Rupanya, harapan itu terkabul. Yang perempuan bernama Saliyem.
Pasangan Lumintu dan Saliyem tampak hidup rukun, tentram bahagia. Mereka dikaruniai dua anak, sepasang pria dan wanita. Sesuai kampanye program KB (Keluarga Berencana), mereka bertekad hanya ingin punya dua anak. “Dua anak cukup”, kata semboyan KB tahun 1980-an.
Lumintu dan Saliyem terkenal baik hati, ramah, sederhana, tidak sombong dan murah hati. Setiap menghadiri resepsi pernikahan, mereka selalu tampil berdua. Juga kalau mereka ikut pengajian dan arisan RT. Banyak tetangga iri dengan kebahagiaan pasangan ini. Rumahnya lumayan besar dan bagus untuk ukuran desa. Pekarangannya luas, dipenuhi dengan tanaman singkong, ubi jalar, ketimun, bayam, terong dan Toga (tanaman obat keluarga). Tertata rapi. Pokoknya asri deh!
Bukan tidak ada perempuan lain yang melirik Lumintu. Beberapa janda menyatakan siap dimadu, dijadikan istri kedua Lumintu. Tapi, ia cuek, tidak tergoda oleh rayuan perempuan lain, kecuali Saliyem, pujaan hatinya sejak lulus Sekolah Rakyat (sekarang SD) dulu.
Nasib pasangan ini tiba-tiba berubah. Saliyem jatuh sakit, cukup parah. Lumintu pusing tujuh keliling, mencari obat, baik tradisional maupun modern. Mendatangi dukun maupun dokter, demi kesembuhan istrinya. Tapi, umur manusia di tangan Tuhan. Saliyem meninggal dunia. Lumintu sedih bukan kepalang, ditinggal istri yang dicintainya itu. Ia bermuram durja, tidak banyak bicara, kecuali mulutnya komat-kamit melantunkan doa untuk Saliyem.
“Sudahlah Pak, ikhlaskan Ibu”, begitu para tetangga, terutama ibu-ibu, mengingatkan Lumintu yang beberapa kali melompati jenazah istrinya, menjelang dimandikan. Lumintu bersikeras ingin melompat lagi sambil berkata: “Saya ini suami yang setia, memenuhi permintaan istri. Ia dulu bilang agar saya melangkahi dulu mayatnya jika ingin kawin lagi…..!”
(KBK, Kantor Berita Kemanusiaan, diolah dari celoteh di WA group sebelah).




