Setiap Hari, Bapak Ini Mengarungi Ganasnya Selat Malaka dan Samudera Hindia Seorang Diri

Ilustrasi/ tempo.co

SABANG – Ridwan, nelayan tradisional asal Kecamatan Sukajaya, Sabang, Aceh, setiap hari mengarungi ganasnya Selat Malaka dan Samudera Hindia seorang diri hanya dengan menggunakan perahu kayu (tektek).

Beruntung ia masih hidup disaat harus menghadapi hempasan badai yang kerap menerpanya dan sering terjadi di perairan ujung barat Indonesia itu.

Ia pun menceritakan saat dirinya nyaris tenggelam, namun berhasil selamat, pada pekan lalu, “Boat (kapal motor) saya bersama isinya tenggelam dihempas badai dan syukur Alhamdulillah, Allah masih menyelatkan nyawa saya,” katanya, Selasa (23/8/2016).

Dengan perahu kayu (tek tek) 5 Gross Tonage (GT), mesin 23 gerbok, Ridwan yang umurnya sudah berkepala enam itu melaut seorang diri dan bermalam sampai satu pekan di area Pulau Tempurung (Rondo) yang berjarak sekira 30 mil laut dari lepas pantai Pulau Weh.

Pulau Rondo merupakan salah satu pulau terluar paling ujung barat Indonesia secara teritorial pulau tersebut masuk dalam Kota Sabang, Provinsi Aceh. Kota Sabang sendiri meliputi lima (5) pulau yakni, Pulau Weh, Klah, Seulako, Rubiah dan Pulau Rondo.

“Saya melaut pada tanggal 13 Agustus dan tanggal 19 Agustus saya pulang, 2 mil dari Pulau Tempurung muncullah badai disertai gelombang besar yang mencapai 5 meter menghempas boat tersebut bersama isinya,” cerita Ridwan.

Ia melanjutkan ceritanya bagaimana dirinya harus berjuang menggapai kembali perahunya yang sempat hanyut. Boat yang ia tumpangi seorang diri itu dalam sekejap melungkup dan kembali terapung di atas permukaan laut dengan perlahan ia berusaha merapat ke boat tersebut untuk mendapatkan perlindungan awal.

“Saya mengapung dalam badai itu hampir 2 jam dan syukur Alhamdulillah boat nelayan Banda Aceh yang ditumpangi Ucok menyaksikan kejadian itu dan memberikan pertolongan kepada saya,” ujarnya.

Boat nelayan Banda Aceh yang pulang beriingan dari area Pulau Tempurung itu pun menjadi tempatnya menumpang untuk pulang.

“Semua isi boat ikut tenggelam dalam ganasnya badai itu dan kerugiannya ditaksir mencapai Rp50 jutaan,” katanya lagi.

Semua perjuangannya mencari uang dengan melaut semata-mata untuk menafkahi istri serta anak-anaknya,
“Sudah lebih tiga puluh tahun saya melaut dan syukur Alhamdulillah 5 orang anak saya sudah menyelesaikan pendidikan sarjana dan yang terakhir sedang sekolah di pelayaran,” tuturnya.

Atas kejadian malang yang baru menimpanya ia berpesan kepada semua masyarakat nelayan agar tetap berhati-hati ketika melaut serta tidak ria dan sombong selama berada di laut.

Ia pun memutuskan beristirahat dulu hingga boat nya yang hilang mendapat ganti yang baru, “Saya istirahat dulu beberapa hari ke depan dan saya berharap perhatian dari pemerintah dan sudi kiranya memberikan bantuan boat untuk modal utama saya menafkahi keluarga,” harapnya.

Sementara itu dikutip dari Antara, Panglima Laot Wilayah Jaboi, Hamdan mengharapkan semua masyarakat nelayan tidak melaut seorang diri serta melihat kondisi laut jika cuaca tidak bersahabat alangkah baiknya tidak melaut demi keselamatan.

“Yang terpenting adalah memperhatikan keselataman saat melaut dan Ridwan menjadi contoh serta pelajaran bagi kita semua dan jika melaut hendaknya memberitahu kepada nelayan lainnya,” katanya.

Kepala Stasiun BMKG Kota Sabang Siswanto juga mengingatkan gelombang tinggi yang rentan terjadi sekarang ini, “Sekarang masa pancaroba dan ini akan berlangsung sampai sepekan kedepan dan sewaktu-waktu bisa terjadi angin kecang serta gelombang tinggi, petir dan hujan,” katanya. .

Advertisement