KEDIRI –Â Menjalani kehidupan bagi sebagian orang harus dilalui dengan perjuangan penuh meski hasilnya tak sebanding dengan keringat yang dikeluarkan.
Hal tersebut dialami Imam Sopingi, salah satu penempa besi di Dusun Titik Desa Cangkring, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri.
Setiap hari wajah Imam harus bercucuran keringat saat berada di depan tungku sederhana yang dibuatnya sendiri, akibat panasnya bara api yang berasal dari arang kayu jati.
Bahkan sesekali ia harus menutup mata sejenak untuk menghindari debu akibat pembakaran dari arang kayu jati itu.
Dilansir Surya, sepuluh tahun Imam menjadi seorang menempa besi. Di kampungnya, sudah dikenal sebagai pandai besi yang lihai membuat linggis pengukit batu dan palu untuk membelah batu.
Jasa pembuatan alat pemecah batu itu sangat dibutuhkan oleh warga setempat. Karena sebagian besar masyarakat di desanya bermata pencaharian sebagai pemecah batu tradisional.
Mirisnya, pekerjaan keras yang dilakukan Imam tak sebanding dengan upah yang didapat.
Untuk membuat sebuang linggis pengungkit batu, dia hanya mendapat bayaran sebesar Rp 30.000 sampai Rp 40.000.
Penghasilan kotor itu belum dipangkas dengan biaya satu kilogram arang kayu jati sekitar Rp 6.000. Setidaknya, untuk membuat linggis bisa menghabiskan tiga kilogram arang kayu jati.
Apabila ditotal biaya tiga kilogram arang sebesar Rp 18.000 dikurangi upah terkecil yakni Rp 30.000. Jumlah upah yang didapat Imam sebesar Rp 12.000.
Namun ia tidak mengeluh, menurutnya hasilnya lumayan untuk beli beras agar ia dan keluarga bisa makan.
Selain membuat linggis kakek berusia lima puluh tahunan ini juga membuat pasak besi yang dipakai untuk memecah batu berukuran super besar. Harga satu pasak berukuran sekitar 20 sentimeter itu dihargai cuma Rp 5000.
Biasanya ia mendapat order minimal membuat enam pasak. Diketahui untuk bahannya adalah ditanggung oleh konsumen.
Diusia senjanya Imam harus membanting tulang demi rupiah yang tak seberapa itu. Namun ia lebih memilih pekerjaan keras itu daripada merepotkan anak dan cucu-cucunya.




