Setiap Hari Ribuan Rohingya Berjibaku Tangkap Makanan dari Truk Bantuan

Ribuan rohingya berebut makanan setiap hari/ AFP

BANGLADESH – Sunabhan, seorang pengungsi Rohingya menceritakan jika setiap hari dia bergabung dengan ribuan pengungsi Rohingya lainnya di pinggir jalan di dekat pemukimannya di Bangladesh selatan, menunggu truk bantuan tiba dan mempersiapkan diri untuk putus asa jika tidak berhasil menangkap makanan.

Seperti kebanyakan dari hampir 400.000 pengungsi yang telah membanjiri Bangladesh dalam tiga minggu terakhir untuk menghindari kekerasan di Myanmar, dia bergantung sepenuhnya pada kerja keras dari sukarelawan lokal yang beroperasi tanpa pengawasan resmi dan sedikit koordinasi.

Hari ini Sunabhan, seorang ibu dari empat anak yang janda, berhasil melewati kerumunan pengungsi lapar di dekat kamp di Kutupalong dan mengambil sekantong serpihan nasi.

“Ada lebih banyak orang daripada makanan sehingga sangat kacau,” kata Sunabhan, kepada AFP.

“Yang kuat lari ke truk dan mereka mendapatkan makanannya lebih dulu, lebih sulit bagi wanita dan anak-anak.” tambahnya.

Setiap kali sebuah truk berhenti, para pengungsi berebut untuk mengambil paket makanan, botol air dan pakaian yang dilemparkan relawan ke kerumunan yang putus asa.

Makanan adalah tangkapan yang paling berharga, selain itu pemberi pakaian juga menarik perhatian orang banyak. Anak-anak mengambil pakaian yang mendarat di tanah yang berlumpur, mengeringkannya dan memasukkannya ke dalam kantong beras kosong.

Seorang pria Rohingya yang mengenakan lungi tradisional yang diikatkan di pinggangnya memungut celana jeans berpenampilan baru yang dihiasi manik-manik merah dan menempatkannya di atas kepalanya untuk perlindungan terhadap sinar matahari.

Mohamad Anisul Islam, seorang mahasiswa seni berusia 23 tahun di Bangladesh, adalah salah satu dari mereka yang berdiri di atas truk yang membuang bantuan.

Dia menegaskan bahwa pemerintahnya melakukan semua yang dapat dilakukan untuk para pengungsi tersebut, namun dia ingin membantu situasi yang sangat menyedihkan tersebut.

“Kondisi mereka sangat menyedihkan, tidak ada makanan, tidak ada rumah, tidak ada satupun hak asasi manusia yang terpenuhi,” katanya.

“Kami sudah memiliki populasi besar di Bangladesh dan kami ingin mereka pulang, tapi sementara mereka berada di sini kami ingin membantu.” ujarnya.

Vivian Tan, juru bicara badan pengungsi PBB, mengatakan bahwa pemerintah sekarang berusaha untuk menetapkan titik temu untuk distribusi bantuan karena kekhawatiran atas pengaturan ad-hoc saat ini.

Advertisement