SESAMA keluarga harus kompak dan setia, begitu selalu nasihat para orangtua. Ini dibuktikan oleh Setya Novanto eks Ketua DPR dan Ketum Golkar, serta Nurhadi eks Sekretaris MA. Saking kompaknya mereka, di LP Sukamiskin Bandungpun Setnov ditemani ponakannya, Irvanto. Dan Nurhadi ditemani menantunya, Rezky Herbiyono. Tapi kemarin diberitakan, sesama bekas pejabat tinggi negara, Setnov dan Nurhadi ribut, karena sebagai napi senior tak dihormati oleh Nurhadi yang pendatang baru. Meski sudah menjadi narapidana, rupanya Setnov masih bergaya pejabat saja, minta dihormati.
Sesungguhnya kehormatan seseorang bisa awet tergantung bagaimana perilakunya bagi bangsa. Terhadap Bung Karno, Pak Harto, Gus Dur; meski mereka bukan lagi presiden, rakyat masih menghormatinya. Tetapi untuk kelas Setya Novanto, orang dan rakyat hormat padanya karena menjadi Ketua DPR dua dalam satu periode. Tapi begitu dia ditangkap KPK karena jadi otak korupsi proyek e-KTP Rp 5,6 triliun, hilang sudah rasa hormat orang padanya.
Setya Novanto ini termasuk orang tak pandai bersyukur di muka bumi. Saat miskinnya dulu pernah jualan madu Sumbawa, jadi sopir Menpora Hayono Isman. Tapi berkat keahliannya melobi orang, dari bisnis merambah ke politisi. Dewi Fortuna berpihak padanya, jabatan Ketua DPR dan Ketum Golkar berhasil digenggamnya sekaligus.
Tapi dia ternyata jadi pejabat tak amanah. Ada proyek e-KTP diam-diam dia berusaha menggarongnya. Begitu ketahuan berusaha kabur-kaburan sampai ditangkap KPK dalam kondisi kepala benjol segede bakpao isi kacang ijo. Irfanto sang ponakan yang ikut bermain dalam proyek tersebut, ikut dikandangi pula. Dan kini keduanya sama-sama menghuni Lapas Sukamiskin, Bandung. Setnov kena 15 tahun dan Irfanto 10 tahun.
Ketika jabatan Ketua DPR dan Ketum Golkar hilang, disusul dia masuk tahanan KPK, sesungguhnya kehormatan untuknya sudah nihil. Orang pada mengutuknya, menyumpahinya. Gara-gara ulah dia e-KTP tidak lagi secanggih dari yang seharusnya.
Tapi Setnov menganggapnya tak begitu. Meski rumahnya sudah pindah ke Lapas Sukamiskin, masih ingin dihormati sebagaimana ketika menjadi Ketua DPR. Caranya, sengaja pelihara jenggot dan kumis, berewokan menyaingi Surya Paloh Ketum Nasdem. Dia kini di sana mengklaim sebagai napi senior, sehingga para pendatang baru harus hormat dan segan padanya.
Adalah Nurhadi eks Sekretaris MA, belakangan juga masuk LP Sukamiskin bersama menantunya Rezky Herbiyono. Mertua kena 6 tahun penjara dalam perkara makelar kasus, dan sang menantu juga kena vonis yang sama karena membantu ulah sang mertua. Ketika masih menjabat, dia sangat dihormati termasuk oleh para Hakim Agung.
Karena merasa juga pernah jadi pejabat tinggi, masuk LP Sukamiskin acuh saja ketemu Setya Novanto. Rupanya hal ini membuat Setnov tersinggung, orang baru kok tidak kulanuwun terhadapnya sebagai napi senior. Mereka pun terlibat perang dingin, jadi saling acuh, padahal ketika masih menjabat ikut mengatur negara.
Setnov-Nurhadi hanya tak tegur sapa, tapi orang-orang dekat masing-masing yang semana napi justru tersinggung, sehingga mereka sempat berantem. Beruntung segera bisa didamaikan, bahkan yang bikin onar sempat disel pula beberapa hari.
Para orangtua ketika menasihati anak-anaknya selalu mengatakan, sama saudara harus kompak dan setia. Karena kasus kejahatan, Setya Novanto dan ponakannya Irfanto, bisa tinggal bareng di LP Sukamiskin. Begitu puka Nurhadi dan menantunya, Rezky Herbiyono, juga sama-sama mendekam di LP yang sama.
Hidup di penjara dengan ditemani keluarga dekat, tentunya menjadi lebih tenang, karena ada keluarga sependeritaan. Tapi sesama saudara, mestinya berlomba-lomba dalam kebajikan. Yang terjadi pada Setnov dan Nurhadi, justru berlomba-lomba dalam kebajingan. (Cantrik Metaram)





