Sherpa, Para Penakluk Puncak Himalaya

Kami Rita (49), sherpa atau pemandu pendaki asal Nepal, berhasil menaklukkan Puncak Himalaya (8.850m) untuk ke-23 kalinya (15/5). (foto: Nepali Reporter)

NAMA para pendaki yang berhasil sampai puncak gunung tertinggi di dunia, Mount Everest atau Himalaya (8.850 meter) jauh lebih kesohor,  padahal sang penakluk sesungguhnya adalah para sherpa pemandu mereka.

Sherpa bernama Kami Rita (49), Rabu lalu (15/5) dinobatkan sebagai manusia paling tangguh di dunia atas suskes mencapai Puncak Himalaya ke-23 kali, mengungguli prestasi dua sahabatnya sesama penduduk asli Nepal yang sudah “pensiun” dengan rekor 21 kali.

Kami mengawali kariernya sebagai Sherpa sejak 1994 dan sejak itu setiap tahun hampir tidak terlewatkan baginya untuk memandu para pendaki manca negara yang berdatangan ke Nepal untuk mencoba keberuntungan menaklukkan Himalaya.

Saat diwawancarai oleh Kantor Berita Associated Press, Kami mengaku,  menjadi sherpa sebagai pemandu para pendaki Himalaya adalah profesi,  walau ia juga bangga mampu memecahkan rekor baru bagi Nepal.

Kami yang mengikuti jejak ayahnya sebagai sherpa juga telah telah menaklukkan puncak-puncak Himalaya lainnya yakni K2, Cho Oyu, Manaslu dan Lhotse dan ia mengatakan masih mampu memandu satu atau dua kali pendakian lagi.

Sherpa yang bertugas mengangkut beban peralatan pendakian,  menyiapkan tenda dan tabung oksigen,  memandu jalur yang akan  dilalui, bahkan memasak dan melayani para pendaki, berperan besar bagi keselamatan dan sukses tidaknya usaha pendakian.

Namun Kami mengakui, pengakuan bagi kerja keras dan besarnya risko yang dihadapi para sherpa tidak lah sepadan, nama mereka jarang disebut-sebut, tertelan kisah sukses para pendaki yang mereka pandu.

Selain Kami, kisah legendaris juga pernah dipublikasikan mengenai  Tenzing Norgay yang memandu mantan tentara Selandia Baru Edmund Hillary menjadi orang pertama yang berhasil menaklukkan Puncak Himalaya pada 29 Mei 1953.

Sukses Edmund Hilary mencapai Puncak Himalaya yang dipandu Norgay kemudian menginspirasi para pendaki gunung dari berbagai penjuru dunia mengikuti jejak mereka. Hilary kemudian mendapatkan anugerah gelar kebangsawanan Inggeris (Sir) atas keberhasilannya itu.

Norgay sendiri dengan rendah hati ia mempersilahkan Hilary untuk melangkah lebih dulu saat sudah tinggal beberapa langkah menjelang Puncak Himalaya.

“Menaklukkan Puncak Himalaya adalah impian Hilary, bukan impian saya. Saya hanya bertugas membantunya, “ kata Norgay polos saat diwawancarai media.

Kesetiaan pada tugas tanpa pamrih walau dengan mempertaruhkan nyawa seperti dilakukan Tenzing Norgay sebagai seorang sherpa perlu diteladani.

“Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe” suatu yang sudah langka di era now. (AP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

ada 29 Mei 1953, dua orang pendaki mencatatkan namanya sebagai manusia pertama yang berhasil menaklukan puncak tertinggi dunia, Mount Everest, yang memiliki ketinggian 29.000 kaki, atau 8.848 meter. Mereka adalah Edmund Hillary dan Tenzing Norgay.

Pasangan pendaki dari dua bangsa yang berbeda itu telah membuktikan kepada dunia bahwa kekuatan manusia dapat menghadapi rintangan alam jika dilakukan dengan tepat.

Edmund Hillary dilahirkan di Auckland, Selandia Baru, pada 20 Juli 1919. Ia adalah mantan anggota Angkatan Udara Selandia Baru selama Perang Dunia II. Pengalaman pendakiannya yang pertama terjadi ketika ia mendaki Gunung Alp di Selandia Baru.

Hillary sempat mengikuti beberapa ekspedisi ke Himalaya antara tahun 1951-1952 namun tidak mencapai puncaknya.

Sementara, Tenzing Norgay dilahirkan di Solo Khumbu, Nepal, pada Mei 1914. Ia adalah pendaki gunung profesional dari komunitas Sherpa di kaki bukit Everest. Antara tahun 1935-1952, Tenzing telah ikut dalam berbagai ekspedisi pendakian yang dilakukan oleh tim-tim dari Inggris, Prancis, dan Swiss.

Ia pernah mendaki Himalaya hingga ketinggian 8.600 meter, sehingga ia sangat bertekad untuk mencapai puncak tertinggi Himalaya. Selain itu juga Tenzing bermaksud untuk melakukan ritual kepada Dewa di tempat tertinggi yang suci bagi masyarakatnya itu.

Menurut perhitungan-perhitungan rasional, apa yang dilakukan oleh Hillary dan Tenzing bukanlah sesuatu yang besar. Kapal udara telah lama terbang melintasi puncak Himalaya dan beberapa dekade sebelumnya ratusan orang dari berbagai negara telah melakukan pendakian ke Mount Everest.

Lalu sebenarnya apa yang menjadikan pencapaian keduanya begitu penting bagi dunia?

Memang benar jika pendakian itu tidak memberikan sumbangan kemajuan ilmu pengetahuan, atau tidak menciptakan sebuah penemuan baru yang akan mengubah dunia.

Namun perlu dicatat bahwa pendakian Hillary dan Tenzing dilakukan dengan menyusuri jalur pegunungan yang sangat berbahaya, sehingga sebanyak apapun kapal udara melewati puncak Himalaya, perjuangan Hillary dan Tenzing tidak dapat disamakan. Selain itu, para pendaki yang telah melakukan ekspedisi ke Mount Everest tidak benar-benar mencapai puncak tertinggi.

Hillary dan Tenzing berangkat menuju Himalaya dalam British Everest Expedition tahun 1953, yang dipimpin oleh Kolonel John Hunt. Hillary dan Tenzing dianggap sebagai pahlawan oleh negaranya masing-masing. Mereka dianggap mewakili semangat pada masa itu, yang masih belum pulih akibat Perang Dunia II.

Setelah ekspedisi itu, Hillary dan Tenzing mendapatkan penghormatan dari seluruh dunia. Hillary dan Tenzing masih terus melakukan ekspedisi setelah prestasinya itu. Edmund Hillary sempat memimpin ekspedisi transantartika yang disponsori oleh Commonwealth of Nations. Sementara, Tenzing Norgay sempat menjadi direktur di Institut Pendaki Gunung Himalaya, yang didirikan pada 1954.

Sumber : Susanto, Ready. 20

 

Advertisement