Siklon Tropis Bakung, Simak Penjelasan dan Dampaknya di Indonesia

Siklon tropis bakung picu cuaca ekstrem di sejumlah wilayah di Indonesia. (Foto: BMKG)

Jakarta, KBKNews.id – Siklon tropis bakung saat ini ramai dibicarakan semua kalangan. Hal ini terkait dengan cuaca ekstrem yang tengah dan diprediksi akan terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia.

Perubahan cuaca ekstrem kerap menjadi perhatian publik, terutama ketika sistem atmosfer besar seperti siklon tropis mulai terbentuk di sekitar wilayah Indonesia. Salah satu yang sempat menjadi sorotan Siklon Tropis Bakung, sebuah sistem cuaca yang berkembang di Samudra Hindia dan memengaruhi kondisi cuaca di sejumlah wilayah Tanah Air.

Meski tidak menghantam daratan secara langsung, Siklon Tropis Bakung tetap membawa dampak tidak langsung yang patut diwaspadai. Lalu, apa sebenarnya Siklon Tropis Bakung, bagaimana proses terbentuknya, dan wilayah mana saja yang terdampak?

Apa Itu Siklon Tropis Bakung?

Siklon Tropis Bakung merupakan sistem badai besar yang terbentuk dari kumpulan awan hujan intens di atas perairan hangat Samudra Hindia. Sistem ini ditandai dengan pusat tekanan udara rendah yang dikelilingi oleh angin kencang yang berputar.

Awalnya, sistem ini terpantau sebagai Bibit Siklon 91S di Samudra Hindia barat daya Lampung. Seiring penguatan struktur dan kecepatan angin, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kemudian menetapkannya sebagai Siklon Tropis Bakung pada Jumat malam, 12 Desember, sekitar pukul 19.00 WIB.

Pada fase awal pembentukannya, Siklon Tropis Bakung memiliki kecepatan angin maksimum sekitar 35 knot atau 65 km per jam, dengan tekanan udara di pusat sistem mencapai 1000 hPa.

Terbentuk di Mana dan ke Arah Mana Bergerak?

Siklon Tropis Bakung terbentuk di Samudra Hindia, tepatnya di wilayah barat daya Lampung. Berdasarkan pemantauan BMKG, siklon ini bergerak ke arah barat daya, menjauhi wilayah Indonesia.

Pergerakan yang menjauh ini membuat Siklon Tropis Bakung tidak menghantam daratan Indonesia secara langsung. Namun, dinamika atmosfer yang ditimbulkannya tetap memengaruhi pola cuaca regional, terutama di wilayah barat dan selatan Indonesia.

Mengapa Dinamai Siklon Tropis Bakung?

Penamaan Bakung mengikuti sistem penamaan siklon tropis regional yang digunakan oleh pusat peringatan siklon di kawasan Samudra Hindia. Sebuah bibit siklon akan diberi nama resmi ketika telah memenuhi kriteria tertentu, seperti:

  • Kecepatan angin minimum yang konsisten
  • Terbentuknya sirkulasi tertutup
  • Pola awan konvektif yang terorganisasi

Nama tersebut digunakan untuk memudahkan identifikasi, komunikasi, dan peringatan dini kepada masyarakat.

Dampak Tidak Langsung bagi Indonesia

Walaupun bergerak menjauh dari Indonesia, Siklon Tropis Bakung tetap berpotensi menimbulkan dampak tidak langsung. BMKG mencatat pengaruh siklon ini dapat dirasakan dalam bentuk cuaca ekstrem di sejumlah wilayah.

Beberapa dampak yang perlu diwaspadai antara lain:

Hujan Sedang hingga Lebat

  • Bengkulu
  • Lampung
  • Banten

Angin Kencang

  • Bengkulu

Gelombang Laut Tinggi (1,25–2,5 meter)

  • Samudra Hindia barat Bengkulu dan Lampung
  • Samudra Hindia barat Kepulauan Nias
  • Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai
  • Samudra Hindia selatan Banten hingga Jawa Barat
  • Selat Sunda bagian selatan

Kondisi gelombang tinggi ini berisiko bagi aktivitas pelayaran dan nelayan, terutama di perairan terbuka yang langsung berhadapan dengan Samudra Hindia.

Potensi Penguatan Siklon Tropis Bakung

BMKG memprediksi dalam kurun 24 jam, Siklon Tropis Bakung berpotensi menguat. Kecepatan angin maksimum diperkirakan bisa mencapai 55 knot atau sekitar 100 km per jam, dengan tekanan udara turun hingga 988 hPa.

Jika skenario ini terjadi, Bakung akan masuk dalam kategori siklon tropis tingkat dua, yang memiliki pengaruh atmosfer lebih luas meski pusat siklonnya berada jauh dari daratan.

Bibit Siklon Lain yang Juga Dipantau BMKG

Selain Siklon Tropis Bakung, BMKG juga memantau Bibit Siklon 93S yang berada di selatan Bali dan Nusa Tenggara. Meskipun peluangnya untuk berkembang menjadi siklon tropis masih tergolong rendah, sistem ini tetap berpotensi memicu cuaca buruk.

Wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan antara lain:

  • Jawa Tengah
  • Daerah Istimewa Yogyakarta
  • Jawa Timur
  • Bali
  • Nusa Tenggara Barat

Dampaknya dapat berupa hujan lebat, angin kencang, serta gelombang tinggi di perairan selatan Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.

Imbauan BMKG kepada Masyarakat

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada namun tidak panik. Beberapa langkah antisipasi yang dianjurkan antara lain:

  • Mengurangi aktivitas di luar ruangan saat cuaca buruk
  • Membersihkan saluran air untuk mencegah banjir
  • Mengamankan barang-barang yang mudah terbawa angin
  • Menunda aktivitas melaut bagi nelayan jika gelombang tinggi
  • Masyarakat juga disarankan untuk selalu memantau informasi resmi melalui kanal BMKG, seperti situs web, media sosial, aplikasi InfoBMKG, dan layanan call center.

Pemantauan Berkelanjutan untuk Peringatan Dini

BMKG menegaskan perkembangan Siklon Tropis Bakung terus dipantau secara real-time melalui Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta. Informasi terbaru akan disampaikan apabila terjadi perubahan signifikan pada intensitas maupun arah pergerakan siklon.

Prinsip peringatan dini ini diharapkan dapat mendorong langkah antisipatif sejak awal,BM   sehingga risiko bencana akibat cuaca ekstrem dapat ditekan seminimal mungkin.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here