SINTA BOYONG

Prabu Rama kaget, baru 5 tahun menjadi raja Ayodaa Plt, Barata kurus kering karena katanya banyak didemo.

PERANG Ngalengka – Pancawati telah usai, dengan kekalahan telak di kubu Ngalengka. Semua petinggi negeri itu tewas, tinggal punakawan Togog – Bilung doang. Jangankan para punggawa kerajaan, Patih Prahasto, Kumbokarno, Sarpakenaka, para putra Prabu Dasamuka juga tumpes kelor (mati semua). Prabu Dasamuka sendiri mati mengenaskan di episode terakhir, setelah panah Guwawijaya Prabu Rama menghantam dadanya. Tragis memang, gara-gara urusan selangkangan, negara Ngalengkadiraja hancur. Maka catatan khusus bagi Bupati Garut Aceng Fikri, daripada rakyat jadi korban mending mundur dari sekarang saja.

Satu-satunya dinasti Ngalengka yang masih hidup tinggalah Gunawan Wibisono, yang selama perang Brubuh Ngalengka membelot kepada Prabu Rama. Kini dialah menjadi raja Ngalengka Baru. Dengan aset negara yang nol rupiah, dia harus membangun kembali negerinya yang sudah kadung ancur-ancuran. Nggak tahulah, apakah Bank Dunia mau memberikan suntikan dana segar untuk membangkitkan ekonomi Ngalengka.

“Dimas Wibisono, terima kasih atas bantuanmu selama ini. Selamat bekerja, membangun Ngalengka Baru, sehingga bebas dari kampret-kampret negara.” Kata Prabu Rama sebagai pamitan, untuk kembali ke negri Ayodya.

“Terima kasih juga. Sebagai raja baru, saya selalu akan minta petunjuk Bapak Rama, dan semoga Bapak Rama selalu berkenan memberi petunjuk….,” jawab Gunawan Wibisono sambil cium tangan.

Prabu Rama beserta sang istri Dewi Sinta bersiap-siap hendak kembali ke Pancawati. Setelah istri kembali ke pangkuannya, –dan sudah dipangku-pangku pula– jadwal kegiatan Prabu Rama menjadi tambah padat. Beberapa hari lalu prosesi “Sinta Obong” berjalan dengan lancar, dan ternyata sang istri memang masih suci hama, dalam kondisi buntelan plastik. Ramawijaya – Sinta serasa pengantin baru kembali.

Acara berikutnya adalah menyerahkan negeri Pancawati kepada Patih Sugriwa, di mana selanjutnya dia akan ditabalkan sebagai raja Pancawati secara definitip. Ada juga yang coba-coba jadi tukang kompor, menghembuskan isyu bahwa yang berhak jadi Pancawati adalah keturunan Resi Subali almarhum, Anggada. Tapi Anggada lewar konprensi pers menegaskan, tak berminat jadi raja Pancawati.

“Pakai gladi resik nggak ini, Sinuwun?” Patih Sugriwo bertanya.

“Nggak usahlah, harus hemat anggaran. Potret-potret juga seperlunya, nggak usah panggil TV, kecuali dia mau meliput sendiri. Sebisa mungkin kamu sedikit Njokowi lah,” nasihat Prabu Rama.

Berita Patih Sugriwa naik pangkat jadi raja Pancawati, ramai diperbincangkan banyak kalangan. Spekulasi baru muncul, siapa yang bakal jadi patihnya? Tokoh-tokoh kethek (kera) yang banyak “berkeringat” dalam perjuangan merebut Sinta ke Ngalengka, jelas paling punya kans besar. Ada Anoman, Anggada dan Anila.

Tapi kata pengamat politik Yunarto Wijaya, tak mungkinlah Prabu Sugriwa ber-KKN mengangkat ponakan sendiri. Sosok yang memungkinkan tinggalah Anila. Tapi itu juga takkan mulus. Masak tokoh pendek gemuk begitu jadi patih, sedangkan Pancawati kini sedang menggalakkan program diet perwira gendut.

“Perwira gendut segala diurusin, mbok kalau berani tuh rekening gendut para perwira kethek,” gerutu para prajurit kera.

“Oo, itu soal sensitif, jangan diungkit-ungkit. Patih Sugriwa saja nggak berani, menang tebal kumis doang!” sindir prajurit kera berpangkat peltu.

Demikianlah, Prabu Rama  telah menyerahkan tampuk kepemimpinan Pancawati pada Patih Sugriwa yang selanjutnya diangkat jadi raja dengan gelar Kanjeng Sinuwun Prabu Sugriwa Sayidin Panata Pragosa. Siapa yang bakal menjadi patih, mantan Prabu Rama tak mau intervensi, karena itu menjadi hak prerogratif rakyat Pancawati. Cuma kalau bisa menyarankan, pilihlah patih dari kalangan birokrasi, jangan ambil dari pengusaha. Bisa terjadi konflik kepentingan, nantinya.

Sore itu mantan Prabu Rama sudah meninggalkan bandara Pancawati bersama Dewi Sinta. Boyongan ke Ayodya. Ada kelambatan penerbangan 3 jam dari jadwal, sehingga suami istri ini dapat uang kompensasi Rp 600.000,- Lumayan, buat beli oleh-oleh keluarga di Ayodya. Ah, tanpa terasa dia sudah lima tahun meninggalkan negri sekaligus bumi kelahirannya. Tentunya Ayodya kini jauh lebih maju. Kabarnya malah mau bangun KA Cepat Ayodya Ngalengka, hanya masih banyak terjadi pro-kontra lantaran dananya berupa utangan dan investor pemberi utang malah dari RRT termasuk tenaga kasarnya.

“Selamat datang kangmas Ramawijaya dan mbakyu….,” sambut Prabu Barata di tangga pesawat Bandara Destarata.

“Baru 5 tahun jadi raja kok kurus kering, Dimas?” sindir Ramawijaya.

“Maklum, didemo melulu. Buruh minta naik upah, tapi pengusaha nggak mau untung sedikit.”

Prabu Rama dan Dewi Sinta sepanjang jalan bandara ke ibukota negara dielu-elukan rakyat Ayodya. Dialah pemimpin yang ditunggu-tunggu selama ini, karena memang hanya Ramawijayalah pewaris tahta negeri yang sebenarnya.

Adapun Prabu Barata penguasa sekarang, adalah sekedar pejabat caretaker. Rakyat yang kurang puas atas legitimasi pemimpinnya, hanya dihibur dengan sepasang terompah (sepatu) Raden Ramawijaya sebagai simbol pemerintahan dirinya. Maka dengan kembalinya sang Ramawijaya ke Ayodya, otomatis Prabu Barata harus meletakkan jabatan alias undur diri.

“Jadi minggu depan kakanda bukan raja Ayodya lagi, Mas?” ujar istri Prabu Barata.

“Itu jelas, karena tuntutan konstitusi. Namun demikian aku bangga, lantaran mundur bukan karena terlibat kasus Proyek Bakamla.” Jawab Prabu Barata sambil memelintir kumisnya.

Bakal suksesi pemerintahan di Ayoda jadi topik pemberitaan media massa. Mereka berharap Prabu Rama yang lebih legitimid bisa membawa negri tinggalan Prabu Dasarata itu menjadi lebih maju dan makmur. Cuma kalangan birokrat mental kampret yang ketar-ketir. Melihat track record Prabu Rama saat memimpin Pancawati, bakalan kering nih naga-naganya di Ayodya. Semua anggaran bakal dipangkas 25 %, lalu kepala-kepala dinas suruh makan apa?

Begitulah, hari prosesi suksesi pemerintahan dari Prabu Barata kepada Prabu Rawa berlangsung pagi itu di istana. Secara simbolis Prabu Barata menyerahkan nampan berisi terompah sepasang kepada Prabu Ramawijaya selaku penguasa baru. Mereka lalu salaman dan cipika-cipiki.

“Lho Mas, terompahnya kok jadi sepatu Bata?” komentar Dewi Sinta setelah prosesi.

“Nggak apa-apa. Monumen aslinya dicolong pemulung..” Jawab Prabu Ramawijaya. (Ki Guna Watoncarita)

****

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement