Sorotan MSCI Tekan Pasar Saham Indonesia, Investor Global Mulai Bersikap Hati-Hati

Pasar saham Indonesia kembali berada di bawah tekanan setelah lembaga keuangan global Nomura Holdings Inc. menurunkan pandangan investasinya. (Foto: law.asia)

Jakarta, KBKNews.id – Pasar saham Indonesia kembali berada di bawah tekanan setelah lembaga keuangan global Nomura Holdings Inc. menurunkan pandangan investasinya. Langkah ini menyusul keputusan serupa dari Goldman Sachs Group Inc. dan UBS, di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai kelayakan investasi pasar modal domestik pasca peringatan dari MSCI Inc.

Dalam laporan riset terbarunya, Nomura menurunkan rekomendasi saham Indonesia dari overweight menjadi netral. Penyesuaian ini didorong oleh meningkatnya risiko investability. Terutama potensi keluarnya dana pasif apabila posisi Indonesia dalam indeks global kembali dievaluasi.

“Peringatan MSCI terkait kemungkinan penurunan status Indonesia ke frontier market menjadi kejutan, baik bagi kami maupun pelaku pasar,” tulis analis strategi Nomura, Chetan Seth, seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (3/2/2026).

Risiko Dana Pasif Jadi Perhatian Utama

Nomura menjelaskan, pandangan positif mereka sebelumnya terhadap saham Indonesia didasarkan pada sejumlah faktor. Mulai dari valuasi yang relatif menarik, harapan stabilisasi ekonomi, prospek perbaikan laba perusahaan, hingga ekspektasi pasar yang cenderung rendah setelah periode kinerja yang tertinggal.

Namun, potensi arus keluar dana pasif akibat perubahan status indeks dinilai sebagai risiko baru yang signifikan. Faktor tersebut membuat prospek jangka pendek pasar saham Indonesia menjadi lebih menantang, meski fundamental jangka menengah masih dinilai memiliki daya tarik.

IHSG Tertekan, Aksi Jual Dominasi Perdagangan

Tekanan sentimen global langsung tercermin di pasar domestik. Pada perdagangan Senin (2/2), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hingga 5,31% pada penutupan sesi pertama. Pelemahan dipimpin oleh saham-saham sektor pertambangan dan energi.

Penurunan ini menjadi yang terdalam di antara bursa saham utama Asia, seiring meningkatnya sikap risk-off investor kawasan. Anjloknya harga logam global serta penguatan dolar Amerika Serikat turut memperberat tekanan terhadap aset berisiko, termasuk saham Indonesia.

Situasi tersebut mempersempit ruang gerak Indonesia yang saat ini tengah berupaya mempertahankan statusnya sebagai pasar berkembang (emerging market) di indeks MSCI. Dalam tinjauan terbarunya, MSCI menyoroti isu struktural pasar, khususnya rendahnya tingkat free float saham.

Respons Regulator dan Upaya Stabilisasi

Menghadapi tekanan tersebut, regulator pasar keuangan Indonesia menyiapkan sejumlah langkah reformasi. Salah satunya dengan mengarahkan sovereign wealth fund Danantara untuk menopang pasar melalui pembelian saham.

Selain itu, otoritas juga mengkaji rencana peningkatan batas minimum free float saham menjadi 15%, hampir dua kali lipat dari ketentuan sebelumnya. Kebijakan ini diharapkan dapat memperbaiki likuiditas dan meningkatkan daya tarik pasar bagi investor global.

Langkah-langkah tersebut sempat membantu meredakan tekanan. Tercermin dari pemulihan IHSG pada perdagangan akhir pekan lalu. Meski demikian, pelaku pasar menilai sentimen masih rapuh.

Ketidakpastian Reformasi Masih Membayangi

Manajer dana Allspring Global Investments, Gary Tan, menilai tren pelemahan harga komoditas yang berkepanjangan berpotensi membuat regulator lebih fokus pada stabilitas jangka pendek. Menurutnya, pendekatan yang terlalu defensif dapat memperlambat laju reformasi struktural. Padahal, itu justru dibutuhkan untuk memperkuat daya saing pasar Indonesia dalam jangka panjang.

Pandangan Nomura menambah daftar lembaga keuangan global yang memangkas rekomendasi terhadap saham Indonesia. Sebelumnya, UBS telah menurunkan peringkat menjadi netral. Sementara Goldman Sachs lebih dulu merevisi rekomendasinya ke underweight.

Goldman Sachs bahkan memperingatkan dalam skenario terburuk. Jika Indonesia direklasifikasi dari emerging market menjadi frontier market, dana pasif yang mengikuti indeks MSCI berpotensi keluar hingga 7,8 miliar USD.

Selain MSCI, risiko serupa juga dapat muncul apabila FTSE Russell meninjau ulang metodologi free float pasar saham Indonesia.

Fase Penentuan bagi Pasar Modal Indonesia

Tekanan berlapis dari sentimen global, risiko indeks, dan dinamika komoditas menempatkan pasar saham Indonesia pada fase krusial. Dalam beberapa bulan ke depan, efektivitas reformasi regulator, konsistensi kebijakan, serta kepastian arah pasar akan menjadi faktor utama yang menentukan kepercayaan investor global terhadap Indonesia.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here