JAKARTA – Banyak orang bertanya-tanya mengapa obat sirup baru bermasalah sekarang hingga menyebabkan ratusan anak meninggal, padahal obat sirup sudah ada sejak lama.
Menjawap pertanyaan tersebut, Panel ahli Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Dicky Budiman menilai pemerintah wajib melihat keterkaitan laporan tersebut dengan pandemi COVID.
Pasalnya, kasus gagal ginjal akut misterius terdeteksi sejak awal Januari 2022, tahun ketiga pandemi.
“Ini informasi kasusnya di Januari 2022, maka artinya ini, adalah satu produk yang dikeluarkan di era pandemi, produk obat yang dikeluarkan di era pandemi kita harus telusuri kenapa bisa menurun pengawasan mutu di era pandemi?” beber Dicky, dilansir detikcom, Kamis (20/10/2022).
“Apakah karena kebutuhan obatnya begitu banyak sehingga lolos, atau terjadi penurunan mutu yang ada potensi misalnya dugaan memanfaatkan situasi, misalnya ya, ini kan beberapa dugaan yang harus diklarifikasi,” lanjut epidemiolog Universitas Griffith Australia tersebut.
Ia juga menyoroti kemungkinan konsumsi obat yang naik di tengah risiko infeksi virus termasuk COVID, membuat banyak orang tua memberikan penggunaan sirup lebih sering dari biasanya.
“Ini analisa sementara saya, artinya karena ini kejadiannya begitu merebak, cepat, dalam masa tahun ketiga pandemi, tentu kita harus melihat keterkaitan juga dengan pandemi baik langsung maupun tidak langsung,” lanjutnya.
“Misalnya kaitan dengan infeksi, jelas kalau misalnya infeksi, batuk pilek butuh obat batuk, berarti kebutuhan meningkat, atau juga ada infeksi itu sendiri yang ikut memperburuk ginjal dari si penderita. Ditambah lagi adanya konsumsi obat yang sudah ada cemaran tadi, jadi ini semakin memperburuk situasi,” pungkas dia.





