Sudan Bergolak

Sudan dilanda unjurasa rakyat yang digelar di 13 dari 18 provinsi negeri itu sejak 20 Desember lalu. Semula protes melambungnya harga roti, kemudian bergeser untuk menggulingkan Prsiden Omar al-Bashir yang suah berkuasa sejak 1989.

MUSIM semi Arab – gejolak politik serempak yang melanda belasan negara di Timur Tengah Desember 2010 – agaknya terulang kembali dan sedang dihadapi oleh rezim pemerintah Presiden Omar al-Bashir yang berkuasa sejak 1989.

Saat musim semi Arab pada penghujung 2010, gejolak politik dalam negeri yang dihadapi oleh Omar al-Bashir berhasil diatasinya pada Januari 2011, sehingga ia masih bisa melanggengkan kekuasaannya sampai hari ini.

Hanya saja, al-Bashir saat itu tidak mampu melawan gerakan separatis di negeri berpenduduk 37 juta jiwa itu sehingga lahir negara baru, Republik Sudan Selatan beribukota di Juba di bawah Presiden Salva Kiir yang merdeka pada 14 Juli 2011.

Gelombang aksi unjukrasa yang sudah berlangsung sepekan di ibukota Sudan berpenduduk 1,9 juta jiwa masih terus berlangsung hingga hari ini, bahkan sudah merambah ke 13 dari seluruhnya 18 provinsi di negeri itu.

Semula demo-demo mengusung himpitan kesulitan ekonomi terutama melambungnya harga roti yang menjadi makanan pokok rakyat, namun kemudian temanya bergeser menjadi upaya untuk menggulingkan rezim al-Bashir yang sudah memimpin negeri miskin itu 29 tahun lamanya.

Dengan mengusung yel-yel dan teriakan menuntut al-Bashir lengser,aksi-aksi unjukrasa bahkan sudah mendekati istana kepresidenan di Khartum. Versi pemerintah menyebutkan, delapan pengunjukrasa tewas, sedangkan Human Right Watch mencatat, setidaknya 37 korban tewas dan ratusan luka-luka.

Al-Bashir sendiri menuduh, aksi-aksi unjukrasa didalangi oleh para penghianat negeri itu dan oleh orang-orang bayaran.

Sejumlah pengamat menganalisis, ada sejumlah skenario untuk mencarikan solusi gejolak politik di Sudan, antara lain pengunduran diri sukarela Bashir, digantikan oleh jenderal-jenderal yang loyal padanya, sehingga kepentingannya tetap terlindungi dan ia lolos dari tuntutan hukum.

Skenario Terburuk
Skenario lainnya, Partai Kongres Nasional (NCP) pimpinan al-Bashir yang berkuasa saat ini membelot dan memintanya untuk lengser atau mengancam untuk tidak lagi mendukungnya pada Pemilu 2019.

Bisa juga muncul skenario terjadi transaksi politik antara Bashir dan kelompok oposisi, khususnya Partai Nasional Umma (NUP) dengan bersama-sama membentuk pemerintahan persatuan nasional untuk meredam tunutan rakyat.

Skenario terburuk ialah jika massa berhasil menjatuhkan rezim Bashir sepeti yang terjadi di Libya, Mesir, Tunisia dan Yaman, karena jika ini terjadi, dikhawatirkan akan pecah perang saudara berlarut-larut seperti terjadi di Libya dan Yaman.

Dalam peristiwa di Libya, orang kuat Muammar Khadafi berhasil disingkirkan dan dibunuh, sementara milisi Houthi yang de-facto berkuasa di Yaman harus berhadapan dengan Presiden terguling Abdurrabuh Mansour Hadi yang didukung Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Masuknya campur tangan asing, yakni Amerika Serikat yang mendukung kelompok anti Bashir dan Rusia yang ada di belakangnya juga merupakan salah satu skenario terburuk yang bisa mencabik-cabik negeri itu dalam perang saudara.

Bashir sendiri agaknya menginginkan dukungan dari rezim Suriah di bawah Presiden Bashar al-Assad, tampak dari kunjungannya ke Damaskus 16 Desember lalu sepulang dari Rusia. Bashir agaknya akan memanfaatkan poros Rusia dan Suriah untuk mempertahankan kekuasaannya.

Waktu akan membuktikan, skenario mana yang akan terjadi di negeri itu. (AP/AFP/Reuters/ns)

Advertisement